
acehtraffic.com- Magrib
itu, Minggu 28 April 2013, setelah semua jamaah shalat maggrib Mesjid disebuah pasantren moderen yang sedang dilanda kisruh, mengucapkan salam ke samping kanan dan
samping kiri, setelah selesai prosesi itu,
seorang ustad bangkit untuk berpidato, dalam pidato singkatnya ia meminta
santri jangan pulang dulu karena ada bapak-bapak ini yang akan memperkenalkan
dirinya.
Bapak
–bapak itu kita sebut saja pak Tengku.
Gagang
mic pun beralih kepada Pak Tengku yang
baru beberapa bulan ini muncul diareal pasantren tersebut, ustad ini sering
mengaku sebagai orang yayasan. Hari-hari sering mangkal di Guest House dan
kadang berkeliling, serta memeriksa absensi karyawan serta para pe-bhakti di
pasantren itu.
Tidak
heran, tanpa tedeng aling-aling, langsung mencoret absent dan memberi tanda
tulisan dengan kalimat dari pengurus yayasan, kalau dianggapnya kurang disiplin
atau tidak becus dalam bekerja.
Aksi
–aksi dari Pak Tengku ini menimbulkan
aneh bagi karyawan, karena para karyawan tersebut tidak mengetahui siapa
gerangan Pak Tengku itu yang berkeliling dan memantau aktivitas para pekerja di
pasantren terkenal itu.
,”Itu siapa ya? Tanya pekerja kepada pekerja yang lain. Sementara pekerja
yang lain juga tidak tahu. ,”Mungkin orang yayasan yang baru tu,” Ketus pekerja
yang lain.
Tidak
ada jawaban, siapa yang berkeliling itu. Namun karena seringnya melihat orang
itu berada didalam Guest House, maka para
pekerja pun meyakini bahwa itu adalah orang yayasan yang baru.
Hadirnya
beberapa wajah juga menimbulkan cerita –cerita lain disini. Dimana para ustad yang mengajar itu juga punya cerita dengan orang-orang baru
ini, ada ustad yang diminta menghadap. Para ustad pun nurut, mungkin ada
sesuatu yang ingin dibicarakan, tak pelak menganggap akan menjumpai petinggi
atau orang besar yaitu orang yayasan, Ustad pun walau umur jauh lebih tua tetap
menjaga ferformance dengan baju sopan. Apalagi itu lingkungan pasantren.
Nah
apa kejadiannya ?
Para
ustad itu diterima dengan baju singlet oleh Pak Tengku itu…..Ustad terkejut
karena tidak biasa didalam pasantren
tersebut demikian, sebelumnya. Namun ustad tidak memprotes ia anggap itu adalah
pemandangan baru dan tetap menjalankan
fungsinya, baik mengajar atau mengurus santri.
Kehadiran
orang baru tersebut juga menambah keraguan dan kehati-hatian dari para ustad
baik yang baru bekerja maupun yang sudah puluhan tahun mengabdi di pasantren
itu. Kenapa tidak? Terkadang pemanggilan juga untuk diperiksa soal ini dan itu, dan juga sering berembus kabar bahwa ada
yang di warning, dan ada yang bakal dikeluarkan. Tentunya ini berita buruk bagi
staf pengajar dan staf lain disana.
Kembali
ke maggrib itu,?
Bapak
Tengku dan Bapak Tengku tersebut yang sudah lama berkeliling disana, ternyata baru Maggrib itu mereka
punya waktu memperkenalkan diri. Dan tersiar kabar juga bahwa perkenalan diri
tersebut juga akan ikut berbarengan dengan pemutasian sejumlah cabinet di
pasantren itu.
Namun
sesi perkenalan tidak berakhir baik, baru siap Assalamu -alaikum wr-wb, dari
pak Tengku ….gemuruh teriakan turun..turun ..suara menggema di Mesjid pasantren
yang sudah melahirkan ribuan alumni itu.
Teriakan turun tidak berhenti, siswa yang masih usia remaja itu terus bersorak,
santri juga mengamuk dimusalla.
Karena
santri mengamuk Pak Tengku terpaksa di apit oleh ustad yang lain, untuk
terhindar dari amukan santri. Dari musalla dibawa keluar dengan cara diapit oleh sejumlah Ustad membawa Pak Tengku
ke sebuah tempat yang dianggap aman dari kemarahan santri.
Dalam
perjalanan tersebut sejumlah santri berbaris rapi berteriak ….hoo…hooo…membarengi
derap langkah Pak Tengku yang garang dan gagah itu.
Sementara
di tempat terpisah, sejumlah santri
mengamuk ke markas yang sering
mangkal Pak Tengku, tak heran amukan tersebut membuat kaca Guest House pecah
dan berserakan, sejumlah baju Pak Tengku yang tersimpan didalam diobrak –abrik.
Pak Tengku hilang kegagahannya, dan pak Tengko betul –betul kena plonco sama
santri remaja di malam itu.
Karena
situasi memanas sejumlah aparat keamanan datang mengamankan lokasi, pak Tengku
diamankan di sebuah rumah. Sementara kawan Pak Tengku yang lain ada yang lebih
duluan “Cok silop (ambil sandal)” untuk menghindar dari kemarahan siswa.
Kisruh
berlanjut dilembaga pendidikan yang semula didirikan oleh petinggi departemen
Agama Aceh Timur dan Pemerintahan Aceh Timur yang mulanya bersumber dari
dipotongnya dana bantuan desa dan
sejumlah hibah tanah dari masyarakat setempat serta dari sejumlah dermawan yang
lain untuk membangun lembaga pendidikan daerah tersebut.
Namun
kini, dari pengelolaan, kebijakan hingga persoalan legalitas yang diduga sudah
menyimpang dari dasar keberadaan Yayasan itu yang sejatinya saat itu adalah
milik pemerintah. Puncak kisruh terakhir adalah berawal dari rencana sejumlah
pengurus pasantren yang baru menganggap ada ustad yang harus diberhentikan dari
lembaga itu.
Padahal
Ustad tersebut adalah para ustad yang telah mengabdi lama di Pasantren dan
mengetahui banyak tentang persoalan yang terjadi di pasantren.
Karena riwayat itu, ada yang menyebutkan “ Ustad itu sudah cukup lama
disini, tapi itu pula yang akan dipecat, mungkin juga karena mereka itu banyak
tahu, makanya…….
Entahlah
!!!...
Pastinya
malam,Minggu 28 April 2013 lalu, kagarangan Pak Tengku Dkk yang selalu mengaku sebagai orang yayasan, benar–benar jatuh setelah aksi polos
dari para santri remaja, yang sedang menimba ilmu dan coba mempertahankan Ustad
mereka yang sedang terancam diusir oleh kawan-kawan sepaham dengan Pak Tengku DKK. | AT| RD| TM | ID|
