News Update :

Pelajaran Sekolah Tahun 76 Sulit Hilang, Kecuali Allah Sudah Mengajak Pulang

Sabtu, 20 April 2013

Tahapan hafalan dan ingatan tentang bendera bintang bulan terutama bagi masyarakat awam  melumpuhkan tingkatan normal pelajaran sekolah formal di negeri ini.

Kira hitungannya begini,  Sekolah normal TK 1 tahun, SD 6 Tahun, SMP 3 Tahun, SMA 3 Tahun, Sarjana lengkap 5 tahun, S2 Dua tahun, S3 Dua tahun,  jumlahnya 22 tahun, usia sebelum sekolah 5 tahun maka jumlahnya adalah 27 tahun.

Sementara usia hafalan dan ingatan tentang Sekolah 76 tetang mata pelajaran bendera bintang bulan sudah mencapai 40 tahun, dengan hitungan pertama dideklarasikan Gerakan  Aceh Merdeka 1976, hingga 2012. dari tahun tersebut fase pendidikan dan ingatan serta tingkatan “kesulitan” tentang pendidikan bendera itu bagi masyarakat tergantung jenjang kelas (Masa) 1976 -1977 Operasi pemburuan kepada murid sekolah bendera bintang bulan masih aman –aman saja.

1978- 1980 Para murid yang sedang menempuh ilmu Bendera itu semakin di buru, sejumlah orang di tangkap dan dijebloskan ke penjara. 1980 – 1989 para murid sekolah itu ada yang sebagian meningkat ilmu prakteknya ke Libya, dan sisanya ada yang minggat ke Negeri Jiran Malaysia karena TNI terus memburu aktivitas para anak sekolah itu.

1989 Pemerintah mengambil sikap untuk memukul mundur anak murid sekolah keyakinan 1976 itu, sejumlah aparat terlatih dikirim ke Aceh, mereka memakai sandi Operasi Jaring Merah.

Saat itu sejumlah nama dan pas foto calon murid baru sekolah 1976 yang sudah di kumpulkan sama kepala sekolah di berbagai desa terpaksa di bakar dan di tanam, baselot atau ijazah bai’at sekolah itu dikuburkan didalam tanah. Namun tentera khusus tetap menemukan pentolan pentolan sekolah tersebut, baik yang benar maupun yang diduga-duga.

Setelah ditangkap ada yang berhasil lepas, ada juga yang harus menjalani tahanan diKamp Rancung untuk Aceh Utara dan Bireuen, Kamp Matang Ubi Lhoksukon, Kamp Reumoh Geudong Geulumpang Tiga Pidie, Tengbatre Kuta Binjee Aceh Timur dan sejumlah camp lainnya.

Saat itu bukan cuma kepala sekolah tingkat desa atau kecamatan sekolah 1976 yang diburu, namun sejumlah masyarakat yang didapat informasi pernah memberikan sebatang rokok dan segelas kopi untuk siswa dan siswa sekolah itu pun harus berhadapan dengan aparat, tidak sedikit yang ditangkap tanpa kembali kerumah dan diyakini sudah berpulang kepada yang khalik.

Ada juga yang selamat dengan kondisi tidak normal alias cacat. Bukan karena memberi rokok dan minum kepada siswa tahun 1976 akan berbahaya, memiliki kesamaan nama pun bakal menemui ajal, jika tidak ada yang membenarkan informasi yang dikantongi Pasukan khusus jaring merah itu.

Tidak sedikit masyarakat yang tidak terdaftar sebagai murid sekolah 1976 yang tewas saat itu, terkadang ada yang tewas karena  persoalan hutang dan sejumlah persoalan lain
yang sama sekali tidak terkait dengan sekolah 1976 itu. 

Bagi yang muda dan cepat mengambil sikap, Situk dan Geulapak dijadikan perahu untuk melarikan diri ke Malaysia, namun bagi yang bertahan di nanggroe harus giat berdoa agar mulut masyarakat selalu terkunci supaya  waktu diseleksi oleh pasukan khusus tentang siapa murid sekolah tahun 1976 didesa-desa, masyarakat tidak membuka dan memberitahukannya.

Ditengah pencarian pasukan khusus, masih ada sejumlah siswa sekolah 76 yang bertahan dan dan menghindar dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu Paya (rawa) ke Paya (rawa) yang lain. Untuk bertahan hidup, mereka di pasok makanan oleh calon-calon siswa yang sudah mendapat basic training.

Tidak heran kesetiaan para calon ini, mengalahkan ular piton di semak-semak atau di rawa-rawa. Pasalnya mereka  tidak pandang bulu, siang maupun malam, selalu setia  mencari tempat persembunyiaan siswa, untuk diantarkan sedikit makanan sebagai penyambung hidup.

Saat situasi pahit itu, ilmu dan pelajaran yang didapatkan tidak berkurang, malah semakin hari semakin bertambah. Karena dalam kesempitan itu diantara mereka saling mengajarkan dan saling meyakini. 

Di kawasan Aceh Utara dan Bireuen  pentolan sekolah 1976 yang paling terkenal era 1989 adalah Saed Adnan (Gubernur GAM Pasee) dan Panglima Yusuf Ali.

Kedua orang ini bergerilya dihutan pedalaman Aceh Utara dan Bireuen. Disamping merek berdua ada sejumlah pentolan lainnya yang paling  diburu saat itu, seperti Ishak Daud, Liton, M. Nasir, Robert, Panglima Hamzah, Rahman Toyo, Rahman Paloh, Abu Sanusi, Sofyan Dawod, dan sejumlah alumni sekolah 1976 lainnya.

Pencarian dan pemburuan yang dilakukan pasukan khusus terhadap pentolan itu, sampai ke pelosok desa. Namun ditengah gencarnya pemburuan, alumni sekolah 76 juga menjadikan test secara alamiah terhadap siswa, tentang keyakinan kemerdekaan dan keyakinan untuk tetap dalam syaf perjuangan.  Proses alamiah itulah secara lambat laun keyakinan tertransfer ke jiwa masyarakat terutama di daerah pedalaman pesisir Timur dan Utara Aceh.

Sejumlah masyarakat dan orang  yang sudah mendapat tausiah tentang Aceh Merdeka, merasa yakin dan gembira bahwa  suatu ketika Aceh seperti Brunei Darussalam. Megah dan rakyatnya sejahtera.Keyakinan itu mendarah daging, tidak akan lepas dengan irisan tajam kulit rumbia. 

Setiap simpatisan atau murid sekolah tersebut mendapatkan pendidikan berjenjang. Dari cerita mulut ke mulut, hingga mengundang orang tua (orang yang paham) di sekolah 1976 untuk menjelaskan duduk perkara Aceh Merdeka.

Dari sanalah mereka yang belum jelas mendapatkan kembali penjelasan tentang bagaimana, Bernanggroe, Hukum internasional, Cerita lobi yang dilakukan wali Hasan Tiro, dan dukungan Internasional. 

Kehebatan sosok Almarhum Hasan Tiro dalam cerita itu memudahkan para perekrut menemukan calon siswa baru. Setelah sekian lama hasil penjelasan itu merendam didalam bathin setiap calon dan siswa. Kemudian secara perlahan   mengalami proses ekplorasi secara pribadi maupun sesama kawan yang sama-sama mendapatkan pendidikan itu.

Terkadang untuk menambah ilmu, mereka juga kedatangan majalah dan kaset yang dibawa oleh senior atau kepala sekolah didistrik tertentu, kaset dan majalah itu di baca sama-sama,. 

Saat itulah, semuanya memancarkan wajah keceriaan pertanda senang dan bahagia.  

Pelajaran yang ditemukan disini terkunci didalam pikiran individu masing-masing. Semangat Aceh bakal berjaya seperti Brunei termaktub dalam keyakinan itu.

Dikala era 1989 berbagai program TNI masuk kedesa, sejumlah siswa sekolah menghentikan aktivitas diskusi tentang keyakinan 1976.

Nah aksi Ishak Daud,  pria berpostur tinggi tegap yang tidak lain adalah anggota pasukan perang TNA (Teuntara Neugara Atjeh)  Tahun 1990 melakukan penyerangan ke pos TNI di Desa Buloh Blang Ara pada dan berhasil merampas 22 pucuk senjata M-16 dan senjata jenis Minimi, seperti dalam film India. 

Insiden ini seperti mendapat energen baru sebagai penyemangat bagi calon siswa atau para siswa yang sedang belajar di sekolah 1976. Setiap detik informasi tentang penangkapan sejumlah orang, menjadi kabar buruk bagi siswa sekolah ini pada masa itu.  

Lagi, Sabtu tanggal 28 Desember 1991 Yusuf Ali 46 tahun, Panglima Aceh Merdeka Wilayah Pasee ditembak oleh TNI di desa Kreung Gunci Kecamatan Peusangan Bireuen.

Aktivitas pemburuan terhadap Yusuf Ali sudah sangat lama, hingga waktu itu ada kabar menyebutkan bahwa istri Yusuf Ali memakai baju merah. Akibat informasi tersebut sejumlah perempuan dikawasan Peusangan, Makmur dan Sawang harus menguburkan niat untuk berdandan dengan baju merah, karena takut dianggap sebagai istri Yusuf Ali.

Memang, perjalanan sekolah ini terlihat sunyi, namun bisik-bisik tentang keyakinan di pedesaan beredar seperti sinyal terkomsel, ada, namun tidak terlihat. Masyarakat yang mengetahui, tetapi tidak ikut menjadi siswa memilih diam. Karena mereka juga setuju dengan selentingan kabar yang disebutkan bahwa Aceh akan berjaya bila Merdeka.

Tidak sedikit masyarakat yang belum mengetahui tentang Ilmu dalam sekolah ini mengundang guru untuk dijelaskan. Para guru atau kepala sekolah yang datang dengan macam model, ada yang membawa alat penjelasan berupa foto senjata, foto Alm Hasan Tiro berfose dengan orang asing atau bule, membawa majalah yang memuat Hasan Tiro dan ada juga membawa gambar bendera.

Setelah penjelasan itu, masyarakat atau calon siswa sudah mengenal bendera, sebagai tanda untuk mencapai kemegahan di kemudian hari, dari sana, ia berpikir mendengar dan mendiskusikan sesama teman kembali.  

Tentunya hidup yang susah tanpa pendapatan yang jelas, semua orang menginginkan kesejahteraan, apalagi yang dipaparkan adalah kemegahan yang luar biasa. Semua nya dapat naik mobil, rumah tersedia, ada gaji setiap penduduk, penduduk hanya baca –baca hikayat dan ngopi ngopi saja tidak usah kerja. 

Siapa pun manusia pasti sangat gembira dan setuju untuk kesejahteraan yang seperti ini. Termasuk juga penulis juga sangat senang that bila itu terjadi.

Setelah insiden menimpa Yusuf Ali, ada peristiwa tragis yang masih berhubungan dengan sekolah itu, yaitu  LP Tanjung Gusta Medan Rusuh, 6 narapidana tewas, diantara yang tewas tersebut ada beberapa yang dituding sebagai alumni sekolah tahun 1976, seperti Rahman Toyo. Pria asal paloh Muara dua Lhokseumawe.

Lepas dari kejadian itu, tahun 1997 sebuah aksi heroik dan bak kejadian dalam film laga kembali terjadi, waktu itu sekelompok orang bersenjata melakukan  perampokan Bank Central Asia Lhokseumawe. Perampokan ini dituding dilakukan oleh pentolan sekolah 1976, nama Almarhum Ahmad kandang disebut ikut terlibat. Namun ia lolos dari kejaran polisi dan TNI saat itu.

Ekses dari perampokan itu Abdussalam pentolan GAM Baktya Aceh Utara di tembak aparat keamanan, kemudian berlanjut pertempuran dengan Rahman Paloh di perbukitan Paloh Meuria hingga menewaskan pentolan 1976 itu.

Tahun 1998, situasi poltik Indonesia semakin tidak jelas, sementara di Aceh gejolak tuntutan operasi pasukan khusus bersandi operasi jarring merah getol disuarakan mahasiswa untuk dicabut.

Akhirnya Wiranto selaku panglima saat itu mencabut status aceh daerah operasi militer yang sudah berlangsung dari tahun 1989. Sementara tuntutan reformasi melahirkan presiden Soeharto mundur.

Masa itulah sejumlah alumni tahun 1976 kembali ke Aceh dari Malaysia, penguatan barisan terjadi didesa –desa, pelatihan militee pun dilakukan. Hingga kemudian pembelian senjata.

Para calon –calon siswa yang sebelum nya tidak mendaftarkan diri memilih langsung bergabung, ada juga yang sudah duluan bergabung memilih non aktif. Lahirlah  semangat muda, dan terbuka. Dari penjelasan tentang kemerdekaan Aceh dengan cara bisik-bisik dan tersembunyi berubah menjadi terbuka.

Hampir setiap malam ada ceramah Aceh Merdeka. Tidak tanggung dalam ceramah itu berbagai kata petuah keluar dari penceramah dan berbagai kata semangat dan harapan pun muncul disana.

Tentera Negara Aceh pun bermunculan, jumlahnya  3 sampai 5 orang setiap ada ceramah, ,mereka berpakaian khusus, memakai jaket besar dan topi. Masyarakat mencuri curi pandang melihat tentara “Droeteh” (Tentera kita) seperti sang Isabeella yang baru datang. Begitulah kangen dan senangnya.

Tidak tanggung dalam ceramah itu juga tersebutkan bahwa kemerdekaan Aceh tidak akan lama lagi, sejumlah Negara didunia telah menyatakan mendukung perjuangan Aceh. “ Hanjeut merdeka Tim-Tim segolom, Meeerrrrdeka Azunn jih Aceh Sumatera Merdeka (Tidak Boleh Merdeka Timor Timor sebelum Merdeka Abangnya Aceh Sumatera Merdeka)

Itulah petikan kalimat dari penceramah pada saat ceramah berlangsung di sebuah desa di Kecamatan Sawang Aceh pada masa itu. Kata itu membuat para penonton terkesima dan  seperti tenaga double cabin terasuk semangat.

Setelah selesai ceramah, masyarakat kembali ke desa masing-masing. Diwarung kopi mereka pun melanjutkan berdiskusi tentang apa yang didengarkan dalam ceramah tadi. Masyarakat yang berani dan bersimpati semakin bangga.

Sementara yang tidak berani memilih diam. Ada juga yang takut bakal datang lagi tentera khusus, seperti  kejadian era 90-an. Namun ketakutan itu terbantahkan dengan kehadiran Tentara Negara Aceh (TNA)  dengan sepatu warna-warni dan memanggul senjata yang macam ragam. Serta bendera diikat di kepala.

Bagi masyarakat awam yang hanya berfungsi sebagai penerima informasi, keyakinan tentang kemerdekaan dan bendera terangkum layaknya besi baja yang di press dengan kekuatan seribu ton. Begitulah kira-kira melekat.

Keyakinan itu pun timbul tenggelam, jika suasana lagi sepi keyakinan itupun semakin sepi, tetapi jika ada yang ada yang pancing semangat dan keyakinan itupun akan semakin meriah, apalagi dalam kemeriahan berputar kembali atau di putar kembali dengan sejumlah paparan harapan yang dapatkan dimasa silam.

Maka tidak heran bagi masyarakat  awam,  kemunculan bendera bintang bulan belakangan ini, bi-la ada yang kecewa, dapat menghapus kekecewaan, bila-ada jengkel, dapat menghapus kejengkelan, bila ada, tidak suka, menghapus ketidaksukaan, dan bila ada kesalahan, juga dapat menghapus  kesalahan.

Karena bendera itu bagi masyarakat awam, dapat memutarkan kembali sejumlah harapan yang pernah mereka dengarkan, dalami,fahami, hingga bi-la ada sebelumnya,  sudah sempat terlintas keputus-asaan, dengan bendera ini terpulanglah kembali  semangatnya.

Kondisi ini adalah makanan yang enak, protein yang sehat bagi para pelaku yang hendak memamfaatkan komunal masyarakat itu. Dimana pelaku hanya butuh sedikit polesan bahasa  yang se-akan-akan dia berperan sebagai motor untuk mewujudkan apa yang sedang diyakini mereka (masyarakat).

Dan masyarakat khususan ini akan kembali ikut, dan  lepas landas terbang ke angkasa seperti pesawat dengan sejuknya angin yang menerpa ketiak mereka, hanya  untuk meneruskan keyakinannya lama bersambung  dizaman kekinian.

Dan bila petir menghadang dan terjadi kekosongan  udara, mereka terhempas sendirian hingga terjadi patah tulang, namun keyakinan itu tetap melekat.  Dan tak heran setelah kesembuhan,  mereka kembali dan mendapatkan judul baru, dan jadilah keyakinan baru, hingga seterusnya.

Hanya sedikit dari komunal masyarakat  itu yang terlepas lekatan keyakinan beriring berjalan waktu, dan menemukan pelajaran baru, hingga mereka menemukan keyakinan normal, menemukan pilahan-pilihan antara satu keyakinan yang  memungkinkan atau tidak. 

Pelajaran Sekolah 76 yang sudah 40 tahun melekat. Keyakinan yang sulit hilang dijiwa masyarakat awam, kecuali Allah sudah mengajak pulang. [*]







Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016