News Update :

Memberantas Keterpurukan Pendidikan Di Pedalaman

Kamis, 28 November 2013



Selasa 17 September 2013 lalu. Aula sekdakab Aceh Timur terlihat ramai, pria dan wanita umumnya memakai jas almamater. Mereka ternyata guru untuk program Terdepan, Tertinggal, Terpencil (SM3T) dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Mereka adalah gelombang yang kesekian kalinya dalam misi memberantas ketertinggalan pendidikan Di Aceh Timur.

Program ini bukan UPI Bandung saja yang mengirimkan sejumlah sarjana kedaerah yang membutuhkan, namun Universitas Syiah Kuala Banda Aceh juga mengirimkan sejumlah guru ke daerah Riau.

Untuk tahun 2013 Aceh Timur menerima 90 Guru Serjana Menengah Terdepan, Tertinggal, Terpencil (SM3T). Menurut Kepala Dinas Pendidikan Aceh Timur, Abdul Munir SE, M.AP, para guru SM3T asal Bandung (Jawa Barat) ini ditempatkan kesejumlah sekolah di daerah terpencil sesuai dengan kebutuhan jurusan dan disiplin ilmu yang dimiliki.

 “Kita akan tempatkan ke sekolah-sekolah yang belum memiliki guru, seperti di Simpang Jernih,” katanya.

Abdul Munir mengatakan, selain ke Simpang Jernih yang merupakan daerah yang harus dilalui dengan menggunakan getek (perahu kayu—red) selama 4-6 jam dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuala Simpang (Aceh Tamiang).

Para guru SM3T juga akan ditempatkan ke beberapa kecamatan terpencil lainnya seperti Serbajadi—Lokop, Peunarun, Ranto Peureulak, Indra Makmur, Julok, Simpang Ulim dan dikawasan Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari.

 “Sesuaikan diri kalian dengan lingkungan sekitar, sehingga keberadaan para huru SM3T nantinya bear-benar dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Asisten III, Drs. Irfan Kamal, M.Si meminta, para guru SM3T benar-benar memanfaatkan waktunya dalam mengabdi dan berbakti untuk bangsa Indonesia, karena program tersebut merupakan program pusat yang realisasinya untuk daerah.

“Bantu Aceh Timur dalam mencerdaskan bangsa Indonesia, sehingga anak-anak di daerah terpencil ikut menikmati pendidikan sebagaimana anak-anak di perkotaan,” katanya.

Perjuangan guru bantu tergolong berat, terkadang menjadi taruhan nyawa, seperti yang dialami pada November 2012 Geugeut Zaludio Sanua Anafi (23) dan  Winda Yulia (22), guru SM-3T meninggal setelah boat yang ditumpangi Guru Bantu untuk sekolah di Desa Meulidi kecamatan Simpang Jernih Terbalik di Sungai.

Musibah itu terjadi saat keduanya bersama guru lainnya, yaitu Irma dan Hanafi (korban selamat), hendak kembali ke Melidi melalui sungai setelah mengikuti rapat di Kota Langsa.

Sungai ini berhulu di wilayah Gayo Lues, barat daya Aceh Timur, dan bermuara di pesisir Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Meskipun Melidi termasuk wilayah Aceh Timur, warga desa itu harus ke Aceh Tamiang dulu untuk keluar dengan menempuh jalur sungai selama 6 jam.


Bupati Aceh Timur   mengakui program pusat tersebut sangat terasa mamfaat bagi meningkatkan mutu pendidikan Di Aceh Timur, pasalnya ada sejumlah keberhasilan yang dapat dilihat dari hasil kerja keras para guru SM-3T di Aceh Timur, perlombaan sekolah tingkat kabupaten diikuti sekolah terpencil. “Mereka juga mendapat juara” |ADV| 
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016