
Jakarta acehtraffic.com -
Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya berhasil menetapkan hasil
perolehan suara nasional pemilu legislatif tepat waktu. Namun tetap
menyisakan segudang persoalan yang menjadi catatan bagi parpol, mulai
dari kesalahan teknis, kecurangan, penggelembungan suara, hingga money
politics.
Sejumlah partai politik pun berencana membawa catatan-catatan itu ke Mahkamah Konstitusi (MK). Banyak kalangan menilai pelaksanaan pemilu tahun ini tidak lebih baik dibanding 2009 meski angka golput berhasil ditekan menjadi 24,89 persen.
Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Ashiddiqie menilai ada tiga hal yang membuat pemilu tahun ini dinilai lebih buruk dari 2009.
"Ada tiga hal, yang boleh jadi itu sendiri-sendiri dampaknya tidak terlalu berat. Karena tertumpuk jadi satu sehingga kacau," ujar Jimly saat berbincang dengan detikcom, Kamis 8 Mei 2014) lalu.
Pertama kata Jimly, sistem suara terbanyak mendorong aktor yang bermain di pemilu banyak sekali. Meskipun jumlah partai lebih sedikit dibanding 2009, namun sistem suara terbanyak membuat para caleg yang berjumlah sekitar 15 ribu orang saling sikut di antara mereka sendiri, meski terhadap caleg satu partai.
Jumlah kursi yang terbatas dalam sebuah dapil diperebutkan puluhan caleg mendorong terjadinya politik uang (money politics) di pemilu tahun ini lebih massif dan transparan dibanding 2009.
"2009 sistem ini juga diterapkan, tapi mendadak oleh keputusan MK. Sebelumnya nomor urut. Sehingga tidak terlalu besar kacaunya. Sementara sekarang, 15 ribu caleg sudah bersiap 5 tahun untuk bertarung. Mereka sudah belajar rmengenai persaingan, semua pemain single semua berjuang habis-habisan. Mereka belajar dari pilkada, untuk politik uang," ujar Jimlya. detik.com
Sejumlah partai politik pun berencana membawa catatan-catatan itu ke Mahkamah Konstitusi (MK). Banyak kalangan menilai pelaksanaan pemilu tahun ini tidak lebih baik dibanding 2009 meski angka golput berhasil ditekan menjadi 24,89 persen.
Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Ashiddiqie menilai ada tiga hal yang membuat pemilu tahun ini dinilai lebih buruk dari 2009.
"Ada tiga hal, yang boleh jadi itu sendiri-sendiri dampaknya tidak terlalu berat. Karena tertumpuk jadi satu sehingga kacau," ujar Jimly saat berbincang dengan detikcom, Kamis 8 Mei 2014) lalu.
Pertama kata Jimly, sistem suara terbanyak mendorong aktor yang bermain di pemilu banyak sekali. Meskipun jumlah partai lebih sedikit dibanding 2009, namun sistem suara terbanyak membuat para caleg yang berjumlah sekitar 15 ribu orang saling sikut di antara mereka sendiri, meski terhadap caleg satu partai.
Jumlah kursi yang terbatas dalam sebuah dapil diperebutkan puluhan caleg mendorong terjadinya politik uang (money politics) di pemilu tahun ini lebih massif dan transparan dibanding 2009.
"2009 sistem ini juga diterapkan, tapi mendadak oleh keputusan MK. Sebelumnya nomor urut. Sehingga tidak terlalu besar kacaunya. Sementara sekarang, 15 ribu caleg sudah bersiap 5 tahun untuk bertarung. Mereka sudah belajar rmengenai persaingan, semua pemain single semua berjuang habis-habisan. Mereka belajar dari pilkada, untuk politik uang," ujar Jimlya. detik.com
