
Selasa 17 September 2013 lalu. Aula sekdakab Aceh Timur terlihat
ramai, pria dan wanita umumnya memakai jas almamater. Mereka ternyata guru
untuk program Terdepan, Tertinggal, Terpencil (SM3T) dari Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Mereka adalah gelombang yang kesekian kalinya
dalam misi memberantas ketertinggalan pendidikan Di Aceh Timur.
Program ini bukan UPI Bandung saja yang mengirimkan sejumlah
sarjana kedaerah yang membutuhkan, namun Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
juga mengirimkan sejumlah guru ke daerah Riau.
Untuk tahun 2013 Aceh Timur menerima 90 Guru Serjana Menengah
Terdepan, Tertinggal, Terpencil (SM3T). Menurut Kepala Dinas Pendidikan Aceh
Timur, Abdul Munir SE, M.AP, para guru SM3T asal
Bandung (Jawa Barat) ini ditempatkan kesejumlah sekolah di daerah terpencil
sesuai dengan kebutuhan jurusan dan disiplin ilmu yang dimiliki.
“Kita akan tempatkan ke
sekolah-sekolah yang belum memiliki guru, seperti di Simpang Jernih,” katanya.

Abdul Munir mengatakan, selain ke Simpang Jernih yang merupakan
daerah yang harus dilalui dengan menggunakan getek (perahu kayu—red) selama 4-6
jam dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuala Simpang (Aceh Tamiang).
Para guru SM3T juga akan ditempatkan ke beberapa kecamatan
terpencil lainnya seperti Serbajadi—Lokop, Peunarun, Ranto Peureulak, Indra
Makmur, Julok, Simpang Ulim dan dikawasan Blang Seunong, Kecamatan Pante
Bidari.
“Sesuaikan diri kalian
dengan lingkungan sekitar, sehingga keberadaan para huru SM3T nantinya
bear-benar dibutuhkan masyarakat,” katanya.
Asisten III, Drs. Irfan Kamal, M.Si meminta, para guru SM3T benar-benar
memanfaatkan waktunya dalam mengabdi dan berbakti untuk bangsa Indonesia,
karena program tersebut merupakan program pusat yang realisasinya untuk daerah.
“Bantu Aceh Timur dalam
mencerdaskan bangsa Indonesia, sehingga anak-anak di daerah terpencil ikut
menikmati pendidikan sebagaimana anak-anak di perkotaan,” katanya.
Perjuangan guru bantu tergolong berat,
terkadang menjadi taruhan nyawa, seperti yang dialami pada November 2012 Geugeut
Zaludio Sanua Anafi (23) dan Winda Yulia
(22), guru SM-3T meninggal setelah boat yang ditumpangi Guru Bantu untuk
sekolah di Desa Meulidi kecamatan Simpang Jernih Terbalik di Sungai.
Musibah itu terjadi
saat keduanya bersama guru lainnya, yaitu Irma dan Hanafi (korban selamat),
hendak kembali ke Melidi melalui sungai setelah mengikuti rapat di Kota Langsa.
Sungai
ini berhulu di wilayah Gayo Lues, barat daya Aceh Timur, dan bermuara di
pesisir Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Meskipun Melidi termasuk wilayah Aceh
Timur, warga desa itu harus ke Aceh Tamiang dulu untuk keluar dengan menempuh
jalur sungai selama 6 jam.
.jpg)
Bupati
Aceh Timur mengakui program pusat tersebut sangat terasa
mamfaat bagi meningkatkan mutu pendidikan Di Aceh Timur, pasalnya ada sejumlah
keberhasilan yang dapat dilihat dari hasil kerja keras para guru SM-3T di Aceh
Timur, perlombaan sekolah tingkat kabupaten diikuti sekolah terpencil. “Mereka
juga mendapat juara” |ADV|
