acehtraffic.com - Beberapa waktu yang lalu pada hari Minggu 22 Februari 2015 redaksi kami menerima message dari salah seorang mahasiswa Australia yang mengenyam pendidikan di Indonesia. Isi pesan itu adalah berupa permohonan untuk mempublikasikan sebuah surat yang ditujukan untuk gubernur Aceh. Isi surat tersebut berisi tentang rasa ketersinggungan dan kemarahan saya terhadap Pemerintah Aceh dan rakyat Aceh yang merendahkan dan menyepelekan bantuan Australia dengan perlakuan seperti melempar koin.
Berikut isi surat dari mahasiswa Australia itu.
Kepada yang terhormat Gubernur Provinsi Aceh
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama saya Michael York dan saya seorang warga Australia yang sedang berkuliah di Yogyakarta, Indonesia. Saya ingin menyampaikan rasa ketersinggungan dan kemarahan saya terhadap Pemerintah Aceh dan rakyat Aceh yang merendahkan dan menyepelekan bantuan Australia yang diberikan dengan ikhlas kepada masyarakat Aceh pada masa yang sangat buruk pada tahun 2004.
Rakyat Australia, para pembayar pajak di Australia menyumbangkan satu miliar dolar untuk menyelamatkan nyawa orang Aceh yang terkena tsunami, mencari orang yang hilang dan mengembalikan mereka kepada keluarganya, mengobati yang sakit dan membantu yang cacat. Uang itu menyajikan makan bagi yang lapar, menyediakan tampat tinggal untuk yang tunawisma, memberikan layanan kewanitaan untuk yang hamil dan mengulurkan tangan bagi siapapun yang tidak lagi mampu menghidupi keluarganya. Semua hal yang sangat berharga. Di pihak lain, recehan yang anda kumpulkan, tidak bernilai apa-apa. Hal yang dilakukan menggambarkan bahwa masyarakat Aceh tidak menghargai apa yang disumbangkan oleh rakyat Australia. Bahkan itu menghina dan melecehkan rakyat Australia dan menghina harga hidup dan harga mati masyarakat Aceh. Pasti ada orang Aceh yang turut menghina Australia, walaupun mereka hanya selamat pada 2004 karena bantuan dari Australia, bantuan yang sekarang mereka sepelekan. Sebenarnya bantuan itu tidak dapat dikembalikan. Nyawa manusia, termasuk orang yang diselamatkan dengan bantuan Australia tidak bisa diukur atau dijumlahkan dengan uang
Setelah bencana yang teramat menyedihkan berlalu, dan kerusakan dapat dilihat dengan jelas, rakyat Australia berdiri bahu-membahu dengan rakyat Aceh untuk menghilangkan puing-puing dan runtuhan yang diakibatkan oleh bencana ini. Setelah itu kita bekerjasama untuk membangun kembali jalan yang telah rusak, membangun sekolah dan fasilitas umum lainnya, membantu memghidupkan kembali ekonomi Aceh yang pada saat itu dilumpuhkan mutlak oleh alam. Saya ingat, setelah Natal 2004, ada tempat di Australia, kebanyakan di mal, untuk menyumbangkan hadiah-hadiah Natal. Semua barang yang disumbangkan kepada rakyat Aceh yang telah kehilangan semua. Walaupun masyarakat Aceh tidak merayakan Natal, kami ikut berduka dengan mereka dalam situasi yang tak terbayangkan. Dalam kebahagiaan kami, kami merasakan kesedihan orang Aceh, karena kita saudara sesama manusia.
Pada saat ini, ekonomi Aceh lebih kuat dan rakyatnya lebih sejahtera, tetapi jangan lupa Australia membantu untuk memdorong kemajuan ini. Aceh mulai mencapai kesejahteraan karena apa diberikan oleh masyarakat internasional, termasuk rakyat Australia, sebelum 2004, pada 2004, dan sejak 2004. Uang yang disumbungkan tidak jatuh dari langit, tetapi direlakan dengan baik hati oleh orang yang bekerja keras. Jika uang itu tidak disambut dengan baik hati, itu bisa diberkan kepada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan.
Saya merasa sangat tersinggung, terhina dan diremehkan ketika orang melemparkan uang recehan kepada saya, atau membuat sindiran dan ejekan lainnya. Perlu dicetat bahwa tidak satu pun mahasiswa atau orang Indonesia di Australia dihina, diserang atau diejek di Australia terkait dengan isu hukuman mati ini. Menurut laporan dari mahasiswa Indonesia di Australia, mereka tidak diganggu sama sekali. Seharusnya perilaku yang baik itu dibalas kepada orang Australia di Indonesia.
Perdana Menteri Abbott tidak pernah membuat ancaman terhadap Indonesia terkait dengan bantuan yang diberikan pada masa tsunami. Perdana Menteri menyoroti bahwa Australia dan Indonesia bekerjasama dengan hal kemanusiaan. Kami menyelematkan banyak nyawa Indonesia pada tahun 2004, sebelum 2004, dan sesudah 2004. Seharusnya Indonesia membalas budi. Juga, Menlu Bishop tidak mendorong orang Australia untuk memboikot Bali, tetapi mengatakan bahwa orang Australia berhak untuk memilih, dan lebih banyak parawisata akan memilih tempat selain Bali, atau Indonesia untuk berlibur. Hukuman mati ini akan menodai Bali untuk orang Australia dan mengganggu suasana damai di sana.
Kedua orang Australia yang akan dihukum mati sudah meminta maaf dengan sungguh, sudah bertobat, dan sekarang membantu tahanan lainnya untuk menjadi orang yang lebih baik. Kedua orang Australia yang akan dihukum mati telah mendirikan sebuah sekolah dalam penjara untuk mendidik tahanan Indonesia supaya mereka bisa berkontribusi kepada masyarakat Indonesia setelah masa penjara berakhir. Mereka mengajar bahasa Inggris, ilmu komputer, ilmu agama dan ilmu kesenian. Kelas ini tidak akan dijalankan jika Andrew dan Muyran di hukum mati sehingga tahanan lainnya tidak akan disekolahkan. Kedua laki-laki ini juga menyelesaikan sarjana dalam penjara, ilmu yang mereka berikan kepada teman lainnya. Mereka juga mengumpulkan uang (bukan recehan sebagai ejekan) untuk mengobati temannya di penjara. Mereka membanggakan Australia. Mereka membuktikan bahwa orang yang pernah berbuat jahat dapat bertobat, dan kembali ke jalan yang baik dan benar-benar berkontribusi kepada masyarakat. Agama Islam yang sebenarnya mengajar kita untuk mengampuni orang sedemikian. Memberikan pengampunan untuk menjalani hidup yang taat dengan hukum adalah jauh lebih baik daripada belas dendam, mengejek dan menghina dengan kematian yang mengerikan dan bertujuan mencabut harga diri dan martabat manusia melalui regu tembak, seperti binatang buruan. Australia hanya meminta hak mereka untuk hidup dipenuhi oleh Pemerintah Indonesia supaya mereka bisa terus berbaikan dengan Indonesia dan memberikan kebaikan bagi teman-temannya dalam penjara. Pelaksanaan hukuman mati ini tidak akan membuat Indonesia lebih adil, tegas, baik atau bebas dari kejahatan. Sekjen PBB meminta eksikusi ini dibatalkan dan Pemerintah Brasilia telah kehilangan rasa hormat untuk Indonesia. Masyarakat tahanan di Kerobokan akan menjadi yang paling dirugikan.
Kembali ke masalah “Koin untuk Australia”, rakyat Aceh melanggar ajaran agama Islam, agama mereka sendiri. Islam mengajar para penganut untuk berendah hati, berterima kasih, dan menghormati orang lain, khususnya yang berbaik hati kepada sesama. Mungkin pelanggaran terhadap ajaran Islam ini perlu diperiksa oleh polisi agama di Aceh. Seharusnya masyarakat Aceh meminta maaf kepada rakyat Australia untuk penghinaan ini yang susah dimaafkan. Orang Indonesia bereputasi sebagai orang yang ramah dan baik hati, tetapi perbuatan orang di Aceh bertolak belakang dengan reputasi tersebut. Saya sudah tinggal di Indonesia selama dua tahun dan saya belum pernah merasa seburuk ini terhadap Indonesia, dan rakyatnya. Jika saya tidak di sini untuk berkuliah, saya pasti akan pulang, dan tidak akan kembali lagi. Pada masa terjadinya penyadapan terhadap Indonesia, rakyat Indonesia protes terhadap Pemerintah Australia melalui Kedutaan Besar, dan tidak menyinggung rakyat Australia yang sebenarnya tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, atau dikatakan oleh pemerintah. Pada saat ini, rakyat Aceh menyinggung rakyat Australia langsung dengan cara yang tidak dapat diterima.
Pada masa tsunami di Jepang, orang Jepang memberikan burung kertas kepada rakyat Australia sebagai tanda terima kasih, sopan santun, dan rasa persahabatan yang terus berkembang antara kedua rakyat. Saya harap rasa persahabatan dapat dikembalikan dalam hubungan antara rakyat Indonesia dan rakyat Australia.
Atas perhatian Anda, saya mengucapkan terima kasih
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Michael York
Berikut isi surat dari mahasiswa Australia itu.
Kepada yang terhormat Gubernur Provinsi Aceh
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama saya Michael York dan saya seorang warga Australia yang sedang berkuliah di Yogyakarta, Indonesia. Saya ingin menyampaikan rasa ketersinggungan dan kemarahan saya terhadap Pemerintah Aceh dan rakyat Aceh yang merendahkan dan menyepelekan bantuan Australia yang diberikan dengan ikhlas kepada masyarakat Aceh pada masa yang sangat buruk pada tahun 2004.
Rakyat Australia, para pembayar pajak di Australia menyumbangkan satu miliar dolar untuk menyelamatkan nyawa orang Aceh yang terkena tsunami, mencari orang yang hilang dan mengembalikan mereka kepada keluarganya, mengobati yang sakit dan membantu yang cacat. Uang itu menyajikan makan bagi yang lapar, menyediakan tampat tinggal untuk yang tunawisma, memberikan layanan kewanitaan untuk yang hamil dan mengulurkan tangan bagi siapapun yang tidak lagi mampu menghidupi keluarganya. Semua hal yang sangat berharga. Di pihak lain, recehan yang anda kumpulkan, tidak bernilai apa-apa. Hal yang dilakukan menggambarkan bahwa masyarakat Aceh tidak menghargai apa yang disumbangkan oleh rakyat Australia. Bahkan itu menghina dan melecehkan rakyat Australia dan menghina harga hidup dan harga mati masyarakat Aceh. Pasti ada orang Aceh yang turut menghina Australia, walaupun mereka hanya selamat pada 2004 karena bantuan dari Australia, bantuan yang sekarang mereka sepelekan. Sebenarnya bantuan itu tidak dapat dikembalikan. Nyawa manusia, termasuk orang yang diselamatkan dengan bantuan Australia tidak bisa diukur atau dijumlahkan dengan uang
Setelah bencana yang teramat menyedihkan berlalu, dan kerusakan dapat dilihat dengan jelas, rakyat Australia berdiri bahu-membahu dengan rakyat Aceh untuk menghilangkan puing-puing dan runtuhan yang diakibatkan oleh bencana ini. Setelah itu kita bekerjasama untuk membangun kembali jalan yang telah rusak, membangun sekolah dan fasilitas umum lainnya, membantu memghidupkan kembali ekonomi Aceh yang pada saat itu dilumpuhkan mutlak oleh alam. Saya ingat, setelah Natal 2004, ada tempat di Australia, kebanyakan di mal, untuk menyumbangkan hadiah-hadiah Natal. Semua barang yang disumbangkan kepada rakyat Aceh yang telah kehilangan semua. Walaupun masyarakat Aceh tidak merayakan Natal, kami ikut berduka dengan mereka dalam situasi yang tak terbayangkan. Dalam kebahagiaan kami, kami merasakan kesedihan orang Aceh, karena kita saudara sesama manusia.
Pada saat ini, ekonomi Aceh lebih kuat dan rakyatnya lebih sejahtera, tetapi jangan lupa Australia membantu untuk memdorong kemajuan ini. Aceh mulai mencapai kesejahteraan karena apa diberikan oleh masyarakat internasional, termasuk rakyat Australia, sebelum 2004, pada 2004, dan sejak 2004. Uang yang disumbungkan tidak jatuh dari langit, tetapi direlakan dengan baik hati oleh orang yang bekerja keras. Jika uang itu tidak disambut dengan baik hati, itu bisa diberkan kepada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan.
Saya merasa sangat tersinggung, terhina dan diremehkan ketika orang melemparkan uang recehan kepada saya, atau membuat sindiran dan ejekan lainnya. Perlu dicetat bahwa tidak satu pun mahasiswa atau orang Indonesia di Australia dihina, diserang atau diejek di Australia terkait dengan isu hukuman mati ini. Menurut laporan dari mahasiswa Indonesia di Australia, mereka tidak diganggu sama sekali. Seharusnya perilaku yang baik itu dibalas kepada orang Australia di Indonesia.
Perdana Menteri Abbott tidak pernah membuat ancaman terhadap Indonesia terkait dengan bantuan yang diberikan pada masa tsunami. Perdana Menteri menyoroti bahwa Australia dan Indonesia bekerjasama dengan hal kemanusiaan. Kami menyelematkan banyak nyawa Indonesia pada tahun 2004, sebelum 2004, dan sesudah 2004. Seharusnya Indonesia membalas budi. Juga, Menlu Bishop tidak mendorong orang Australia untuk memboikot Bali, tetapi mengatakan bahwa orang Australia berhak untuk memilih, dan lebih banyak parawisata akan memilih tempat selain Bali, atau Indonesia untuk berlibur. Hukuman mati ini akan menodai Bali untuk orang Australia dan mengganggu suasana damai di sana.
Kedua orang Australia yang akan dihukum mati sudah meminta maaf dengan sungguh, sudah bertobat, dan sekarang membantu tahanan lainnya untuk menjadi orang yang lebih baik. Kedua orang Australia yang akan dihukum mati telah mendirikan sebuah sekolah dalam penjara untuk mendidik tahanan Indonesia supaya mereka bisa berkontribusi kepada masyarakat Indonesia setelah masa penjara berakhir. Mereka mengajar bahasa Inggris, ilmu komputer, ilmu agama dan ilmu kesenian. Kelas ini tidak akan dijalankan jika Andrew dan Muyran di hukum mati sehingga tahanan lainnya tidak akan disekolahkan. Kedua laki-laki ini juga menyelesaikan sarjana dalam penjara, ilmu yang mereka berikan kepada teman lainnya. Mereka juga mengumpulkan uang (bukan recehan sebagai ejekan) untuk mengobati temannya di penjara. Mereka membanggakan Australia. Mereka membuktikan bahwa orang yang pernah berbuat jahat dapat bertobat, dan kembali ke jalan yang baik dan benar-benar berkontribusi kepada masyarakat. Agama Islam yang sebenarnya mengajar kita untuk mengampuni orang sedemikian. Memberikan pengampunan untuk menjalani hidup yang taat dengan hukum adalah jauh lebih baik daripada belas dendam, mengejek dan menghina dengan kematian yang mengerikan dan bertujuan mencabut harga diri dan martabat manusia melalui regu tembak, seperti binatang buruan. Australia hanya meminta hak mereka untuk hidup dipenuhi oleh Pemerintah Indonesia supaya mereka bisa terus berbaikan dengan Indonesia dan memberikan kebaikan bagi teman-temannya dalam penjara. Pelaksanaan hukuman mati ini tidak akan membuat Indonesia lebih adil, tegas, baik atau bebas dari kejahatan. Sekjen PBB meminta eksikusi ini dibatalkan dan Pemerintah Brasilia telah kehilangan rasa hormat untuk Indonesia. Masyarakat tahanan di Kerobokan akan menjadi yang paling dirugikan.
Kembali ke masalah “Koin untuk Australia”, rakyat Aceh melanggar ajaran agama Islam, agama mereka sendiri. Islam mengajar para penganut untuk berendah hati, berterima kasih, dan menghormati orang lain, khususnya yang berbaik hati kepada sesama. Mungkin pelanggaran terhadap ajaran Islam ini perlu diperiksa oleh polisi agama di Aceh. Seharusnya masyarakat Aceh meminta maaf kepada rakyat Australia untuk penghinaan ini yang susah dimaafkan. Orang Indonesia bereputasi sebagai orang yang ramah dan baik hati, tetapi perbuatan orang di Aceh bertolak belakang dengan reputasi tersebut. Saya sudah tinggal di Indonesia selama dua tahun dan saya belum pernah merasa seburuk ini terhadap Indonesia, dan rakyatnya. Jika saya tidak di sini untuk berkuliah, saya pasti akan pulang, dan tidak akan kembali lagi. Pada masa terjadinya penyadapan terhadap Indonesia, rakyat Indonesia protes terhadap Pemerintah Australia melalui Kedutaan Besar, dan tidak menyinggung rakyat Australia yang sebenarnya tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, atau dikatakan oleh pemerintah. Pada saat ini, rakyat Aceh menyinggung rakyat Australia langsung dengan cara yang tidak dapat diterima.
Pada masa tsunami di Jepang, orang Jepang memberikan burung kertas kepada rakyat Australia sebagai tanda terima kasih, sopan santun, dan rasa persahabatan yang terus berkembang antara kedua rakyat. Saya harap rasa persahabatan dapat dikembalikan dalam hubungan antara rakyat Indonesia dan rakyat Australia.
Atas perhatian Anda, saya mengucapkan terima kasih
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Michael York
Sumber: e-kabar.com

