News Update :

AIPAC; Simbol Zionis di Pemerintahan Amerika

Rabu, 13 Maret 2013



Acehtraffic.com - Penyelenggaraan sidang tahunan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), organisasi Yahudi terbesar di Amerika dan pidato yang disampaikan di konferensi ini mencuatkan kembali masalah pengaruh Zionisme di pemerintah Amerika. Sebagaimana konferensi AIPAC di tahun-tahun sebelumnya, beberapa orang pejabat tinggi Amerika menyampaikan pidatonya. Joe Biden, Wakil Presiden Amerika ikut dalam konferensi ini.

Biasanya, bila sidang AIPAC diselenggarakan di tahun pemilu presiden Amerika, para capres dari partai Demokrat dan Republik berebut simpati politik dan dana kelompok Yahudi Amerika. Dalam konferensi tahun ini, organisasi AIPAC kembali membicarakan masalah upaya menghadapi Republik Islam Iran seperti yang disampaikan para pembicara. Para Yahudi Amerika berusaha mendapat dukungan rezim Zionis Israel dengan menyampaikan pelbagai kebohongan soal program nuklir sipil Iran. Mereka berusaha mempertebal rasa permusuhan dan kebijakan arogansi pemerintah Amerika dengan Iran.

Joe Biden yang berusaha menyelaraskan pidatonya dengan keinginan panitia penyelenggara AIPAC, kembali mengetengahkan opsi militer bagi Amerika dalam menghadapi Iran. Pengaruh lobi Zionis di pemerintah Amerika sedemikian kuatnya sehingga menjadi masalah paling penting bagi para politikus AS. Mereka bahkan bersaing untuk menyandang predikat politikus yang paling loyal kepada rezim Zionis. Itulah mengapa bersamaan dengan penyelenggaraan konferensi AIPAC, Kongres Amerika punya menyampaikan sejumlah usulananti Iran. Usulan yang drafnya telah dibuat oleh lobi Zionis.

Usulan ini tentang pentingnya melindungi rezim Zionis Israel bila Iran menyerangnya. Lindsey Graham dari partai Republik dan Robert Mendez dari Demokrat, dua senator yang mengajukan usulan ini. Mereka mengatakan, "Bila Israel terpaksa membela diri dengan kekuatan militernya, pemerintah Amerika harus membela Israel dan memberikan dukungan militer dan diplomatik."

Graham menyinggung bahwa usulan ini bukan berarti lampu hijau kepada Israel untuk menyerang Iran, tapi ia menambahkan, "Setiap senator yang memberi suara kepada usulan ini, berarti ia mengatakan kepada dunia, warga Iran dan Israel bahwa bila kondisi ini terjadi, kami bersama pemerintah zionis Israel." Joe Biden, Wakil Presiden AS dalam pidatonya di hadapan anggota AIPAC berusaha menunjukkan dirinya ingin memberi jaminan kepada warga zionis Israel, karena Obama sendiri tidak menganggap sepi ancaman Iran. Paul Pillar, Dosen Universitas Georgetown tentang usulan ini mengatakan, "Usulan ini berarti kita dengan senang hati memberikan keputusan memulai perang kepada pemerintah asing dan dampaknya sangat serius bagi Amerika."

Ketika Barack Obama, Presiden Amerika melangkahkan kakinya memasuki Gedung Putih pada Januari 2009, ia berbicara tentang upaya Amerika menyelesaikan masalah Palestina dan berusaha mencegah upaya pemimpin rezim Zionis Israel mencari alasan merusak proses perundingan dami. Tapi setelah lewat dua tahun dari periode pertama kekuasaannya, Obama mengakui tidak mampu menghidupkan kembali perundingan damai. Para pemimpin Zionis Israel tidak bersedia menghentikan pembangunan pemukiman zionis di Tepi Barat Sungai Jordan. Bahkan dengan melanjutkan pendudukan dan agresinya, pada kenyataannya telah menggagalkan upaya pemerintah AS.

Pengakuan Barack Obama bahwa upayanya telah gagal untuk menghidupkan kembali perundingan damai menunjukkan bahwa lobi Zionis Amerika inilah yang menentukan dan menerapkan kebijakan Timur Tengah negara ini, bukan pemerintah AS. Sekaitan dengan hal ini, Ariel Sharon, mantan Perdana Menteri Zionis Israel mengatakan, "Kami warga Yahudi yang mengontrol Amerika dan warga Amerika tidak mengetahuinya."

Masyarakat Yahudi Amerika diperkirakan berjumlah enam juta orang dan itu berarti kurang dari dua persen dari jumlah populasi penduduk negara ini. Tapi warga Yahudi AS ini berhasil membentuk sejumlah organisasi di sejumlah bidang dan menciptakan hubungan antara kepentingan Amerika dan Zionis Israel. Organisasi-organisasi ini berhasil tampil menjadi kelompok paling berpengaruh dalam kebijakan luar negeri pemerintah AS. Satu dari tujuan mereka adalah melakukan infiltrasi di pusat kekuatan Amerika.

Satu dari 281 organisasi Yahudi yang beraktivitas di Amerika adalah AIPAC dan kini berubah menjadi lobi paling berpengaruh di Amerika. AIPAC memulai kegiatannya sejak dekade 1950-an dan sejak pembentukannya mereka menyatakan bahwa tujuan mereka adalah meratifikasi undang-undang yang mendukung Israel. Organisasi AIPAC boleh dikata menjadi ibu bagi seluruh organisasi zionis Amerika dan yang paling besar dari organisasi lainnya. AIPAC bertanggung jawab mengkoordinasi dan menyusun program kegiatan organisasi-organisasi zionis Amerika. Organisasi ini juga bertanggung jawab mengumpulkan bantuan untuk Israel dan memiliki hubungan dengan 60 asosiasi lainnya.

AIPAC memiliki berbagai kantor dan cabang di seluruh wilayah AS dan Palestina pendudukan (Israel). Setiap cabang dipimpin oleh pimpinan cabang. Markas utama AIPAC berada di Washington dan posisi ini memudahkan lobi Zionis untuk mengakses pusat-pusat kekuasaan di AS khususnya Kongres. Anggota AIPAC juga tidak terbatas para etnis Yahudi, selain Yahudi pun diterima sebagai anggota dengan syarat mereka memiliki kesamaan visi terkait dukungan terhadap Israel serta mengarahkan kebijakan AS demi kepentingan Tel Aviv.

Setiap tahunnya AIPAC melakukan konferensi yang pada intinya untuk menentukan visi umum setahun lobi zioniz di pemerintah Amerika. Visi ini disertai dengan pertemuan dan program pendidikan yang disertai dengan lingkungan yang sesuai untuk memberikan pelatihan kepada anggota mengenai proses lobi zionis. Koran New York Times menyebut AIPAC sebagai organisasi pelobi antara Amerika dan Israel paling berpengaruh.

Profesor Juan Ricardo Cole, Dosen Universitas Michigan dalam sebuah makalah dengan judul "Operasi Terang-terangan dan Terselubung AIPAC" menulis, "Institut Kebijakan Timur Dekat Washington" sebagai salah satu sayap AIPAC sangat mempengaruhi kebijakan Amerika. Karyawan Kementerian Luar Negeri dan Militer dikirim ke institut ini untuk mempelajari masalah Timur Tengah. Selama di institut ini, mereka lebih banyak mempelajari mata kuliah dari universitas Israel. Karena mayoritas dosen yang ada sangat profesional dan institut ini sejatinya pusat para pemikir untuk melayani ideologi Zionis."

Di bagian lain dari artikelnya, Cole menulis, "Tidak ada seorangpun dari wakil Senat atau Kongres Amerika yang berani berbicara mengritik kebijakan Israel, sekalipun dalam banyak kasus, Israel melanggar aturan internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB. Bila terjadi ada satu anggota Senat atau Kongres yang berani memrotes pelanggaran Israel, maka sudah bisa dipastikan di periode pemilu selanjutnya, ia tidak akan terpilih. Karena AIPAC akan menginvestasikan bantuan finansialnya kepada saingannya, sehingga gagal mendapat suara ke Kongres. Dengan cara ini, AIPAC menyusun komposisi anggota Kongres AS. Sedemikian berhasilnya apa yang mereka lakukan, sehingga tidak ada yang berani menentangnya."

Sekalipun demikian, opini masyarakat Amerika perlahan-lahan mulai terbuka dan memahami substansi rasialisme dalam pemikiran Zionisme dan rezim Zionis Israel. Pengaruh Yahudi Zionis di pemerintah Amerika membuat masalah pemerintah dan bangsa Amerika. Bila pemerintah Amerika, dari kubu mana saja berasal, tetap berada di bawah dikte Zionis dalam politik Timur Tengah, maka proses berkurangnya kekuatan Amerika untuk mempengaruhi proses transformasi dunia dan kawasan Timur Tengah akan semakin cepat.
| AT | M | Irib |
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016