
NTB | acehtraffic.com - Principal advisor HR PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) Anton Sudarisman mengakui, gaji ekspatriat atau pekerja bule di perusahaan lebih tinggi dibandingkan pekerja lokal. Meski dengan jabatan sama, bule tetap mendapat gaji lebih besar.
Menurut Anton, tingginya gaji bule karena mereka mempunyai indeks competitivenes yang mengatur gaji secara global atau global benefit. Hal ini sebenarnya tidak hanya berlaku di perusahaan tambang, namun juga perusahaan lain seperti maskapai penerbangan.
"Bule punya standar sendiri dan diatur global benefit. Misalnya mereka dapat USD 120.000 per tahun. Ketika kita mengekspose itu sudah ada," ucap Anton ketika berbincang sambil makan malam di kawasan tambang Newmont di Sumbawa Barat, NTB, Jumat, 21 November 2014.
Besarnya gaji bule juga dilakukan karena mereka diwajibkan untuk mentransfer keahlian mereka ke pekerja lokal. Posisi bule di perusahaan biasanya menjadi advisor dan bisa langsung mengajar bawahannya.
"Mereka bisa jadi manajer dan ngajarin electrical kapasitas besar sekali dan mereka ngajarin. Yah bule itu biasanya advisor atau principal advisor," tegasnya.
Namun demikian, di Newmont sendiri sangat sedikit pekerja bulenya. Dari hampir 4.000 karyawan, pekerja bula hanya 28 orang saja atau kurang dari satu persen. Selain itu, pekerja bule juga biasanya karena ada global talent alias rolling.
Pekerja Australia atau Ghana dipindah ke Indonesia. "Pekerja bule kita cuma 28 orang. Ini memastikan nasionalisasi berjalan dengan baik," tutupnya. | AT | H | Merdeka |
