Sepertinya calon legislator dari
Partai Nasional Aceh (PNA) menghadapi tantangan berat dalam penghelatan
pemilu 2014. Pasalnya setelah Zuhra caleg Aceh Besar di ancam bunuh, berlanjut
ke T.Muhammad Zainal Abidin tewas ditembak, sampai penyerangan rumah dengan batu. Polisi
benar-benar diuji nyalinya.
Lhokseumawe | acehtraffic.com- Seorang
perempuan yang terdaftar sebagai bakal calon legislatif (bacaleg) dari Partai
Nasional Aceh (PNA) di Aceh Utara mengaku diteror oleh orang yang belum
teridentifikasi dengan cara menembakkan ‘peluru batu’ dari senjata tradisional
ketapel ke rumahnya. Sang caleg akhirnya
memberitahukan kasus itu ke polisi setelah serangan ketiga diarahkan ke
rumahnya, Jumat 26 April 2013 malam.
Bacaleg PNA dari Aceh Utara
tersebut bernama Aulia Putri, warga Gampong Paloh Lada, Kecamatan Dewantara,
Aceh Utara. Sedangkan di Aceh Besar, perempuan bernama Zuhra (31), warga
Gampong Lampisang Tunong, Kecamatan Seulimeum yang juga caleg PNA diancam tembak.
Di Pidie, seorang kader PNA ditemukan tewas dengan luka tembak.
Aulia Putri kepada Serambi
menceritakan, pada Sabtu 27 April 2013, dia bersama Pengurus PNA memberitahukan
peristiwa yang dialaminya kepada polisi. “Selama bergabung dengan PNA dan
menjadi caleg, rumah saya sudah tiga kali diketapel oleh orang tak dikenal,”
kata Aulia.
Peristiwa terbaru, menurut Aulia
terjadi Jumat 26 April 2013 malam sekitar pukul 22.00 WIB. Ketika itu dia
bersama keluarga sedang duduk-duduk di teras rumah.
“Tiba-tiba kami mendengar suara
yang keras menghantam atap rumah. Kami tersentak kaget karena mengira peluru
dari senjata api menghantam atap dan dinding,” ujar Aulia Putri.
Menurut Aulia, ketika ‘ledakan’
keras secara beruntun itu, ayahnya, Zakaria (50), yang sedang tidur dalam rumah
terbangun dan sempat ke luar untuk memastikan apa yang terjadi. “Kami langsung
tiarap karena takut terkena butiran batu yang dilontarkan dari ketapel. Ayah
saya sempat memburu ke luar namun pelakunya sudah keburu kabur,” katanya.
Sebenarnya, kata Aulia, hingga
kejadian kedua dia belum bermaksud melaporkan kasus itu ke polisi. Akan tetapi
karena terjadi lagi untuk ketiga kalinya, dia pun tak bisa membiarkan dan
akhirnya bersama Pengurus PNA Kecamatan memberitahukan ke polisi.
“Kami berharap polisi bisa
menangkap pelakunya. Sejauh ini memang tidak ada barang yang rusak, tapi
kejadian tersebut membuat keluarga kami resah dan tidak nyaman,” kata Aulia.
Kapolres Lhokseumawe, AKBP Kukuh
Santoso melalui Kapolsek Dewantara, Iptu Sofyan yang dihubungi Serambi
membenarkan telah menerima pemberitahuan dari pihak korban mengenai ‘serangan
ketapel’ oleh orang yang belum diketahui.
“Korban hanya memberitahukan
kejadian itu. Kami akan meningkatkan patroli untuk mengantisipasi hal-hal tak
diinginkan,” kata Kapolsek Dewantara. | AT | RD | Sumber Serambi |
