
Ukraina | acehtraffic.com - Pemerintah Ukraina menyatakan akan terus melakukan serangan militer terhadap milisi pro Rusia di timur Ukraina.
Hal tersebut, seperti dikutip dari laman Voanews, Minggu 4 Mei 2014, sebagai reaksi atas pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, yang meminta Moskow segera menghentikan dukungannya bagi kaum separatis tersebut.
Menteri Dalam Negeri Ukraina, Arsen Avakov, mengatakan bahwa tentara pemerintah telah merebut sebuah menara televisi dan gedung-gedung pemerintah dari pemberontak di Kramatorsk, dekat dengan kubu pro Rusia, Slovyansk.
Dalam postingnya di Facebook, Avakov mengatakan, "kami tidak akan berhenti."
Langkah ini dilakukan menyusul pertempuran mematikan antara milisi pro Moskow dan pasukan pro Kyiv di sebuah kota di selatan Ukraina, Odessa, yang menewaskan sedikitnya 42 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Di Moskow, juru bicara Kremlin, Dmitri Peskov mengatakan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, belum memutuskan bagaimana menanggapi serangan terbaru itu, atau kematian yang terjadi di Odessa. Sebagian besar korban dilaporkan adalah milisi pro Rusia.
Secara terpisah, Peskov mengatakan bahwa Kremlin dalam waktu 24 jam telah menerima ribuan panggilan telepon dari orang-orang di timur dan selatan Ukraina, yang diduga meminta perlindungan Moskow.
Rusia saat ini memiliki setidaknya 40.000 tentara dan kendaraan lapis baja yang bersiaga di perbatasan dengan Ukraina. Selain itu, Kremlin juga menyiapkan alasan untuk memasuki Ukraina, yaitu untuk melindungi etnis Rusia.
Sementara itu, di Kyiv, pemerintah menyatakan dua hari sebagai hari berkabung untuk memperingati mereka yang tewas di Odessa, Jumat lalu. viva.co,
Hal tersebut, seperti dikutip dari laman Voanews, Minggu 4 Mei 2014, sebagai reaksi atas pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, yang meminta Moskow segera menghentikan dukungannya bagi kaum separatis tersebut.
Menteri Dalam Negeri Ukraina, Arsen Avakov, mengatakan bahwa tentara pemerintah telah merebut sebuah menara televisi dan gedung-gedung pemerintah dari pemberontak di Kramatorsk, dekat dengan kubu pro Rusia, Slovyansk.
Dalam postingnya di Facebook, Avakov mengatakan, "kami tidak akan berhenti."
Langkah ini dilakukan menyusul pertempuran mematikan antara milisi pro Moskow dan pasukan pro Kyiv di sebuah kota di selatan Ukraina, Odessa, yang menewaskan sedikitnya 42 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Di Moskow, juru bicara Kremlin, Dmitri Peskov mengatakan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, belum memutuskan bagaimana menanggapi serangan terbaru itu, atau kematian yang terjadi di Odessa. Sebagian besar korban dilaporkan adalah milisi pro Rusia.
Secara terpisah, Peskov mengatakan bahwa Kremlin dalam waktu 24 jam telah menerima ribuan panggilan telepon dari orang-orang di timur dan selatan Ukraina, yang diduga meminta perlindungan Moskow.
Rusia saat ini memiliki setidaknya 40.000 tentara dan kendaraan lapis baja yang bersiaga di perbatasan dengan Ukraina. Selain itu, Kremlin juga menyiapkan alasan untuk memasuki Ukraina, yaitu untuk melindungi etnis Rusia.
Sementara itu, di Kyiv, pemerintah menyatakan dua hari sebagai hari berkabung untuk memperingati mereka yang tewas di Odessa, Jumat lalu. viva.co,
