“Saya
menempuh hidup ini dibalik pejuangan suami saya almarhum Tgk Yusuf, suami
saya yang telah tiada berjuang bukan untuk keluarga atau untuk saudara,
malainkan untuk semua rakyat Aceh”
Ungkapan itu disampaikan Nurkisah (80) Istri Pejuang Aceh Merdeka 1976. Saat bertemu di Desa Gampong Simpang Tiga Kecamatan Jambo Aye Aceh Utara. Saat ditemui dirumah anaknya Nurhayati (41), Senin, 6 Oktober 2014.
Ungkapan itu disampaikan Nurkisah (80) Istri Pejuang Aceh Merdeka 1976. Saat bertemu di Desa Gampong Simpang Tiga Kecamatan Jambo Aye Aceh Utara. Saat ditemui dirumah anaknya Nurhayati (41), Senin, 6 Oktober 2014.
Sesuai namanya Nurkisah, memang memiliki banyak kisah pilu yang telah ia lalui dalam hidupnya, saat ini tubuhnya sakit sakitan. Ia istri seorang pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pada tahun 1978 saya bersama kedua anak saya dan juga semua istri GAM lainnya seperti Istri Ismail Ben, Istri Ayah Pasee, Istri Daud Janggoet, Istri Yusuf Ali, Istri Yusuf AB dan bayak lagi. “saya sudah lupa”
Pada
saat itu kami ditangkap karena tidak menyerahkan suami kami ke mereka,(TNI) ditengah
hujan yang sangat deras saat itu kami di angkut dengan truk yang bewarna merah
ke Kuala Cangkoi Ulee Rubek Kecamatan Senundon kab Aceh Utara, kami semuanya
basah, dan saat itu ada bayi berusia 6 hari juga ikut bersama kami. ,, saat itu
kami tidak mampu berbuat apa terkecuali Do,a kepada Allah,
Sesampai kami di Gampong Ulee Rubek kami di Antar ke sebuah Pulau, Pulau tersebut yang di kelilingi sungai Jambo Aye dengan Kuala Cangkoei, di dalam pulau itu ada empat rumah warga yang tidak di huni lagi, disitulah kami ditempatkan dan dijaga oleh pasukan TNI yang saat itu nama kesatuannya ARPEKAT, kami disana di tahan selama 17 hari.
“
Berbagai perlakuan terjadi disana” Ujar Nurkisah melanjutkan sambil mengeluarkan air mata. “Namanya juga tahanan”
Berbagai perlakuan terjadi disana” Ujar Nurkisah melanjutkan sambil mengeluarkan air mata. “Namanya juga tahanan”
Di
hari ke 17 kami di bebaskan karena kami sudah mulai diserang penyakit demam,
sesampai dirumah saya meliat isi rumah sudah di abrak abrik, tapi saya tetap
pasrah, pada tahun 80 suami saya pulang menjenguk kami, dan pada malam pertama
Tgk Pulang beliau merasa kurang sehat, dan di malam kedua beliau meninggal
dunia dirumah, pada hari ketujuh kami menghirup udara bebas, disana pula kami
harus berbelasungkawa
Nurkisah memang mantan istri pejuang sebuah gerakan yang telah menghantarkan perdamaian pada 15 Agustus 2005 silam. Banyak sudah orang seperjuangan dan penerus perjuangan suami Nurkisah masih hidup begitu juga sekian penerus perjuangan Tengku M.Yusuf suami dari Nurkisah yang sedang menikmati perdamaian dengan segenap kesejahteraan. Ia berharap nikmat perdamaian juga mengalir kepadanya. | AT | RD| SD|

