Kira hitungannya begini, Sekolah normal TK 1 tahun, SD 6 Tahun, SMP 3
Tahun, SMA 3 Tahun, Sarjana lengkap 5 tahun, S2 Dua tahun, S3 Dua tahun, jumlahnya 22 tahun, usia sebelum sekolah 5
tahun maka jumlahnya adalah 27 tahun.
Sementara usia hafalan dan
ingatan tentang Sekolah 76 tetang mata pelajaran bendera bintang bulan sudah
mencapai 40 tahun, dengan hitungan pertama dideklarasikan Gerakan Aceh Merdeka 1976, hingga 2012. dari tahun
tersebut fase pendidikan dan ingatan serta tingkatan “kesulitan” tentang pendidikan
bendera itu bagi masyarakat tergantung jenjang kelas (Masa) 1976 -1977 Operasi
pemburuan kepada murid sekolah bendera bintang bulan masih aman –aman saja.
1978- 1980 Para murid yang sedang
menempuh ilmu Bendera itu semakin di buru, sejumlah orang di tangkap dan
dijebloskan ke penjara. 1980 – 1989 para murid sekolah itu ada yang sebagian
meningkat ilmu prakteknya ke Libya, dan sisanya ada yang minggat ke Negeri Jiran
Malaysia karena TNI terus memburu aktivitas para anak sekolah itu.
1989 Pemerintah mengambil sikap
untuk memukul mundur anak murid sekolah keyakinan 1976 itu, sejumlah aparat
terlatih dikirim ke Aceh, mereka memakai sandi Operasi Jaring Merah.
Saat itu sejumlah nama dan pas
foto calon murid baru sekolah 1976 yang sudah di kumpulkan sama kepala sekolah
di berbagai desa terpaksa di bakar dan di tanam, baselot atau ijazah bai’at
sekolah itu dikuburkan didalam tanah. Namun tentera khusus tetap menemukan
pentolan pentolan sekolah tersebut, baik yang benar maupun yang diduga-duga.
Setelah ditangkap ada yang
berhasil lepas, ada juga yang harus menjalani tahanan diKamp Rancung untuk
Aceh Utara dan Bireuen, Kamp Matang Ubi Lhoksukon, Kamp Reumoh Geudong
Geulumpang Tiga Pidie, Tengbatre Kuta Binjee Aceh Timur dan sejumlah camp
lainnya.
Saat itu bukan cuma kepala
sekolah tingkat desa atau kecamatan sekolah 1976 yang diburu, namun sejumlah
masyarakat yang didapat informasi pernah memberikan sebatang rokok dan segelas
kopi untuk siswa dan siswa sekolah itu pun harus berhadapan dengan aparat,
tidak sedikit yang ditangkap tanpa kembali kerumah dan diyakini sudah berpulang
kepada yang khalik.
Ada juga yang selamat dengan
kondisi tidak normal alias cacat. Bukan karena memberi rokok dan minum kepada
siswa tahun 1976 akan berbahaya, memiliki kesamaan nama pun bakal menemui ajal,
jika tidak ada yang membenarkan informasi yang dikantongi Pasukan khusus jaring
merah itu.
Tidak sedikit masyarakat yang
tidak terdaftar sebagai murid sekolah 1976 yang tewas saat itu, terkadang ada
yang tewas karena persoalan hutang dan
sejumlah persoalan lain
yang sama sekali tidak terkait
dengan sekolah 1976 itu.
Bagi yang muda dan cepat
mengambil sikap, Situk dan Geulapak dijadikan perahu untuk melarikan diri ke
Malaysia, namun bagi yang bertahan di nanggroe harus giat berdoa agar mulut
masyarakat selalu terkunci supaya waktu
diseleksi oleh pasukan khusus tentang siapa murid sekolah tahun 1976
didesa-desa, masyarakat tidak membuka dan memberitahukannya.
Ditengah pencarian pasukan khusus, masih ada sejumlah siswa sekolah 76 yang bertahan dan dan menghindar dari satu tempat
ke tempat lain. Dari satu Paya (rawa) ke Paya (rawa) yang lain. Untuk bertahan
hidup, mereka di pasok makanan oleh calon-calon siswa yang
sudah mendapat basic training.
Tidak heran kesetiaan para calon
ini, mengalahkan ular piton di semak-semak atau di rawa-rawa. Pasalnya mereka tidak
pandang bulu, siang maupun malam, selalu setia mencari tempat persembunyiaan siswa, untuk diantarkan sedikit makanan sebagai penyambung hidup.
Saat situasi pahit itu, ilmu dan
pelajaran yang didapatkan tidak berkurang, malah semakin hari semakin bertambah. Karena dalam kesempitan itu diantara mereka saling
mengajarkan dan saling meyakini.
Di kawasan Aceh Utara dan Bireuen pentolan sekolah 1976 yang paling terkenal era 1989 adalah Saed Adnan (Gubernur GAM Pasee) dan Panglima Yusuf Ali.
Di kawasan Aceh Utara dan Bireuen pentolan sekolah 1976 yang paling terkenal era 1989 adalah Saed Adnan (Gubernur GAM Pasee) dan Panglima Yusuf Ali.
Kedua orang ini bergerilya dihutan pedalaman Aceh Utara dan Bireuen. Disamping merek berdua ada sejumlah pentolan lainnya
yang paling diburu saat itu, seperti Ishak Daud, Liton, M. Nasir, Robert, Panglima
Hamzah, Rahman Toyo, Rahman Paloh, Abu Sanusi, Sofyan Dawod, dan sejumlah
alumni sekolah 1976 lainnya.
Pencarian dan pemburuan yang dilakukan pasukan
khusus terhadap pentolan itu, sampai ke pelosok desa. Namun ditengah gencarnya pemburuan, alumni sekolah 76 juga menjadikan test secara alamiah terhadap siswa, tentang keyakinan kemerdekaan dan keyakinan untuk tetap dalam syaf perjuangan. Proses alamiah itulah secara lambat laun keyakinan tertransfer ke jiwa masyarakat terutama di daerah pedalaman pesisir Timur dan Utara
Aceh.
Sejumlah masyarakat dan orang yang sudah
mendapat tausiah tentang Aceh Merdeka, merasa yakin dan gembira bahwa suatu ketika
Aceh seperti Brunei Darussalam. Megah dan rakyatnya sejahtera.Keyakinan itu mendarah daging,
tidak akan lepas dengan irisan tajam kulit rumbia.
Setiap simpatisan atau murid sekolah tersebut mendapatkan pendidikan berjenjang. Dari cerita mulut ke mulut, hingga mengundang orang tua (orang yang paham) di sekolah 1976 untuk menjelaskan duduk perkara Aceh Merdeka.
Setiap simpatisan atau murid sekolah tersebut mendapatkan pendidikan berjenjang. Dari cerita mulut ke mulut, hingga mengundang orang tua (orang yang paham) di sekolah 1976 untuk menjelaskan duduk perkara Aceh Merdeka.
Dari sanalah mereka yang belum jelas mendapatkan kembali penjelasan tentang bagaimana, Bernanggroe, Hukum internasional, Cerita lobi yang dilakukan
wali Hasan Tiro, dan dukungan Internasional.
Kehebatan sosok Almarhum Hasan
Tiro dalam cerita itu memudahkan para perekrut menemukan calon siswa baru. Setelah sekian lama hasil
penjelasan itu merendam didalam bathin setiap calon dan siswa. Kemudian secara perlahan mengalami proses ekplorasi secara pribadi maupun sesama kawan
yang sama-sama mendapatkan pendidikan itu.
Kehebatan sosok Almarhum Hasan
Tiro dalam cerita itu memudahkan para perekrut menemukan calon siswa baru. Setelah sekian lama hasil
penjelasan itu merendam didalam bathin setiap calon dan siswa. Kemudian secara perlahan mengalami proses ekplorasi secara pribadi maupun sesama kawan
yang sama-sama mendapatkan pendidikan itu.
Terkadang untuk menambah ilmu, mereka juga kedatangan
majalah dan kaset yang dibawa oleh senior atau kepala sekolah didistrik tertentu,
kaset dan majalah itu di baca sama-sama,.
Saat itulah, semuanya memancarkan wajah keceriaan pertanda senang dan bahagia.
Pelajaran yang ditemukan disini terkunci didalam pikiran individu masing-masing. Semangat Aceh bakal berjaya seperti Brunei termaktub dalam keyakinan itu.
Saat itulah, semuanya memancarkan wajah keceriaan pertanda senang dan bahagia.
Pelajaran yang ditemukan disini terkunci didalam pikiran individu masing-masing. Semangat Aceh bakal berjaya seperti Brunei termaktub dalam keyakinan itu.
Dikala era 1989 berbagai program
TNI masuk kedesa, sejumlah siswa sekolah menghentikan aktivitas diskusi tentang
keyakinan 1976.
Nah aksi Ishak Daud, pria berpostur tinggi tegap yang tidak lain
adalah anggota pasukan perang TNA (Teuntara Neugara Atjeh) Tahun 1990 melakukan penyerangan ke pos TNI
di Desa Buloh Blang Ara pada dan berhasil merampas 22 pucuk senjata M-16 dan
senjata jenis Minimi, seperti dalam film India.
Insiden ini seperti mendapat energen baru sebagai penyemangat bagi calon siswa atau para siswa yang sedang belajar di sekolah 1976. Setiap detik informasi tentang penangkapan sejumlah orang, menjadi kabar buruk bagi siswa sekolah ini pada masa itu.
Lagi, Sabtu tanggal 28 Desember 1991 Yusuf Ali 46 tahun, Panglima Aceh Merdeka Wilayah Pasee ditembak oleh TNI di desa Kreung Gunci Kecamatan Peusangan Bireuen.
Insiden ini seperti mendapat energen baru sebagai penyemangat bagi calon siswa atau para siswa yang sedang belajar di sekolah 1976. Setiap detik informasi tentang penangkapan sejumlah orang, menjadi kabar buruk bagi siswa sekolah ini pada masa itu.
Lagi, Sabtu tanggal 28 Desember 1991 Yusuf Ali 46 tahun, Panglima Aceh Merdeka Wilayah Pasee ditembak oleh TNI di desa Kreung Gunci Kecamatan Peusangan Bireuen.
Aktivitas pemburuan terhadap
Yusuf Ali sudah sangat lama, hingga waktu itu ada kabar menyebutkan bahwa istri
Yusuf Ali memakai baju merah. Akibat informasi tersebut sejumlah perempuan dikawasan Peusangan, Makmur dan Sawang harus menguburkan niat untuk berdandan
dengan baju merah, karena takut dianggap sebagai istri Yusuf Ali.
Memang, perjalanan sekolah ini terlihat
sunyi, namun bisik-bisik tentang keyakinan di pedesaan beredar seperti sinyal
terkomsel, ada, namun tidak terlihat. Masyarakat yang mengetahui, tetapi tidak
ikut menjadi siswa memilih diam. Karena mereka juga setuju dengan selentingan
kabar yang disebutkan bahwa Aceh akan berjaya bila Merdeka.
Tidak sedikit masyarakat yang
belum mengetahui tentang Ilmu dalam sekolah ini mengundang guru untuk
dijelaskan. Para guru atau kepala sekolah yang datang dengan macam model, ada
yang membawa alat penjelasan berupa foto senjata, foto Alm Hasan Tiro berfose
dengan orang asing atau bule, membawa majalah yang memuat Hasan Tiro dan ada
juga membawa gambar bendera.
Setelah penjelasan itu,
masyarakat atau calon siswa sudah mengenal bendera, sebagai tanda untuk
mencapai kemegahan di kemudian hari, dari sana, ia berpikir mendengar dan
mendiskusikan sesama teman kembali.
Tentunya hidup yang susah tanpa
pendapatan yang jelas, semua orang menginginkan kesejahteraan, apalagi yang
dipaparkan adalah kemegahan yang luar biasa. Semua nya dapat naik mobil, rumah
tersedia, ada gaji setiap penduduk, penduduk hanya baca –baca hikayat dan ngopi
ngopi saja tidak usah kerja.
Siapa pun manusia pasti sangat gembira dan setuju untuk kesejahteraan yang seperti ini. Termasuk juga penulis juga sangat senang that bila itu terjadi.
Siapa pun manusia pasti sangat gembira dan setuju untuk kesejahteraan yang seperti ini. Termasuk juga penulis juga sangat senang that bila itu terjadi.
Setelah insiden menimpa Yusuf
Ali, ada peristiwa tragis yang masih berhubungan dengan sekolah itu, yaitu LP Tanjung Gusta Medan Rusuh, 6 narapidana
tewas, diantara yang tewas tersebut ada beberapa yang dituding sebagai alumni
sekolah tahun 1976, seperti Rahman Toyo. Pria asal paloh Muara dua Lhokseumawe.
Lepas dari kejadian itu, tahun
1997 sebuah aksi heroik dan bak kejadian dalam film laga kembali terjadi, waktu itu sekelompok orang bersenjata melakukan perampokan Bank Central Asia Lhokseumawe. Perampokan ini dituding dilakukan
oleh pentolan sekolah 1976, nama Almarhum Ahmad kandang disebut ikut terlibat.
Namun ia lolos dari kejaran polisi dan TNI saat itu.
Ekses dari perampokan itu
Abdussalam pentolan GAM Baktya Aceh Utara di tembak aparat keamanan, kemudian
berlanjut pertempuran dengan Rahman Paloh di perbukitan Paloh Meuria hingga
menewaskan pentolan 1976 itu.
Tahun 1998, situasi
poltik Indonesia semakin tidak jelas, sementara di Aceh gejolak tuntutan
operasi pasukan khusus bersandi operasi jarring merah getol disuarakan
mahasiswa untuk dicabut.
Akhirnya Wiranto selaku panglima
saat itu mencabut status aceh daerah operasi militer yang sudah berlangsung
dari tahun 1989. Sementara tuntutan reformasi melahirkan presiden Soeharto
mundur.
Masa itulah sejumlah alumni tahun
1976 kembali ke Aceh dari Malaysia, penguatan barisan terjadi didesa –desa,
pelatihan militee pun dilakukan. Hingga kemudian pembelian senjata.
Para calon –calon siswa yang
sebelum nya tidak mendaftarkan diri memilih langsung bergabung, ada juga yang
sudah duluan bergabung memilih non aktif. Lahirlah semangat muda, dan terbuka. Dari penjelasan
tentang kemerdekaan Aceh dengan cara bisik-bisik dan tersembunyi berubah menjadi
terbuka.
Hampir setiap malam ada ceramah
Aceh Merdeka. Tidak tanggung dalam ceramah itu berbagai kata petuah keluar dari
penceramah dan berbagai kata semangat dan harapan pun muncul disana.
Tentera Negara Aceh pun bermunculan,
jumlahnya 3 sampai 5 orang setiap ada
ceramah, ,mereka berpakaian khusus, memakai jaket besar dan topi. Masyarakat
mencuri curi pandang melihat tentara “Droeteh” (Tentera kita) seperti sang
Isabeella yang baru datang. Begitulah kangen dan senangnya.
Tidak tanggung dalam ceramah itu
juga tersebutkan bahwa kemerdekaan Aceh tidak akan lama lagi, sejumlah Negara
didunia telah menyatakan mendukung perjuangan Aceh. “ Hanjeut merdeka Tim-Tim
segolom, Meeerrrrdeka Azunn jih Aceh Sumatera Merdeka (Tidak Boleh Merdeka
Timor Timor sebelum Merdeka Abangnya Aceh Sumatera Merdeka)
Itulah petikan kalimat dari
penceramah pada saat ceramah berlangsung di sebuah desa di Kecamatan Sawang
Aceh pada masa itu. Kata itu membuat para penonton terkesima dan seperti tenaga double cabin terasuk semangat.
Setelah selesai ceramah, masyarakat
kembali ke desa masing-masing. Diwarung kopi mereka pun melanjutkan berdiskusi
tentang apa yang didengarkan dalam ceramah tadi. Masyarakat yang berani dan
bersimpati semakin bangga.
Sementara yang tidak berani
memilih diam. Ada juga yang takut bakal datang lagi tentera khusus,
seperti kejadian era 90-an. Namun
ketakutan itu terbantahkan dengan kehadiran Tentara Negara Aceh (TNA) dengan sepatu warna-warni dan memanggul
senjata yang macam ragam. Serta bendera diikat di kepala.
Bagi masyarakat awam yang hanya
berfungsi sebagai penerima informasi, keyakinan tentang kemerdekaan dan bendera
terangkum layaknya besi baja yang di press dengan kekuatan seribu ton. Begitulah
kira-kira melekat.
Keyakinan itu pun timbul
tenggelam, jika suasana lagi sepi keyakinan itupun semakin sepi, tetapi jika ada
yang ada yang pancing semangat dan keyakinan itupun akan semakin meriah,
apalagi dalam kemeriahan berputar kembali atau di putar kembali dengan sejumlah
paparan harapan yang dapatkan dimasa silam.
Maka tidak heran bagi masyarakat awam, kemunculan bendera bintang bulan
belakangan ini, bi-la ada yang kecewa, dapat menghapus kekecewaan, bila-ada
jengkel, dapat menghapus kejengkelan, bila ada, tidak suka, menghapus ketidaksukaan, dan bila ada kesalahan, juga dapat menghapus kesalahan.
Karena bendera itu bagi
masyarakat awam, dapat memutarkan kembali sejumlah harapan yang pernah mereka
dengarkan, dalami,fahami, hingga bi-la ada sebelumnya, sudah sempat terlintas
keputus-asaan, dengan bendera ini terpulanglah kembali semangatnya.
Kondisi ini adalah makanan yang
enak, protein yang sehat bagi para pelaku yang hendak memamfaatkan komunal masyarakat itu. Dimana pelaku hanya butuh sedikit
polesan bahasa yang se-akan-akan dia berperan sebagai
motor untuk mewujudkan apa yang sedang diyakini mereka (masyarakat).
Dan masyarakat khususan ini akan
kembali ikut, dan lepas landas terbang ke angkasa seperti pesawat dengan sejuknya angin yang menerpa
ketiak mereka, hanya untuk meneruskan keyakinannya lama bersambung dizaman kekinian.
Dan bila petir menghadang dan terjadi kekosongan udara, mereka terhempas sendirian hingga terjadi patah tulang, namun keyakinan itu tetap melekat. Dan tak heran setelah kesembuhan, mereka kembali dan mendapatkan judul baru, dan jadilah keyakinan
baru, hingga seterusnya.
Hanya sedikit dari komunal
masyarakat itu yang terlepas lekatan
keyakinan beriring berjalan waktu, dan menemukan pelajaran baru, hingga mereka
menemukan keyakinan normal, menemukan pilahan-pilihan antara satu keyakinan yang memungkinkan atau tidak.
Pelajaran Sekolah 76 yang sudah
40 tahun melekat. Keyakinan yang sulit hilang dijiwa masyarakat awam, kecuali
Allah sudah mengajak pulang. [*]

