News Update :

Dana TPK Dihapus, Guru Bergerak, Disdik Lapor Ke Polisi

Jumat, 22 Maret 2013

Lhokseumawe | acehtraffic.com– Pengurus Koalisi Barisan Guru Bersatu (Kobar-GB) Kota Lhokseumawe dilaporkan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) ke Polres setempat, Kamis 21 Maret 2013 kemarin, karena mengerahkan ratusan anak didik dari ruang kelas untuk ikut demonstrasi bersama dewan guru ke Kantor Wali Kota Lhokseumawe.

Demo guru ke kantor wali kota itu dimaksudkan untuk memprotes kebijakan Wali Kota Suadi Yahya yang menghapuskan tunjangan prestasi kerja (TPK) guru bersertifikasi dan pemutasian empat guru ke Setdako. 

Untuk meramaikan aksi guru tersebut, Kobar-GB Lhokseumawe mengerahkan mulai dari murid SD, pelajar SMP, hingga ratusan siswa SLTA di seantero Kota Lhokseumawe untuk ikut serta. Akibatnya, proses belajar-mengajar di sejumlah sekolah terhenti total.

Seorang kepala sekolah bercerita kepada Serambi bahwa orang-orang dari Kobar GB datang ke sekolahnya dengan menggunakan pengeras suara dan menendang pintu dan meja belajar siswa. 

“Kemudian mereka ajak siswa untuk ikut demo,” kata seorang kepala sekolah. Jengkel dengan cara-cara Kobar-GB memobilisasi murid dari ruang kelas, alhasil sejumlah kepala sekolah didampingi Kepala Seksi Kurikulum Disdikpora Lhokseumawe Ichwansyah mendatangi Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Lhokseumawe, kemarin. Mereka melaporkan tindakan Kobar GB yang mengajak siswa ikut demo bersama guru, sehingga mengorbankan jam belajar. 

Amatan Serambi, sekitar pukul 10.00 WIB kemarin puluhan pendemo mulai berkumpul di Gedung DPRK Lhokseumawe. Kemudian mereka mendatangi sejumlah sekolah untuk mengajak para guru dan siswa untuk ikut aksi. Saat menyampaikan ajakan, para pendemo malah ada yang nekat masuk ke ruang belajar untuk mengajak murid ikut aksi. 

Di sebuah sekolah terlihat, saat pintu pagar ditutup, pendemo malah ada yang nekat naik pagar untuk mengajak guru dan pelajar ikut aksi. Setelah mendatangi sejumlah sekolah dan massa kian ramai, mereka pun menuju ke Kantor Wali Kota Lhokseumawe sambil mengusung sejumlah spanduk dan poster yang bertuliskan kalimat protes atas kebijakan Wali Kota Lhokseumawe. 

Di antaranya, “Kembalikan TPK guru kami!”, “Pemko Lhokseumawe menghapus TPK guru karena tak paham regulasi atau cari sensasi?” Poster lainnya berbunyi “Jabatan itu amanah, bukan warisan”, “Dirimu jadi raja karena guru, sayangilah dan sejahterakan kami”. Kalimat lainnya lebih tajam: Penghapusan TPK adalah bentuk tirani penguasa terhadap guru dan Pemko alergi terhadap dunia pendidikan.

Setelah orasi berlangsu
ng berapa menit, pihak guru yang diwakili Ketua Kobar GB Aceh, Sayuti Aulia bertemu dengan Sekdako Dasni Yuzar di depan kantor wali Kota. Tuntutan pendemo adalah agar Pemko Lhokseumawe tetap membayar TPK bagi guru sertifikasi serta meminta empat guru yang dipindah ke setdako dikembalikan ke tempat semula. 

Menurut Sayuti, pemindahan guru tersebut tidak sesuai dengan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan & RB) Nomor SE/15/M.PAN/4/2013 tentang Larangan Pengalihan PNS dari Jabatan Guru ke Jabatan Nonguru. Kebijakan itu juga bertolak belakang dengan Surat Keputusan Badan Kepegawaian Negera (BKN) Kantor Regional VI Nomor 081/KR.VI/BKN/IV/2007. 

Setelah menyampaikan dua petitum itu, mereka kembali berorasi di luar kantor wali kota. Tak lama kemudian, barulah massa membubarkan diri.epala Disdikpora Lhokseumawe, Drs Rusli menilai, demo yang digerakkan sekelompk guru di Lhokseumawe itu sudah melanggar program pendidikan nasional. “Seharusnya sikap pendidik memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya, bukan malah mengajari mereka hal yang tidak betul,” kata Rusli kepada Serambi. 

Ia juga mengaku kemarin banyak menerima telepon dari wali murid yang mempersoalkan anak mereka tak sekolah karena ikut demo guru.  Menurutnya, kalau memang guru ingin menuntut haknya berupa dana TPK atau memrotes kebijakan Wali Kota yang memutasi guru menjadi pegawai Setdako, silakan saja menuntut haknya secara sehat, tapi jangan libatkan murid yang sedang belajar. 

“Tunjukkanlah sikap yang mendidik kepada anak didik. “Jangan gara-gara pribadi mengorbankan kepentingan nasional dan anak didik, apalagi sekarang menjelang UN yang harus kita siapkan anak-anak menghadapi UN,” pungkas Rusli. 

Secara terpisah, Sekretaris Disdikpora Lhokseumawe, Drs A Majid mengatakan, Kobar-GB Lhokseumawe dilapor ke Polres karena telah mengganggu proses belajar di sejumlah sekolah. “Soalnya, ada siswa yang trauma, karena mereka masuk ke sejumlah sekolah dengan menendang pintu sekolah dan kursi, serta bersorak menggunakan pengeras suara. Hal ini yang membuat kami keberataan,” ujarnya. 

Meski tindakan Kobar GB itu sudah dilaporkan ke Polres Lhojseumawe, namun hingga kemarin sore belum seorang pun pengurus Kobar GB setempat atau guru yang ikut demo, dipanggil menghadap untuk diperiksa sebagai saksi, apalagi tersangka. | Serambi |

Kami  tidak Takut
Kami tak pernah merencanakan datang ke sekolah, apalagi sampai mengajak anak-anak turun ke jalan. Demi Allah tidak ada niat kami mengajak anak-anak berujuk rasa. Yang kami ajak hanyalah guru supaya bersama-sama memperjuangkan hak mereka.

Silakan saja kami dilapor ke polisi. Saya bersama Sekretaris Kobar GB Aceh, Dra Hasniati Bantasyam menghormati proses hukum dan akan datang kalau dipanggil. Sebaliknya, kami melaporkan kasus hukum serta pelanggaran aturan oleh Pemko Lhokseumawe sampai ke pihak kepolisian, Kemendagri, dan Badan Kepegawaian Negara (BKN). Kami punya data yang valid, kami tak pernah takut. Yang kami perjuangkan adalah hak guru (TPK) yang sudah dipotong.

* Sayuti Aulia, Ketua Kobar-GB Aceh. |serambi|

Akan Kami Kaji
Atas tuntutan para guru, kami akan duduk bersama dengan Wali Kota Lhokseumawe. Temasuk akan mengkaji Surat Edaran Menpan & RB. Hasil kajian itu nantinya akan kami siarkan di media massa agar semua guru tahu. Sedangkan putusan ini paling lambat akan kami sampaikan ke publik pada pekan pertama bulan April 2013.  Tapi yang kita sayangkan, kenapa dalam aksi guru ini mereka libatkan para pelajar sehingga akitivitas belajar mereka terganggu. *  Dasni Yuzar, Setdako Lhokseumawe.  | Serambi|

Pedang pun Sempat Terhunus Saat Demo
Demonstrasi yang dilancarkan guru dan peserta didik ke Kantor Wali Kota Lhokseumawe kemarin sempat menimbulkan sejumlah aksi yang tidak ada kaitan dengan isi tuntutan mereka. Di antaranya, saat sedang berlangsung unjuk rasa, sejumlah siswi ada mengangkat koran yang memuat foto Wali Kota Suadi Yahya sedang diapit tiga cewek.

Para siswi juga berteriak secara serentak, “Wali kota ngangkang!”  Selanjutnya, saat aksi terus berlanjut, tiba-tiba seorang pria tua yang dijuluki “Ayah Panglima”, mengacungkan pedang ke atas.  Aksi pria tersebut mengundang perhatian murid yang sedang ikut demo. 

Khawatir terjadi hal-hal yang tak diinginkan, kemudian tiga aparat polisi membawa pria tua tersebut ke lokasi lain.

Selain itu, aksi demo tersebut justru menimbulkan protes dari sejumlah kalangan, baik kalangan guru, komite sekolah, maupun wali murid, karena mengorbankan jam belajar siswa.
Samsul Bahri, wali murid dari siswi SMA Negeri 2 Lhokseumawe, saat mengetahui anaknya berdemo langsung datang ke lokasi dan menyuruh anaknya segera pulang. 

“Anak itu saya suruh bersekolah, bukan berdemo. Jadi, kami tidak setuju jika siswa dilibatkan dalam aksi ini,” tegasnya kepada Serambi. 

Hal yang sama diutarakan Ketua Komite SMA Negeri 1 Lhokseumawe, T Anwar Haiva. Menurutnya, akibat aksi ini proses belajar-mengajar di SMAN 1 Lhokseumawe kemarin lumpuh total. “Menurut kepala sekolah, hal ini bisa terjadi karena saat pendemo datang ke sekolah mereka memaksa murid dan guru untuk ikut aksi. Ini sangat kita sesalkan. Seharusnya apabila guru menuntut haknya, silakan saja, tapi tidak perlu melibatkan murid,” tukasnya. 

Kepala SMP Negeri 5, Hj Nuriani MPd yang juga pengurus PGRI Lhokseumawe menyesalkan sikap dari para pendemo. Menurutnya,  saat mengajak para guru dan pelajar di sekolahnya ikut demo, sikap para demonstran terlalu arogans. 

“Ada yang berteriak-teriak, ada yang menendang-nendang bangku. Kita sangat tidak setuju apabila aksi protes ini diwarnai arogansi dan melibatkan siswa yang sedang belajar,” ujar Nuraini. | AT | R | Serambi|

Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016