Aceh Tengah | acehtraffic.com- Seribuan massa menyerbu Kantor
Bupati dan DPRK Aceh Tengah di Takengon, Sabtu 15 Februari 2014 siang. Mereka
datang yang kedua kalinya untuk keperluan menuntut pencairan bantuan korban gempa. Karena
sudah lama menunggu dan hingga saat itu belum jelas, massa naik darah, ruang
sidang menjadi sasaran obrak-abrik.Sabtu 15 Februari 2014
Sepertinya kejenggkelan dan
kesusahan hidup serta merasa di permainkan telah menyatu dalam diri demonstran
yang umumnya berasal dari ketol itu. Aparat keamanan yang berjaga di gedung
DPRK tidak sanggup membendung emosi massa.
Gas air mata belum mampu menahan
laju kemarahan warga dalam menuntut haknya sesuai dengan janji yang tyelah
disampaikan pemerintah kita di saat bencana berlangsung.
Tidak heran akibat aksi tersebut, mengakibatkan 4 orang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit karena terkena gas air mata. Mereka masing –masing Delamid dan Azhari akibat terkena semprotan gas air mata, sementara Hendra dan Mulyadi luka di tangan dan perut diduga terkena pelontar gas air mata.
Dikutip dari Serambinews.com massa yang berasal dari sejumlah kecamatan di Aceh Tengah itu merupakan korban gempa 2 Juli 2013. Mereka bergerak ke Gedung DPRK Aceh Tengah sekira pukul 11.00 WIB dengan menggunakan puluhan unit mobil.
Setiba di Gedung DPRK, perwakilan massa langsung berorasi sambil meminta kepada pihak DPRK menghadirkan Bupati Aceh Tengah, Ir Nasaruddin MM guna menjawab tuntutan massa.
Situasi mulai tidak terkendali ketika massa memaksa masuk ke gedung DPRK. Demonstran sempat beradu argumen dengan pihak keamanan. Tiba-tiba sebongkah batu melayang ke pintu kaca gedung DPRK. Pintu gedung dewan itupun pecah berantakan.
Karena tak ada anggota DPRK yang menemui dan tak ada yang menghadirkan bupati, akhirnya massa berlarian ke kantor bupati untuk menemui Ir Nasaruddin. Setiba di depan kantor bupati yang bersebelahan dengan gedung dewan, massa mencabut dan membakar spanduk yang terpampang di depan pintu gerbang kompleks kantor.
Beberapa pot bunga sempat dirusak
karena tak berhasil menemui bupati yang waktu itu sedang dinas luar. Bahkan,
satu unit mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan ke kantor itu diusir massa.
Terobos ruang sidang
Beberapa saat setelah berorasi di depan kantor bupati, massa kembali ke gedung DPRK dan merangsek masuk ke ruang sidang. Massa yang makin tersulut emosi membakar beberapa kursi dan memecahkan seluruh kaca meja. Massa berhenti merusak ruang sidang ketika Kapolres Aceh Tengah, AKBP Artanto tiba di lokasi. “Jangan berbuat anarkis. Saya minta ruang ini dikosongkan,” teriak AKBP Artanto.
Mendengar perintah itu, massa langsung keluar dan selanjutnya petugas memadamkan api yang membakar mobiler. Kericuhan terhenti beberapa saat ketika pengunjuk rasa menggelar makan siang bersama di depan gedung dewan.
Usai makan siang, pengunjuk rasa
kembali melakukan orasi. Bahkan hingga pukul 19.30 WIB tadi malam, massa masih
terkonsentrasi di kompleks gedung dewan dan ada juga yang menunggu di dalam
mobil. | AT | RD| Foto Serambi|
