Aceh Utara | Acehtraffic.com - Minyak dan Gas merupakan sumber daya alam yang tak bisa diperbaharui, kedua sumber daya alam tersebut yang katanya juga digunakan untuk memajukan negara dan mensejahterakan masyarakat. Rabu 3 April 2013.
Seperti halnya di Aceh Utara, pada tahun 1971, di Kecamatan Syamtalira Aron ditemukan cadangan gas alam paling besar di dunia, oleh Mobil Oil Indonesia Incoporation. Sehingga nama desa tersebut diabadikan oleh perusahaan penghasil LNG terbesar di Indonesia dan dunia pada tahun 1991, yaitu PT. Arun NGL.
Ladang gas Arun tersebut, terletak pada lapisan batu kapur dengan kedalaman sekitar 3.000 m yang mengandung sekitar 17 trilyun ft gas dengan tekanan 490 kg/cm dan temperatur sekitar 170 0 C.
Panjang ladang gas Arun tersebut mencapai 18,5 km, lebar 5 km serta tebal 3000 m. Jumlah tersebut diperkirakan akan dapat mensuplai enam unit dapur pengolahan (train) dengan kapasitas masing masing 300 juta SCFD (Standard Cubic Feet Day) untuk jangka waktu 20 tahun.
Fasilitas yang ada di ladang gas itu, terdiri dari empat buah cluster gas dan condensate, kemudian gas dan kondensat di kirim ke unit pengumpulan yaitu point “A” yang selanjutnya di kirim ke kilang LNG Arun dengan memakai pipa: gas menggunakan pipa berdiameter 42 inci, Kondesat menggunakan pipa berdiameter 16 inci dan LPG propan menggunakan pipa berdiameter 20 inci.
Itu hanya sepenggal cerita masa lalu di Kota Petro Dolar ini, yang kaya akan hasil alam pada saat itu. Namun yang sangat ironisnya pada tahun 2015 Aceh Utara tidak lagi memiliki sumber minyak dan gas tersebut.
Bupati Aceh Utara, H. Muhammad Thaib menyebutkan. Selain tidak memiliki lagi sumber minyak dan gas, maka Aceh Utara juga tidak memiliki sumber anggaran dana Otonomi Khusus (Otsus).
“Ini yang harus kita fikirkan kedepan,” ujar H. Muhammad Thaib.
Bupati Aceh Utara, juga mengharapkan agar seluruh masyarakat untuk bisa ikut serta dan saling memberikan saran untuk kemajuan Aceh Utara di masa yang akan mendatang.| AT | AG |
