News Update :

Etika Santri Dalam Masyarakat

Kamis, 25 April 2013


Bila kita berbicara tentang etika maka objek yang sangat penting kaitannya yaitu perilaku. Perilaku yang baik akan menunjukkan etika yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari, orang akan melihat perilaku seseorang untuk menyimpukan etika orang tersebut.

Kehidupan santri merupakan kehidupan yang memiliki wadah dalam sebuah komunitas tertentu. Artinya bahwa komunitas ini merupakan komunitas pendidikan yang memiliki wadah yang biasa kita sebut dengan pesantren. 

Sedangkan santri merupakan sebutan bagi mereka yang belajar di pesantren. Santri akan melakukan berbagai interaksi dengan komunitas mereka dalam pesantren.

Pesantren adalah sebuah wadah kehidupan yang unik, sebagaimana dapat disimpulkan dari gambaran lahiriahnya. Pesantren adalah sebuah kompleks dengan lokasi yang umumnya terpisah dari kehidupan di sekitarnya.

Dalam kompleks itu berdiri beberapa buah bangunan: rumah kediaman pengasuh (didaerah berbahasa Jawa disebut kiai, di daerah berbahasa Sunda anjengan, dan di daerah berbahasa Madura nun atau bendara disingkat ra); sebuah surau atau masjid, tempat pengajaran diberikan (bahasa Arab madrasah, yang juga terlebih sering mengandung konotasi sekolah); dan asrama tempat tinggal para siswa pesantren (santri).

Dalam konteks ini perlu dikaji sejauhmana nilai-nilai dibeberapa tradisi yang berkembang di pesantren yang terkait dengan etika santri di pesantren untuk diaktualkan dalam masyarakat. Didalam pesantren para santri diajarkan berbagai ilmu pengetahuan agama dan umum yang tujuannya untuk mendidik para santri menjadi insan yang dapat dijadikan panutan bagi masyarakat sekitar.

Sikap hormat, ta’dzim dan kepatuhan mutlak kepada kiai adalah salah satu nilai pertama yang ditanamkan pada setiap santri. Kepatuhan itu diperluas lagi, sehingga mencakup penghormatan kepada para ulama sebelumnya dan ulama yang mengarang kitab-kitab yang dipelajari. Kepatuhan ini, bagi pengamat luar, tampak Iebih penting dari pada usaha menguasai ilmu; tetapi bagi kiai hal itu merupakan bagian integral dari ilmu yang akan dikuasai.

Nilai-nilai etika/moral lain yang ditekankan di pesantren meliputi; persaudaraan Islam, keikhlasan, kesederhanaan, dan kemandirian. Di samping itu, pesantren juga menanamkan kepada santrinya kesalehan dan komitmen atas lima rukun Islam: syahadat (keimanan), salat (ibadah lima kali sehari), zakat (pemberian), puasa (selama bulan Ramadan), dan haji (ziarah ke Mekkah bagi yang mampu).

Santri yang sesungguhnya
Dalam lingkungan pesantren para santri dituntut untuk berperilaku baik, dengan selalu mengedepankan rasa kedisiplinan dan kebersamaan satu sama lain. Rasa kedisplinan yang diterapkan didalam pesantren merupakan kedisiplinan yang sangat mendidik. Sebagai contoh setiap santri dibiasakan untuk Shalat berjamaah.

Karena masa sekarang masyarakat menganggap bahwa pesantren yang sebenarnya adalah pesantren yang mewajibkan para santri untuk Shalat berjamaah. Anggapan sangat tepat karena begitulah hakikat lembaga pendidikan agama yang sesungguhnya. Mewajibkan para santri untuk giat melakukan ibadah yang nantinya dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Awalnya mungkin sangat berat dan sebahagian santri menganggap itu sebuah paksaan.

Namun keterpaksaan itu nantinya akan menjadi sebuah kebiasaan yang sangat berguna bagi kehidupan para santri didaerah mereka masing-masing. Masyarakat pada umumnya menganggap bahwa setiap lulusan pondok pesantren merupakan orang yang memiliki pengetahuan yang lebih dalam bidang keagamaan.

Maka tidak jarang alumni pesantren sering menjadi perbincangan dikalangan masyarakat karena menjadi sosok kepercayaan yang dapat dijadikan panutan dalam kehidupan bermasyarakat.

Maka dari itu sudah seharusnya para santri menjadi panutan dikehidupan masyarakat. Karena melalui berbagai didikan yang diterapkankan pesantren akan menjadikan para santri menjadi sosok yang siap untuk ditempatkan dimasyarakat. Santri yang baik akan dinilai melalui etika yang ditampilkan dalam masyarakat.

 Etika itu tercermin dari berbagai perilaku sehari-hari para santri ketika mereka hidup di lingkungan masyarakat. Namun ketika perilaku sebagian santri yang tidak sesuai dalam kehidupan masyarakat pada umumnya, maka yang terjadi masyarakat akan mencemooh dan terlalu melihat dari sudut pandang kesalahannya. Itu disebabkan karena statusnya merupakan santri yang dianggap oleh masyarakat merupakan orang memahami agama.

Sehingga secara otomatis mereka menganggap bahwa perilaku santri akan selalu baik. Padahal secara psikologis, ada fase perkembangan salah satunya remaja. Pada fase itu sesorang yang terus mencoba dan memiliki rasa ingin tau yang sangat tinggi. Sehinggi mereka akan berbuat kesalahan, sekalipun itu santri.

Namun pada umumnya kesalahannya akan berbeda ketika mereka telah memahami ilmu agam dengan baik, layaknya. Karena mereka dapat mengontrol emosinya sebelum melakukan tindakan. Sehingga pada intinya santri tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat, karena santri akan menjadi panutan dalam kehidupan di masyarakat.

Etika santri sebaiknya sesuai dengan yang diterapkan di lembaga pendidikan mereka. Sehingga pengaplikasian ilmunya akan sangat berguna bagi mereka dan lingkungan sekitar  dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu’alam.[]

* Dwi Chandra Pranata adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Peraih Medali Emas Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2010, Alumni SMAN Unggul Aceh Timur
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016