News Update :

OKI Kritik Myanmar Soail Rohingya

Rabu, 17 April 2013


acehtraffic.com- Organisasi Kerjasama Islam (OKI) membahas siatuasi darurat yang dialami muslim Myammar dan menganggap bahwa Negara yang mayoritas ummad Budha tersebut tidak respon untuk menyelesaikan persoalan Etnis Rohingya tersebut.

Tanggal 14 April 2013 lalu, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menggelar sidang darurat membahas kondisi mengenaskan muslim Myanmar. Di sidang tersebut, Sekjen OKI, Ekmeleddin İhsanoğlu dalam pidatonya mengkritik keras sikap negatif pemerintah Myanmar untuk menyelesaikan persoalan umat muslim di negara itu memperingatkan dampak luas dari aksi kekerasan umat Budha radikal terhadap minoritas muslim Rohingya serta merembetnya krisis tersebut ke pusat.

Sekjen OKI terkait hal ini mengatakan, kelompok radikal menilai sikap negatif pemerintah Myanmar sebagai pendorong bagi mereka untuk melakukan kejahatan dan hasilnya adalah berlanjutnya aksi kejahatan itu sendiri  serta meluasnya ke wilayah lain.

Kelompok kontak bagi kaum minoritas Rohingya di OKI juga menuntut pengiriman tim pencari fakta oleh komisi Hak Asasi Manusia PBB ke Myanmar serta menekankan bantuan negara tetangga, Bangladesh dan Malaysia untuk menyelesaikan krisis umat Muslim Myanmar.

Seruan OKI ini dirilis di saat sejak satu tahun lalu hingga kini berbagai upaya organisasi ini untuk mengirim delegasi ke Myanmar guna menyelidiki kejahatan umat Budha radikal terhadap muslim Rohingya tetap gagal.

Meski pemerintah Myanmar seraya menolak pengiriman delegasi OKI tetap menekankan penyelesaian krisis oleh pemerintah negara ini serta kontrol militer untuk mencegah menjalarnya kekerasan, namun terbongkarnya berita mengejutkan terkait kinerja militer Myanmar terhadap muslim negara ini mengindikasikan bahwa pasukan keamanan Myanmar terlibat dalam aksi kejahatan terhadap umat muslim.

Beberapa hari lalu, sejumlah media di laporannya menyebutkan, perempuan dan anak gadis Muslim negara bagian Arakan, Myamnar yang ditahan di penjara dijadikan obyek seksual.

Meski militer dan pemerintah Myanmar mengklaim netral dalam kasus kejahatan terhadap muslim Rohingya, di berbagai laporan disebutkan bahwa militer negara ini menjadikan perempuan muslimah yang ditahan sebagai pelampiasan seks mereka. Apalagi sejumlah berita menyebutkan perempuan tersebut diseret secara paksa ke pos-pos militer Myanmar.

Berita mengiriskan ini terus menyebar di saat presiden Myanmar masih tetap saja berkutat dengan pidato kosongnya terkait persatuan. Presiden Myanmar juga memanfaatkan pasukan keamanan dan militer untuk mengakhiri tragedi yang saat ini bukan saja terjadi di negara bagian muslim Arakan, namun juga merembet ke wilayah pusat negara ini.

Bulan lalu, umat Budha radikal terus melancarkan operasi pembersihan etnis di negara ini dengan menyerbu rumah dan masjid umat Muslim di sekitar pusat Myanmar. Dalam aksi brutalnya selain menewaskan puluhan orang, umat Budha radikal ini juga menjarah harta benda umat muslim. Oleh karena itu harus dikatakan bahwa peringatan OKI dan seruan pemerintah Myanmar untuk bersatu belum cukup mengobati penderitaan yang dialami umat muslim negara ini.

Sejatinya langkah paling penting adalah mengakui secara resmi muslim Myanmar sebagai kaum minoritas oleh pemerintah. Karena dengan tidak diakuinya secara resmi hak-hak warga muslim oleh pemerintah Myanmar saat ini bukan saja mendorong kejahatan umat Budha radikal, tapi tidak adanya kewarganegaraan secara resmi memungkinkan militer negara ini mengusir warga Muslim.

Padahal berbagai data sejarah membuktikan bahwa Muslim Myanmar sejak lama telah tinggal di negara ini khususnya di negara bagian Arakan. Namun mereka sampai saat ini masih belum juga mendapat hak-hak legal mereka sebagai warga Myanmar| AT | R | Irib|
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016