Banda Aceh | acehtraffic.com- Ini suatu yang lebih sekali anda, dikala 'kami' meyakini diri sendiri sebagai satu bangsa yang sudah sangat maju dan hebat diatas punggung donya anda justru menyebutkan kami kampungan dalam bidang promosi investasi. Tentu ini penyataan yang bertolak belakang dengan keyakinan alam bawah sadar kami.
Di berbagai kesempatan dari dulu hingga sekarang, bahkan sering kami mendengarkan bahwa bangsa kami adalah bangsa yang hebat diatas punggung dunia, apalagi dalam hal perdagangan dengan bangsa didunia. Dimana dikala nenek moyang kami menggunakan Jalo atau boat kecil yang terbuat dari kayu, ratusan tahun yang silam telah berdagang dengan sejumlah bangsa di dunia.
Dimana dikala nenek moyang kami saat jalan masih melewati rerimbunan pohon rumbia, dan sesekali terkejut karena ada ular lewat, serta sangat lincah menghindari kubangan air dan becek penuh dengan pacat, kami sudah membangun hubungan dengan laksama Chengho?
Tetapi alangkah aneh dikala kami telah menggunakan mobil mewah dan jalan beraspal, serta dasi dari rakyat kami tidak lagi mereng ada pula yang mengatakan kampungan?
Begitu pula dengan rakyat dan delegasi kami telah menggunakan Blackberry, What Chapp, serta pandai cok 'ChaP' dikala itu pula ada yang mengatakan kampungan.
Sebelum ada pernyataan ini kami justru sama sekali mungkin tidak pernah sadar, bahwa secara gagah kami mempresentasi kami punya laut dan bumi serta hasil didalamnya yang berlimpah ruwah, namun mungkin setelah kami sampaikan seperti itu, kami pun tidak pernah menggali apa benar hasilnya berlimpah, atau cuma didalamnya hanya ada tanah dan air saja. Tapi kami tetap pede aja lagi gitu lho !
Peristiwa yang terjadi saat momen IMT-GT (Indonesia, Malaysia, Thailand
Growth Triangle), bagai disambar petir hati kami, atau dalam bahasa kami lagee terkena Gelanteeu Tak saat mendengarkan penyataan itu.
Seakan kami terlempar keawan, dengan penuh kebimbangan, jas dan dasi serta jenggot dan kumis serta kemampuan bahasa Inggres sepatah dua patah seakan tak bergune sama sekale.
Seakan kami terlempar keawan, dengan penuh kebimbangan, jas dan dasi serta jenggot dan kumis serta kemampuan bahasa Inggres sepatah dua patah seakan tak bergune sama sekale.
Pernyataan anda Dato’ Faudzi Naim Hj Noh, benar -benar mengirim Geulantee Cot Uroe buat kami Datok?
Sangat berani anda menyatakan ini, dikala 'mungkin' sepertiga kami menyakini bahwa kami sangat hebat, namun tiba -tiba keyakinan ini anda potong dengan sinsau raksasa di masa Dinausaurus? Pernah kah anda berpikir bagaimana hancur hati kami?
Sepatu panjang yang kadang ada yang berkilat, dan ada juga sepatu besar harganya jutaaan yang kami pakai dan kami anggap sangat stendded, tetapi setelah kami dengar penyataan ini seakan tidak ada arti sama sekali.Atau kurang tinggi sepatu kami?
Begitu juga makam yang megah dari indatu kami sebagai bagian dari pemain bisnis masa silam terkubur dalam setelah mendengar penyataan ini. Sungguh kami menangis, meu a^..a^
Atau memang benar apa yang anda sampaikan?
Memang kami akui setiap kesempatan kami terkadang selalu merindukan kegemilangan kami bukan untuk masa sekarang,tapi kami justru merindukan, meupeteuntee dan peunyata untuk kegemilangan kami seperti masa silam....
Memang kami akui setiap kesempatan kami terkadang selalu merindukan kegemilangan kami bukan untuk masa sekarang,tapi kami justru merindukan, meupeteuntee dan peunyata untuk kegemilangan kami seperti masa silam....
Waktu masa silam, kami membajak sawah bukan dengan Traktor, merontok padi bukan dengan Treasure, tetapi dengan lembu dan kerbau serta rontok padi dengan cah-cah ngon gaki?
Kebanyakan kami dimasa silam juga tidak menggunakan penerang listrik, tetapi menggunkan lampu teplok, yang kadang membuat hidung kami jadi hitam akibat asap hitam yang menggepul layaknya gepulan asap saat pembakaran gas buangan di Exxon Mobil sekarang. Banyak juga dulu kami menggunakan Boh Lawah (Buah Jarak) bila kami tinggal disamping kuburan.
Apakah kami salah berdoa?
Kami berdo'a bukan untuk kegemilangan masa depan, tapi kami justru merindukan kegemilangan masa lampau, dimana kala itu ketika nenek moyang kami berjalan kaki, dan menggunakan sepeda dengan kondisi jalan penuh lumpur?
Kami berdo'a bukan untuk kegemilangan masa depan, tapi kami justru merindukan kegemilangan masa lampau, dimana kala itu ketika nenek moyang kami berjalan kaki, dan menggunakan sepeda dengan kondisi jalan penuh lumpur?
Tapi jikapun demikian kami juga ingin melihat apa yang dikomentari oleh bangsa kami di era kekinia, apakah benar seperti yang anda sampaikan?
Wakil Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Aceh, Ustaz
Mujiburrizal, dari Malaysia kepada Media Serambi, Jumat 12 September 2014 mengaku “Kita terima pernyataan (kampungan) CEO
IMT-GT itu. Kita jadikan itu sebagai bahan introspeksi dan evaluasi
untuk berubah. Sejujurnya, itulah wajah promosi dan investasi kita,”
kata Wakil Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Aceh, Ustaz
Mujiburrizal, dari Malaysia kepada Serambi, Jumat (12/9).
Menurutnya,
hal itu terjadi karena Pemerintah Aceh tidak punya konsep, tidak
serius, penempatan SDM yang tidak tepat, tidak punya program yang
kontinyu dan terukur, tidak ada target, tim tidak kompak, serta
kurangnya koordinasi antarbidang, dinas, instansi dan stake holder.
“Masing-masing
jalan sendiri. Padahal pada kenyataannya, untuk konteks pariwisata,
untuk jangka pendek ini tidak memerlukan investasi yang besar,”
imbuhnya.
Selama ini pun, lanjut Mujiburrizal, tren wisata syariah
Aceh cukup baik diterima para wisatawan, terutama wisatawan Asean dan
Nusantara. Ini pun atas kerja keras dari pelaku pariwisata, bukan
Pemerintah Aceh. Sayangnya, tahun 2013 dan 2014, tidak ada satu pun
promosi di Malaysia yang diikuti Aceh, padahal wisatawan terbesar dari
Malaysia.
“Silakan cek dari Agustus sampai Desember nanti,
peningkatan turis dari Malaysia sangat signifikan. Untuk itu,
berdasarkan pengalaman kami di lapangan selama ini, kami ingin
menawarkan konsep wisata syariah kepada Pemerintah Aceh. Mari kita ubah
mental kita dari menghabiskan anggaran kepada bagaimana meningkatkan
devisa Aceh melalui industri pariwisata syariah. Kami siap
mempresentasikan dan bekerjasama dengan semua pihak,” tegasnya.
Wajar kampungan
Hal senada juga disampaikan Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Aceh, Hasbul Fayadi. Dikatakannya, promosi pada dasarnya merupakan investasi. Oleh karena itu harus dikerjakan secara profesional, terencana dan terukur, diseusaikan dengan kondisi dan situasi daerah, dan dikerjakan oleh orang-orang yang profesional.
Hal senada juga disampaikan Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Aceh, Hasbul Fayadi. Dikatakannya, promosi pada dasarnya merupakan investasi. Oleh karena itu harus dikerjakan secara profesional, terencana dan terukur, diseusaikan dengan kondisi dan situasi daerah, dan dikerjakan oleh orang-orang yang profesional.
“Pemahaman
bahwa promosi adalah investasi, inilah yang tidak ada. Selama ini
promosi dikerjakan sendiri dan asal jadi. Jadi kalau ada statemen
promosi Aceh kampungan, ya wajar saja,” ujarnya.
Pengamat ekonomi
Aceh, Rustam Effendi juga memberi pandangan serupa. Menurutnya, promosi
yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh belum terjadwal dengan baik dan
masih bersifat dadakan. Substansi promosi masih miskin, tidak kongkrit,
dan kurang meyakinkan calon investor. Selain itu juga tidak banyak
pameran yang bisa diikuti di tingkat global.
“Berbagai upaya yang
dilakukan oleh sebagian pejabat selama ini cenderung seperti tanpa misi
dagang yang jelas, tidak lebih sekadar jalan-jalan dan untuk pencitraan
semata,” pungkas Rustam.
Belum lagi imej Aceh sebagai daerah
konflik belum pulih sepenuhnya di mata orang luar. Secara internal juga
belum terlihat bahwa Aceh memang antusias dengan program kerja sama
IMT-GT. “Jalan bagi Aceh memang masih panjang, tidak salah kalau kita
dalam IMT-GT ini masih sebatas sebagai penyelenggara meeting atau
penggembira saja,” kata Rustam. | R| Sumber Serambi
tanggapan pengamat
* Pemerintah Aceh tak punya konsep, tidak serius, penempatan SDM tidak tepat, tidak punya program yang kontinyu dan terukur, tidak ada target, tim tidak kompak, serta kurangnya koordinasi antarbidang, dinas, instansi dan stake holder
* Tren wisata syariah Aceh cukup baik diterima para wisatawan, terutama wisatawan Asean dan Nusantara. Ini pun atas kerja keras dari pelaku pariwisata, bukan Pemerintah Aceh
* Pemahaman bahwa promosi adalah investasi, inilah yang tidak ada. Promosi dikerjakan sendiri dan asal jadi. Jadi kalau ada statemen promosi Aceh kampungan, ya wajar saja
* Berbagai upaya yang dilakukan oleh sebagian pejabat selama ini cenderung seperti tanpa misi dagang yang jelas, tidak lebih sekadar jalan-jalan dan untuk pencitraan
* Secara internal juga belum terlihat bahwa Aceh memang antusias dengan program kerja sama IMT-GT
* Pemerintah Aceh tak punya konsep, tidak serius, penempatan SDM tidak tepat, tidak punya program yang kontinyu dan terukur, tidak ada target, tim tidak kompak, serta kurangnya koordinasi antarbidang, dinas, instansi dan stake holder
* Tren wisata syariah Aceh cukup baik diterima para wisatawan, terutama wisatawan Asean dan Nusantara. Ini pun atas kerja keras dari pelaku pariwisata, bukan Pemerintah Aceh
* Pemahaman bahwa promosi adalah investasi, inilah yang tidak ada. Promosi dikerjakan sendiri dan asal jadi. Jadi kalau ada statemen promosi Aceh kampungan, ya wajar saja
* Berbagai upaya yang dilakukan oleh sebagian pejabat selama ini cenderung seperti tanpa misi dagang yang jelas, tidak lebih sekadar jalan-jalan dan untuk pencitraan
* Secara internal juga belum terlihat bahwa Aceh memang antusias dengan program kerja sama IMT-GT

