
acehtraffic.com- Layanan spa dan shiatsu tumbuh bak jamur di Manado. Di
pinggir-pinggir jalan besar, berdiri kokoh tulisan raksasa sebagai
penanda tempat merilekskan badan.
Seiring dengan menjamurnya
layanan spa dan shiatsu secara otomatis banyak tenaga kerja yang
tersedot. Mereka, khususnya para wanita yang tak memiliki keahlian
khusus pun dididik dalam tempo singkat dan langsung bisa bekerja.
Berdasar
penelusuran Tribun Manado, tak semua tukang pijatnya atau biasa disebut
terapis memiliki keahlian benar-benar memijat. Mereka lebih kepada
memberikan hiburan kepada 'pasien' yang hampir semuanya adalah
laki-laki.
Sebut saja terapis ini dengan nama Bunga. Dia mengaku
sejak awal tidak pernah punya niatan menjadi tukang pijat di spa. Namun
akhirnya pekerjaan itu diterimanya lantaran sulit mendapatkan pekerjaan
lain.
Bunga yang bekerja di sebuah layanan spa cukup terkenal di
kawasan Bisnis on Bisnis Boulevard ini mengaku, kesehariannya harus
mengenakan pakaian mini. Dia harus memberikan layanan sesuai pilihan
'pasien' berdasar menu yang disajikan.
Dia menyebut ada layanan
istimewa berupa body massage. Menurutnya, si 'pasien' akan menempati
kamar mewah dengan kamar mandi dalam. Tarif untuk layanan ini Rp 500
ribu. "Itu sudah termasuk pijat, spa, sauna, dimandikan dan layanan
spesial," ucap Bunga.
Dia pun mengaku suka duka mengiringi
pekerjaannya itu. Namun yang pasti, ini semua dilakukan demi memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari dan tabungan untuk adiknya yang ingin
melanjutkan studi.
"Kalau pas dapat dukanya, ada orang yang tidak
membayar penuh. Tapi saat mereka balik lagi, baru dibayar penuh. Terus
terang, pekerjaan seperti ini memang sangat sulit untuk diterima oleh
banyak orang, apalagi keluarga," ungkapnya. | AT | R | Tribun Manado|
