Jakarta | acehtraffic.com – Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan bahwa ledakan bom yang terjadi di Gedung ITC Depok, Jawa Barat, pada Senin 23 Februari 2015 sore, patut diwaspadai semua pihak, baik Polri maupun masyarakat. Menurutnya, ledakan itu menunjukkan awal kembalinya gerakan radikal di Indonesia.
Neta mengatakan, dilihat dari lokasi ledakan yang berdekatan dengan tempat bermain anak, sasaran kelompok tersebut tidak lagi pihak asing dan pusat keramaian, tapi mulai bergeser spesifik ke pusat keramaian anak-anak.
“Ledakan ini teror pertama setelah dalam dua tahun terakhir tidak pernah terjadi teror ledakan bom di Indonesia. Sepertinya kelompok radikal di negeri ini ingin kembali unjuk gigi, setelah selama dua tahun terakhir kantong-kantong radikalisme di Indonesia diporak-porandakan Polri,” ujar Neta dalam keterangan pers yang diterima Okezone, Selasa (24/2/2015).
Data IPW menunjukkan di 2014 Polri cukup berhasil menekan aksi teror. Padahal di akhir 2012, Poso dan Solo sempat bergejolak. Saat itu kelompok-kelompok radikal melakukan uji nyali dengan menyerang fasilitas Polri, seperti empat kantor polisi yang dikirimi bom. Namun di sepanjang 2014, Indonesia aman dari teror bom.
“Tentunya hal ini berkat kerja keras Polri dalam melakukan deteksi dini dan antisipasi terhadap kantong-kantong potensi radikalisme dan terorisme di Indonesia. Setidaknya hal ini terlihat dari berbagai aksi penangkapan yang dilakukan petugas kepolisian terhadap orang-orang yang disebut sebagai teroris,” ungkapnya.
Neta mengatakan, dilihat dari lokasi ledakan yang berdekatan dengan tempat bermain anak, sasaran kelompok tersebut tidak lagi pihak asing dan pusat keramaian, tapi mulai bergeser spesifik ke pusat keramaian anak-anak.
“Ledakan ini teror pertama setelah dalam dua tahun terakhir tidak pernah terjadi teror ledakan bom di Indonesia. Sepertinya kelompok radikal di negeri ini ingin kembali unjuk gigi, setelah selama dua tahun terakhir kantong-kantong radikalisme di Indonesia diporak-porandakan Polri,” ujar Neta dalam keterangan pers yang diterima Okezone, Selasa (24/2/2015).
Data IPW menunjukkan di 2014 Polri cukup berhasil menekan aksi teror. Padahal di akhir 2012, Poso dan Solo sempat bergejolak. Saat itu kelompok-kelompok radikal melakukan uji nyali dengan menyerang fasilitas Polri, seperti empat kantor polisi yang dikirimi bom. Namun di sepanjang 2014, Indonesia aman dari teror bom.
“Tentunya hal ini berkat kerja keras Polri dalam melakukan deteksi dini dan antisipasi terhadap kantong-kantong potensi radikalisme dan terorisme di Indonesia. Setidaknya hal ini terlihat dari berbagai aksi penangkapan yang dilakukan petugas kepolisian terhadap orang-orang yang disebut sebagai teroris,” ungkapnya.
Melihat apa yang dilakukan Polri di sepanjang 2013 dan 2014, kata Neta, kantong-kantong terorisme Indonesia sudah berantakan. Sehingga untuk melakukan aksi teror, para teroris perlu konsolidasi, dan itu tidak mudah.
“Namun dengan adanya isu ISIS dan banyaknya warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Timur Tengah, hal ini patut diwaspadai. Sebab bukan mustahil sikap ekstrem dan radikal ISIS mereka bawa masuk ke Indonesia serta kemudian menjadi teror bagi masyarakat,” tegasnya. | okezone.com |
“Namun dengan adanya isu ISIS dan banyaknya warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Timur Tengah, hal ini patut diwaspadai. Sebab bukan mustahil sikap ekstrem dan radikal ISIS mereka bawa masuk ke Indonesia serta kemudian menjadi teror bagi masyarakat,” tegasnya. | okezone.com |

