Bila kita berbicara tentang etika
maka objek yang sangat penting kaitannya yaitu perilaku. Perilaku yang baik
akan menunjukkan etika yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari, orang akan
melihat perilaku seseorang untuk menyimpukan etika orang tersebut.
Kehidupan santri merupakan
kehidupan yang memiliki wadah dalam sebuah komunitas tertentu. Artinya bahwa
komunitas ini merupakan komunitas pendidikan yang memiliki wadah yang biasa
kita sebut dengan pesantren.
Sedangkan santri merupakan sebutan bagi mereka
yang belajar di pesantren. Santri akan melakukan berbagai interaksi dengan
komunitas mereka dalam pesantren.
Pesantren adalah sebuah wadah
kehidupan yang unik, sebagaimana dapat disimpulkan dari gambaran lahiriahnya.
Pesantren adalah sebuah kompleks dengan lokasi yang umumnya terpisah dari
kehidupan di sekitarnya.
Dalam kompleks itu berdiri
beberapa buah bangunan: rumah kediaman pengasuh (didaerah berbahasa Jawa
disebut kiai, di daerah berbahasa Sunda anjengan, dan di daerah berbahasa
Madura nun atau bendara disingkat ra); sebuah surau atau masjid, tempat
pengajaran diberikan (bahasa Arab madrasah, yang juga terlebih sering
mengandung konotasi sekolah); dan asrama tempat tinggal para siswa pesantren (santri).
Dalam konteks ini perlu dikaji
sejauhmana nilai-nilai dibeberapa tradisi yang berkembang di pesantren yang
terkait dengan etika santri di pesantren untuk diaktualkan dalam masyarakat.
Didalam pesantren para santri diajarkan berbagai ilmu pengetahuan agama dan
umum yang tujuannya untuk mendidik para santri menjadi insan yang dapat
dijadikan panutan bagi masyarakat sekitar.
Sikap hormat, ta’dzim dan
kepatuhan mutlak kepada kiai adalah salah satu nilai pertama yang ditanamkan
pada setiap santri. Kepatuhan itu diperluas lagi, sehingga mencakup
penghormatan kepada para ulama sebelumnya dan ulama yang mengarang kitab-kitab
yang dipelajari. Kepatuhan ini, bagi pengamat luar, tampak Iebih penting dari
pada usaha menguasai ilmu; tetapi bagi kiai hal itu merupakan bagian integral
dari ilmu yang akan dikuasai.
Nilai-nilai etika/moral lain yang
ditekankan di pesantren meliputi; persaudaraan Islam, keikhlasan,
kesederhanaan, dan kemandirian. Di samping itu, pesantren juga menanamkan
kepada santrinya kesalehan dan komitmen atas lima rukun Islam: syahadat
(keimanan), salat (ibadah lima kali sehari), zakat (pemberian), puasa (selama
bulan Ramadan), dan haji (ziarah ke Mekkah bagi yang mampu).
Santri yang sesungguhnya
Dalam lingkungan pesantren para
santri dituntut untuk berperilaku baik, dengan selalu mengedepankan rasa
kedisiplinan dan kebersamaan satu sama lain. Rasa kedisplinan yang diterapkan
didalam pesantren merupakan kedisiplinan yang sangat mendidik. Sebagai contoh
setiap santri dibiasakan untuk Shalat berjamaah.
Karena masa sekarang masyarakat
menganggap bahwa pesantren yang sebenarnya adalah pesantren yang mewajibkan
para santri untuk Shalat berjamaah. Anggapan sangat tepat karena begitulah
hakikat lembaga pendidikan agama yang sesungguhnya. Mewajibkan para santri
untuk giat melakukan ibadah yang nantinya dapat diterapkan dalam kehidupan
masyarakat. Awalnya mungkin sangat berat dan sebahagian santri menganggap itu
sebuah paksaan.
Namun keterpaksaan itu nantinya
akan menjadi sebuah kebiasaan yang sangat berguna bagi kehidupan para santri
didaerah mereka masing-masing. Masyarakat pada umumnya menganggap bahwa setiap
lulusan pondok pesantren merupakan orang yang memiliki pengetahuan yang lebih
dalam bidang keagamaan.
Maka tidak jarang alumni
pesantren sering menjadi perbincangan dikalangan masyarakat karena menjadi
sosok kepercayaan yang dapat dijadikan panutan dalam kehidupan bermasyarakat.
Maka dari itu sudah seharusnya
para santri menjadi panutan dikehidupan masyarakat. Karena melalui berbagai
didikan yang diterapkankan pesantren akan menjadikan para santri menjadi sosok
yang siap untuk ditempatkan dimasyarakat. Santri yang baik akan dinilai melalui
etika yang ditampilkan dalam masyarakat.
Etika itu tercermin dari berbagai perilaku
sehari-hari para santri ketika mereka hidup di lingkungan masyarakat. Namun
ketika perilaku sebagian santri yang tidak sesuai dalam kehidupan masyarakat
pada umumnya, maka yang terjadi masyarakat akan mencemooh dan terlalu melihat
dari sudut pandang kesalahannya. Itu disebabkan karena statusnya merupakan
santri yang dianggap oleh masyarakat merupakan orang memahami agama.
Sehingga secara otomatis mereka
menganggap bahwa perilaku santri akan selalu baik. Padahal secara psikologis,
ada fase perkembangan salah satunya remaja. Pada fase itu sesorang yang terus
mencoba dan memiliki rasa ingin tau yang sangat tinggi. Sehinggi mereka akan
berbuat kesalahan, sekalipun itu santri.
Namun pada umumnya kesalahannya
akan berbeda ketika mereka telah memahami ilmu agam dengan baik, layaknya.
Karena mereka dapat mengontrol emosinya sebelum melakukan tindakan. Sehingga
pada intinya santri tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat, karena santri akan
menjadi panutan dalam kehidupan di masyarakat.
Etika santri sebaiknya sesuai
dengan yang diterapkan di lembaga pendidikan mereka. Sehingga pengaplikasian
ilmunya akan sangat berguna bagi mereka dan lingkungan sekitar dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu’alam.[]
* Dwi Chandra Pranata adalah Mahasiswa
Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Peraih Medali Emas
Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2010, Alumni SMAN Unggul Aceh Timur
