The Aceh Traffic Media |
- »

Kisah PT Arun NGL Menggerus Isi Perut Bumi Aceh

Tuesday, April 2, 2013

Share berita ini :










Lhokseumawe | acehtraffic.com - PT Arun NLG yang terletak di Blang Lancang Kota Lhokseumawe, pada 24 Oktober 1971, gas alam yang terkandung di bawah Gampong (desa) Arun ditemukan dengan perkiraan cadangan mencapai 17,1 trilyun kaki kubik. 

Seluruh masyarakat Aceh juga mengetahui bahwa PT Arun tersebut merupakan perusahaan gas raksasa di Aceh, namun mereka tidak tau bahwa PT Arun juga memeras seluruh isi bumi baik gas, kondensat, sulfur, mercury dan lain lain. 

Hari itu merupakan hari ke-73 sejak uji eksplorasi yang dipimpin Bob Graves, pimpinan eksplorasi Mobil Oil di Aceh, dimulai. Pada tahun 1972 ditemukan sumber gas alam lepas pantai di ladang North Sumatra Offshore (NSO) yang terletak di Selat Malaka pada jarak sekitar 107,6 km dari kilang PT Arun di Blang Lancang. 

Selanjutnya pada tahun 1998 dilakukan pembangunan proyek NSO “A” yang diliputi unit pengolahan gas untuk fasilitas lepas pantai (offshore) dan di PT Arun. Fasilitas ini dibangun untuk mengolah 450 MMSCFD gas alam dari lepas pantai sebagai tambahan bahan baku gas alam dari ladang arun di Lhoksukon yang semakin berkurang. Tanggal 16 Maret 1974, PT Arun didirikan sebagai perusahaan operator. 

Perusahaan ini baru diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 19 September 1978 setelah berhasil mengekspor kondensat pertama ke Jepang (14 Oktober 1977). Pemilik saham perusahaan tersebut dipegang oleh Pertamina (55%), Exxon Mobil (30%), dan Japan Indonesia LNG Company (disingkat JILCO; 15%).

Menurut data-data pengukuran elektronik melalui film-film yang diambil di lapangan dan dianalisis di pusat analisis Mobil Oil di Dallas, Amerika Serikat , ladang gas Arun terletak di dalam lapisan batu gamping pada kedalaman 10.000 kaki (3.048 meter). 

Kandungan gas mencapai 17,1 trilyun kaki kubik dengan tekanan 499 kg/cm, suhu 177 °C, dan ketebalan 300 meter. Jumlah tersebut diperkirakan akan dapat mensuplai enam unit dapur pengolahan (train) dengan kapasitas masing masing 300 juta SCFD (Standard Cubic Feet Day) untuk jangka waktu 20 tahun. 

Ladang gas tersebut terdiri dari empat (4) buah kluster gas dan kondensat, kemudian gas dan kondensat dikirim ke unit pengumpulan di Point "A" yang selanjutnya dikirim ke kilang LNG Arun dengan memakai pipa: Gas menggunakan pipa berdiameter 42 inch. 

Kondensat menggunakan pipa berdiameter 16 inch. LPG propana menggunakan pipa berdiameter 20 inch. Kilang LNG Arun di Blang Lancang meliputi daerah seluas 271 ha dengan panjang 1,7 km dan lebar 1,5 km serta dilangkapi dengan pelabuhan khusus pengangkut produksinya. 

Kilang LNG Arun dilengkapi dengan 2 buah pelabuhan LNG untuk pengiriman produksinya ke negara pembeli, sedangkan untuk pengiriman kondensat dilengkapi dengan 2 buah sarana pemuat, yaitu Single Point Mooring (SPM) dan Multi Buoy Mooring (MBM). Produk condensate diekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Singapura, Amerika, Australia, Perancis dan Selandia Baru.

Pada awal beroperasinya, kilang Arun hanya memproduksi LNG dan condensate. Kemudian dilakukan pengembangan produk dengan memanfaatkan adanya komponen-komponen gas propana dan butana yang terkandung di dalam feed gas.

Pada tanggal 15 Juli 1986, disusun rencana pembangunan kilang LPG, oleh PERTAMINA dan pembeli dari negara Jepang yang sebelumnya telah dilakukan penelitian terhadap kilang dan komposisi gas alam agar pengembangan produk yang dilakukan, tidak mengganggu mutu dan jumlah produksi LNG.

Pembangunan kilang LPG dimulai pada tanggal 24 Februari 1987, berdasarkan kontrak yang disepakati oleh PERTAMINA dan JGC Corporated sebagai kontraktor utama, dibawah pengawasan PLLP (PERTAMINA LNG-LPG Project). Lokasi pembangunannya berdam-pingan dengan kilang LNG terdahulu.

Pembangunan dilakukan dalam tiga tahap. Pembangunan pertama dimulai pada Februari 1987 dan selesai pada Juni 1988. Tahap kedua selesai Oktober 1988 dan tahap ketiga selesai pada Desember 1988 dan pengapalan perdana produk LPG pada tanggal 2 Agustus 1988 ke negara Jepang.

Tahun 1998, sesuai dengan kontraknya, produksi LPG dihentikan, tapi kilangnya tetap beroperasi untuk menjaga keseimbangan komposisi feed gas yang akan dicairkan di Unit 4X.
Seiring waktu dan berkurangnya cadangan gas alam di point-A, EMOI kembali menemukan cadangan gas di lepas pantai, yang disebut dengan North Sumatera Offshore (NSO). 

Tapi cadangan gas ini mengandung banyak senyawa sulfur (H2S) yang mengganggu proses pencairan gas alam. Maka pada tahun 1997 kilang NSO mulai dibangun dan dioperasikan pada tahun 1999 dengan tujuan memurnikan feed agar relatif sama dengan feed gas yang berasal dari point-A dan menghasilkan sulfur sebagai produk samping yang juga bernilai jual.

Kilang LNG Arun memiliki puluhan unit-unit utama dan pendukung, yang dimulai dari unit-unit di Inlet Facilities sampai dengan unit-unit di bagian pengapalan (loading). 


Secara umum tugas dari proses di kilang LNG Arun, Menerima gas dan condensate dari point-A (Lhoksukon) dan ladang NSO. Memurnikan dan mengolah feed gas menjadi produk LNG sesuai spesifikasinya. Menyimpan, mengapalkan produk LNG, condensate, sulfur,  mercury dan limbah B3 lain yang juga bernilai jual. 

Kegunaan Produk Sulphur Terutama untuk pabrik pupuk, untuk pembuatan SC2, sama baiknya seperti asam belerang ( Sulfuric Acid), Bahan dasar kain, Bahan campuran  semen, Bahan perekat material lainnya. 

Jadi jangan berfikir jika PT Arun NLG hanya memproduksi gas sahaja dan berkata “tidak ada keuntungan tahun ini” demi terhindar dari tuntutan masyarakat agar PT Arun Transparan menyebut besaran total nominal CSR tiap tahun. 

Meskipun demikian, kini perusahaan gas raksasa itu diprediksi hampir tamat riwayatnya pada tahun 2014, mengantisipasi hal tersebut segenap elit pertamina dan awak PT Arun terus bekerja untuk mengalih fungsi tabung-tabung raksasa itu menjadi tempat terminal penyimpanan minyak dan gas. | AT | IS | Sumber e-Book1,2,3 LNG NSO | 

Baca Juga: 
Lika-liku Revitalisasi, “Amal Baik CSR” dan “Kebohongan” PT Arun NGL


Redaksi menerima sumbangan tulisan dalam bentuk opini, artikel atau pengalaman pribadi. Setiap tulisan dapat dikirim ke email redaksiaceh.traffic@gmail.com dan disertai identitas dengan mencantumkan nomor telepon/email.