Menjadi orang yang disebut masyarakat atau pemerintah ulama adalah
title mulia dan penuh daya tawar. Kebiasaan di Aceh, ‘Ulama’ disebut untuk orang yang memiliki ilmu agama yang lebih, memiliki pasantren dan
memiliki sejumlah murid serta santri,
maka orang inilah yang disebut Ulama.
Keberadaan ulama dengan mendidik sejumlah orang dalam ilmu agama di
pasantrennya adalah pekerjaan yang sangat mulia. Dan dari murid itu berkembang
dan dapat mendidik sejumlah orang lain di kampung-kampungnya.
Bila seseorang sudah disebut ulama,
kebiasaannya bakal banyak orang yang datang meminta pendapat atau
menanyakan hal–hal keagamaan yang sedang menjadi kontroversi, perdebatan, dan
pertentangan di masyarakat.
Maka ulama itu berdasarkan ilmu agamanya memberikan pendapat dan
meluruskan sebagaimana yang tersebut dalam Al-Quran dan kitab-kitab atau yang
diketahuinya.
Ulama juga sering diundang ke berbagai acara untuk berdoa, karena
warga memahami bahwa Ulamalah yang afdhal mendo’akan dan bakal diterima do’anya
oleh yang maha kuasa. Karena ulama dianggap adalah orang yang mengetahui dan
sudah menjalankan agama secara benar.
Terkadang ada juga ulama di anggap keuramat, bila ia katakan sesuatu
adalah suatu yang mutlak benar. Anggapan tersebut bisa jadi karena ada kisah
yang menunjukkan kekeramatannya, sehingga orang percaya jika kata ulama maka
semuanya akan benar.
Dan disisi yang lain, karena ulama adalah orang yang taat, dan dalam
pemikiran selalu hal yang positif dan menghindari berpikir negative.
Selain itu dalam perkembangan keberadaan ulama di Aceh berasal dari
pasantren tradisional. Dan pasantren itu mengupas dan mengajari Al-Qur’an dan
kitap-kitap yang berisi sejumlah hukum didalamnya.
Kalau tidak salah untuk bab yang satu ini, kalangan pasantren kurang
memahaminya ilmu pemerintaham, karena memang kalangan pasantren tidak menjalani
dan belajar soal ini.
Karena kurang memahami, sehingga sangat rawan masuk pengaruh dari
orang yang datang memberi tahu sesuatu hal.
Maka yang dikasih tahu, karena para “Ulama” tidak memahami dan tidak
ada data pembanding maka informasi yang beritahu itu langsung dipercaya oleh
orang yang disebut “Ulama”
Karena dasar ketidaktahuan itu, maka disitulah para orang yang
disebut “Ulama” tertipu atau ditipu oleh orang yang datang untuk berbagai kepentingan.
Namun karena manisnya omongan orang yang datang pada “Ulama” dan
meyakinkan serta mampu mengikuti keinginan orang yang disebut“Ulama”dan selalu
bermanis –manis dan melakukan perbuatan baik didepan“Ulama”
Itu, sehingga para “Ulama” itu percaya penuh kepada orang tersebut
yang sejatinya tujuannya hanyalah terkadang untuk mengharap simpati dan
menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa ia dekat dengan Ulama.
Kepiawaian para penipu dalam mengelola orang yang disebut “ulama”.
Ada juga para orang yang disebut ulama kemudian terbuai dengan suasana yang
dibangun oleh para penipu.
Sehingga“Ulama” terus ber-anggapan bahwa orang yang selalu bermanis–manis didepannya adalah sosok yang benar. Dan dialah yang paling benar.
Nah, ketika ini terjadi, bila yang datang seorang pengusaha di
negeri antah berantah yang ingin sukses dalam usahanya, ulama juga dengan iklas
mau mendoakan, karena si pengusaha tersebut tidak menjelaskan kepada ulama jika
nanti ia sukses dan mendapatkan proyek, dan kemudian ia mendapatkan laba akan membawa perempuan muda, mahasiswa
untuk diselingkuhi.
Itu tidak pernah dijelaskan kepada Ulama, dan setelah dibawa
mahasiswa dan gadis muda untuk diselingkuhi, pengusaha itu juga pandai mencium
dan menyebutkan nama Allah di depan ulama, sehingga ulama tertipulah dengan
lakon si pengusaha itu. Sehingga ulama tetap mempercaya bahwa si pengusaha itu
adalah orang yang baik, dan shoooleh.
Begitu juga dikala misalnya calon camat negeri antah berantah yang datang untuk meminta doa agar bupati melantiknya
di kecamatan Metro yang penuh hasil melimpah. Ulama juga mendoakan hal
tersebut, namun si camat tidak pernah bercerita, bahwa setelah ia dilantik dan
dapat menjadi camat, Si Neng … yang cantik sedang dipersiapkan untuk
dilanjutkan main ceweknya.
Tetapi lagi si camat tidak pernah menceritakan kepada “ulama” saat
sowan setelah jadi camat, ia sedang menjalin hubungan terlarang dengan
Si-Neng, toh itu terjalin gara-gara doa atau rekom dari "ulama" hingga dia jadi camat Metro, dan pendapatan lumayan itu samapai ia dapat mengelola si-Neng.
Dan kemudian, kala si camat datang lagi ke pasantren ulama itu, dan melihat sajadah serta ambal sudah kusam.
“Itu bisa kita bantu Abu….langsung ia telpon, halllo…tolong bawa sajadah dan ambal 10 lembar kemari,’ begitulah telpon si camat kepada orang suruhan nya. Dengan respon cepat dari camat, maka respect “ulama” terhadap si camat ini akan berlebih, dan tidak akan percaya bila ada informasi busuk tentang camat, tidak akan didengar dan percaya, misalkan informasi dari masyarakat, yang bahwa si Camat itu sedang membina asyuk masyuk dengan sineng.
Dan kemudian, kala si camat datang lagi ke pasantren ulama itu, dan melihat sajadah serta ambal sudah kusam.
“Itu bisa kita bantu Abu….langsung ia telpon, halllo…tolong bawa sajadah dan ambal 10 lembar kemari,’ begitulah telpon si camat kepada orang suruhan nya. Dengan respon cepat dari camat, maka respect “ulama” terhadap si camat ini akan berlebih, dan tidak akan percaya bila ada informasi busuk tentang camat, tidak akan didengar dan percaya, misalkan informasi dari masyarakat, yang bahwa si Camat itu sedang membina asyuk masyuk dengan sineng.
Langsung dijawab ,”Itu fitnah,” kata “ulama” Padahal masyarakat umum sudah bengkak matanya dilihat kelakukan si camat tersebut.
Dan si Camat pun aman dari jabatannya. Dan bila kemudian isu penggulingan dan
pemutasian berembus dari Bupati, si camat pun kembali ke ulama, dan memberi tahu bahwa
ia akan diganti….dan si camat juga akan memberi isyarat kepada Ulama, untuk
mengirim petuah kepada bupati ..agar
ulama meminta bupati, dirinya tetap
sebagai camat.
Dan si bupati pun karena yang omong dan minta ulama, iapun memikir 20 x lagi
untuk memutasi camat yang di maksud, karena dianggap dipertahankan oleh Ulama.
Si camat pun tersenyum dan terbahak –bahak dikala pulang dan keluar dari tempat
Ulama, bahwa ia telah mampu menipu ulama untuk kepentingan dan kelezatan hidupnya,
serta bakal terus berlangsung nafsunya bersama “si Neng--Neng”
Sementara “Ulama” yang putih hati dan berprinsip tidak boleh curiga kepada orang, terus percaya kepada Si Camat, dia tidak update informasi tentang
tabiat si camat dan kelakuan serta tidak melihat si camat bersama si Neng, maka
garansi asyuk-masyuk syahwat bersama Sineng adalah garansi ulama di mata
masyarakat umum.
"Camat kecamatan Metro negeri entah berantah rekom "ulama" kata orang -orang, dan ngak boleh bilang-bilang asyuk-masyuk itu, nanti malu "ulama" biar kan saja si camat itu melakukannya. Kan iya begitu...kira..kira, apalagi ini negeri syariah.
"Camat kecamatan Metro negeri entah berantah rekom "ulama" kata orang -orang, dan ngak boleh bilang-bilang asyuk-masyuk itu, nanti malu "ulama" biar kan saja si camat itu melakukannya. Kan iya begitu...kira..kira, apalagi ini negeri syariah.
Begitu juga dengan Kadis negeri antah berantah, ia juga akan datang
kepada ulama untuk meminta garansi agar ia tetap dilahan basah artinya di Dinas yang memiliki banyak proyek, karena seringnya
ia datang dan membawa sejumlah kemurahan, memakai baju koko, shalat Jum'at
bersama, maka ulama pun percaya.
“Bapak itu adalah sosok yang bersyariah, maka Ulama pun akan memberikan petuah kepada bupati, bahwa sibapak itu layak dipertahankan.
“Bapak itu adalah sosok yang bersyariah, maka Ulama pun akan memberikan petuah kepada bupati, bahwa sibapak itu layak dipertahankan.
Tetapi dibalik itu, ulama tidak tahu bahwa Pak Kadis Negeri Antah
Berantah saat datang ke Ulama, ia sedang bersandiwara dengan segenap mimik
wajah, dan pakaian sholehnya, supaya jabatan kadisnya tetap bertahan.
Dan Pak kadis juga tidak pernah menjelaskan kepada Ulama yang telah
membantunya mempertahankan jabatan, bahwa sehari–sehari dikantor, ia kerjanya adalah cokeh
atau colek pantat staf yang cantik-cantik. Dan begitu juga jenjang jabatan berikutnya……………………
Masyarakat yang tidak tahu juga mengatakan tidak mungkin si camat,
pak kadis itu demikian karena itu rekom ulama. Seakan disini, rekom tersebut
akan sanggup menjaga kelakuan seseorang.
Kemudian yang aneh lagi “ulama’
dengan ketidak mampuan memahami dunia pemerintahan dan bagaimana sikap
dan tingkah laku oknum di pemerintahan. Toh karena sering sowan dan merasa
diperhatikan serta dikasih bantuan, “ulama” pun berani bertaruh dan memberi
garansi, walaupun dunia tersebut tidak diketahui dan difahaminya.
Dan pejabat itupun menggunakan “Ulama” sebagai Bodyguard untuk berbagai kepentingan termasuk untuk syahwat dan untuk mempertahankan kekuasaannya.
Sepatutnya jika ada kasus seperti ini, ulama dan orang dekatnya sudah saatnya respek, untuk tidak tertipu, agar citra ulama tetap tersanjung, terpelihara dan tetap menjadi lampu penerang bagi ummad dan tidak menjadi Bodyguard kekuasaan. | AT | RD| Qistin | Naura |
Sepatutnya jika ada kasus seperti ini, ulama dan orang dekatnya sudah saatnya respek, untuk tidak tertipu, agar citra ulama tetap tersanjung, terpelihara dan tetap menjadi lampu penerang bagi ummad dan tidak menjadi Bodyguard kekuasaan. | AT | RD| Qistin | Naura |

