
acehtraffic.com
| Penyelenggaraan APEC Economic Leader's Week pada 1 – 8 Oktober ini di Bali dan beberapa pertemuan terkait dengan tema “Resilient Asia Pacific, Engine of Global Growth” yang bakal dihadiri pemimpin 21 kepala negara anggota, termasuk Presiden AS, Barack Obama. Rabu 03 Oktober 2013
Menurut organisasi ini APEC merupakan kekuatan ekonomi dunia utama saat ini karena menjadi tempat tinggal bagi 40 persen penduduk dunia, menguasai 44 persen perdagangan dunia, dengan kekuatan ekonomi 55 persen produk domestik bruto (PDB) dunia. Karena itu, maju mundurnya ekonomi dunia banyak ditentukan oleh maju mundurnya ekonomi APEC.
Data menunjukkan bahwa sejak APEC berdiri tahun 1989 hingga tahun 2000 total perdagangan internasional anggota APEC meningkat lima kali dari 3,1 triliun dollar AS menjadi 16,8 triliun dolar AS. Lapangan kerja yang tercipta di kawasan APEC dari 1999 hingga 2001 sebesar 10,8 persen, dan kemiskinan turun 35 persen pada periode yang sama.
Ekonomi APEC yang besar dengan kerja sama ekonomi antar anggota yang semakin kuat telah tumbuh pesat selama ini dengan laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun 7,39 persen dari 2003 hingga 2012. Demikian juga nilai perdagangan internasional APEC meningkat 11,69 persen rata-rata per tahun pada periode yang sama, sementara nilai perdagangan dunia tumbuh rata-rata 11,44 persen pada periode yang sama.
Demikian juga aliran arus modal asing langsung (FDI) ke APEC tumbuh rata-rata 19,83 persen per tahun pada 2003-2012, sementara pertumbuhan FDI rata-rata per tahun dunia 13,28 persen pada periode yang sama. Selain itu, tingkat daya saing internasional ataupun kualitas sumber daya manusia ekonomi APEC pada umumnya tinggi dibandingkan dengan ekonomi lainnya di dunia.
Tapi gambaran makro yang tampak manis itu, tidaklah berbanding lurus dengan fakta untuk rakyat Indonesia. Sejak kebijakan perdagangan bebas melalui ASEAN ditandatangani oleh pemerintahan SBY, setiap tahun ribuan industri nasional gulung tikar karena kalah bersaing dengan produk dari luar.
Menurut data, sebanyak 1470 industri lenyap dalam tahun 2007, sebanyak 2304 perusahaan lenyap dalam tahun 2008, sebanyak 1226 hancur dalam tahun 2009 dan sebanyak 1123 perusahaan hilang dalam tahun 2010.
Total perusahaan perusahaan yang lenyap dalam periode tersebut mencapai 6123 perusahaan. Keadaan ini tentu mengakibatkan meningkatnya pengangguran. Perjanjian perdagangan bebas dan liberalisasi investasi yang akan disepakati melalui Asia Pacifik Economic Cooperation (APEC) tentu akan makin memperburuk keadaan.
Berkenaan dengan penyelenggaraan APEC dan kedatangan Presiden Barack Obama, Hizbut Tahrir Indonesia dalam rilis yang ditandatangani oleh Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto menyatakan:
Menolak kedatangan Presiden AS Barack Obama serta menolak seluruh agenda AS yang dijalankan di negeri ini, termasuk melalui APEC, karena Hizbur tahrir menganggap bahwa AS adalah salah satu Negara yang ikut memerangi islam.
Dan dianggap bentuk imperialisme politik yang sarat dengan madhlarat bagi bangsa dan negara ini. Sebab, kemitraan semacam APEC merupakan wujud dari global governance yang menempatkan AS sebagai pengendali dan penguasa atas negara-negara dunia ketiga, termasuk di dalamnya Indonesia.
Selain menolak Apec, organisasi ini juga mengajak seluruh komponen kaum Muslimin di Indonesia, penguasa, politisi, partai, ormas, wa bil khusus para ashabul fa’aliyat dan para jenderal serta elemen-elemen kaum Muslimin yang lain untuk bersama-sama menolak kedatangan Barack Obama.
Serta mengajak seluruh komponen umat untuk berada di garda terdepan dalam perjuangan menegakkan Syariah dan Khilafah. | AT | Rilis|
Menurut organisasi ini APEC merupakan kekuatan ekonomi dunia utama saat ini karena menjadi tempat tinggal bagi 40 persen penduduk dunia, menguasai 44 persen perdagangan dunia, dengan kekuatan ekonomi 55 persen produk domestik bruto (PDB) dunia. Karena itu, maju mundurnya ekonomi dunia banyak ditentukan oleh maju mundurnya ekonomi APEC.
Data menunjukkan bahwa sejak APEC berdiri tahun 1989 hingga tahun 2000 total perdagangan internasional anggota APEC meningkat lima kali dari 3,1 triliun dollar AS menjadi 16,8 triliun dolar AS. Lapangan kerja yang tercipta di kawasan APEC dari 1999 hingga 2001 sebesar 10,8 persen, dan kemiskinan turun 35 persen pada periode yang sama.
Ekonomi APEC yang besar dengan kerja sama ekonomi antar anggota yang semakin kuat telah tumbuh pesat selama ini dengan laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun 7,39 persen dari 2003 hingga 2012. Demikian juga nilai perdagangan internasional APEC meningkat 11,69 persen rata-rata per tahun pada periode yang sama, sementara nilai perdagangan dunia tumbuh rata-rata 11,44 persen pada periode yang sama.
Demikian juga aliran arus modal asing langsung (FDI) ke APEC tumbuh rata-rata 19,83 persen per tahun pada 2003-2012, sementara pertumbuhan FDI rata-rata per tahun dunia 13,28 persen pada periode yang sama. Selain itu, tingkat daya saing internasional ataupun kualitas sumber daya manusia ekonomi APEC pada umumnya tinggi dibandingkan dengan ekonomi lainnya di dunia.
Tapi gambaran makro yang tampak manis itu, tidaklah berbanding lurus dengan fakta untuk rakyat Indonesia. Sejak kebijakan perdagangan bebas melalui ASEAN ditandatangani oleh pemerintahan SBY, setiap tahun ribuan industri nasional gulung tikar karena kalah bersaing dengan produk dari luar.
Menurut data, sebanyak 1470 industri lenyap dalam tahun 2007, sebanyak 2304 perusahaan lenyap dalam tahun 2008, sebanyak 1226 hancur dalam tahun 2009 dan sebanyak 1123 perusahaan hilang dalam tahun 2010.
Total perusahaan perusahaan yang lenyap dalam periode tersebut mencapai 6123 perusahaan. Keadaan ini tentu mengakibatkan meningkatnya pengangguran. Perjanjian perdagangan bebas dan liberalisasi investasi yang akan disepakati melalui Asia Pacifik Economic Cooperation (APEC) tentu akan makin memperburuk keadaan.
Berkenaan dengan penyelenggaraan APEC dan kedatangan Presiden Barack Obama, Hizbut Tahrir Indonesia dalam rilis yang ditandatangani oleh Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto menyatakan:
Menolak kedatangan Presiden AS Barack Obama serta menolak seluruh agenda AS yang dijalankan di negeri ini, termasuk melalui APEC, karena Hizbur tahrir menganggap bahwa AS adalah salah satu Negara yang ikut memerangi islam.
Dan dianggap bentuk imperialisme politik yang sarat dengan madhlarat bagi bangsa dan negara ini. Sebab, kemitraan semacam APEC merupakan wujud dari global governance yang menempatkan AS sebagai pengendali dan penguasa atas negara-negara dunia ketiga, termasuk di dalamnya Indonesia.
Selain menolak Apec, organisasi ini juga mengajak seluruh komponen kaum Muslimin di Indonesia, penguasa, politisi, partai, ormas, wa bil khusus para ashabul fa’aliyat dan para jenderal serta elemen-elemen kaum Muslimin yang lain untuk bersama-sama menolak kedatangan Barack Obama.
Serta mengajak seluruh komponen umat untuk berada di garda terdepan dalam perjuangan menegakkan Syariah dan Khilafah. | AT | Rilis|
