News Update :

Aceh Sedang Sakit- Keganjringan Sensualitas dan Seksualitas

Rabu, 27 Maret 2013

Akhir-akhir ini berbagai media baik cetak maupun media online ramai memberitakan “Mendung Syahwat” menyelimuti bumi serambi Mekkah, banyak kasus dipublish media massa mulai dari free sex dikalangan pelajar-mahasiswa, arisan “brondong” ala ibu-ibu Aceh. 

Guru cabuli murid sampai setahun di Aceh Singkil, oknum Anggota Dewan Aceh Barat mesum, remaja di Lhokseumawe ditemukan khalwat di Toilet Mesjid, oknum camat mesum dengan Janda  yang sedang proses cerai dengan suami sahnya di Hotel, hingga oknum pejabat terlibat perselingkuhan dengan bawahan yang berstatus istri orang.

Hingga wakil walikota Banda Aceh turut mendiskusikan tentang free sex dikalangan remaja dengan Ormas Islam, fenomena tersebut seperti menandakan Aceh sedang diselimuti sensasional “Seksualitas” tinggi yang mana seksualitas disini dipengaruhi oleh interaksi antar biologis, psikologis, social, budaya, etika, hukum, ekonomi dan agama.

Fenomena diatas menandakan “Aceh Sedang Sakit”, siapa yang bisa menjamin anda pembaca opini ini termasuk sehat?, saya sendiri tidak berani menjamin kalau semua pembaca tergolong orang “sehat”, kalau dikaitkan dengan teori Sexual Orientation, sangat tipis dan sedikit orang “sehat” ada didekat kita, dalam teori ini, nonton film porno dalam sebulan lebih dari satu kali digolongkan sebagai orang “sakit”,. 

Pemuda-pemudi yang onani/masturbasi seminggu lebih dari satu kali juga disebut sebagai orang “sakit”, suka memamerkan auratnya juga digolongkan sebagai orang “sakit” yang disebut dengan Eksibisionisme dalam teori ini, secara sempit diarti senang memperlihatkan alat kelamin kepada orang lain, menikmati rintihan kesakitan pasangan saat berhubungan seks juga disebut sebagai yang “sakit”.

Kasus-kasus “seksualitas” sebagai fenomena yang telah disebutkan diatas sangat dekat kolerasinya dengan interaksi biologis-psikologis yaitu dimana pemuda-pemudi yang secara biologis sudah matang dan saling “mencintai” melakukan seks secara suka rela, hal ini bisa dilihat dari kasus Siswi di Pidie mengaku tidak virgin (serambi Indonesia 3/3/2013).

“Keganjringan Seksualitas” di Aceh juga dipengaruhi oleh factor ekonomi, pada kasus yang diungkap kepolisian Bireuen yang membongkar kasus pelacuran siswi SLTP-SLTA dikabupaten Bireuen, salah satu pemakainya pak Haji berinial A ditangkap polisi mengaku pernah menikmati semua “bunga” yang dijajakan dikota juang yang jumlahnya belasan (rakyat Aceh, 5/2/2013).

Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang mempunyai cita-cita menjadi pelacur, mereka terpaksa melacurkan diri karena himpitan ekonomi, sudah seharusnya Baitul Mal Aceh, MPU Aceh dan Dinas Syariat Islam lebih focus pada peningkatan ekonomi masyarakat dengan tidak hanya focus pada “perilaku/ahklak” pribadi warga, tetapi dilakukan secara seimbang. Asbabul zunul dalam Islam sangat diperhatikan, ayat-ayat Al’quran pun turun berdasarkan asbabul nuzul tertentu, sudah seharusnya MPU, Dinas Syariat Islam dan Baitul Aceh melihat persoalan pelacuran dibumi serambi Mekkah dengan sebab akibat yang menyeluruh dengan tidak mengkotak-kotakkan.

Free sex tidak akan selesai hanya dengan diskusi-diskusi tetapi perlu tindakan nyata dari Umara dan Ulama dalam melihat persoalan sampai keakar-akarnya, jangan hanya lihat kulit luar perilaku warga yang bisa dilihat kasat mata.

Tindakan preventif Sensualitas seksual juga dipengaruhi oleh keadaan Sosial, hal ini bisa dilihat dari kasus pengeluaran himbauan oleh walikota Lhokseumawe dalam pelarangan “Ngangkang Style” bagi pengendara sepeda motor, walaupun banyak pro dan kontra tentang pelarangan hal ini, tetapi pada dasarnya walikota Lhokseumawe sudah faham benar kehidupan muda-mudi warganya yang sudah lihai dan jago dalam beratraksi akrobatik seksualitas diatas sepeda motor yang sedang melaju, 

Kebiasaan ini boleh dikatakan mereka terjangkiti seks Frotteurisme yang merupakan gangguan kejiwaan ingin menggosok-gosokkan organ kelamin atau meraba organ kelamin orang lain yang menginginkan atau bisa juga pada orang yang tidak menginginkannya seperti berboncengan sepede motor ataupun desak-desakan dalam bus penumpang, penyakit kelainan seksualitas ini kemungkinan besar disebabkan usaha preventive social masyarakat yang mempersempit ruang bebas maksiat, sehingga mereka mencari alternative tempat maksiat berjalan.

Berdasarkan data penjangkuan Yayasan Permata Atjeh Peduli yang sedang mengimplementasikan program pencegahan penularan HIV-AIDS di Aceh menunjukkan khususnya diwilayah kerja YPAP yaitu Bireuen, Aceh Utara dan Lhok Seumawe terdapat LSL (Lelaki Suka Lelaki) banyak dari kalangan remaja mencapai 80% dan 20% dari kalangan dewasa (orang sudah menikah)

Dari jumlah klein dampingan YPAP, berdasarkan penelitian selama pengimplementasian program pencegahan HIV-AIDS yang didanai Caritas German menunjukkan bahwa orientasi perilaku seksual dipengaruhi oleh dua factor (khusus dampingan LSL), pertama karena factor genetic sesuai dengan essentialist theory yang mengatakan bahwa seksualitas seseorang itu adalah bawaan/herediter, dibawa lahir sebagai factor genetic.

Hal ini bisa dilihat dari banyaknya waria yang ada di Aceh, tidak ada satu laki-laki pun didunia ini mau menjadi perempuan, dan Laki-laki suka sesama laki-laki, tetapi kenapa banyak Waria?

Laki-laki tersebut menjadi waria karena mereka tidak kuasa menolak hal ini, karena memang bawaan lahir/genetic ada dalam tubuhnya yaitu dengan banyaknya hormone progresteron dan estrogen dibandingkan dengan pria pada umumnya, hormon tersebut merupakan jenis hormon yang dimiliki perempuan, hormon testosteron yang cukup terdapat didalam tubuh prialah yang membedakannya dengan perempuan. 

Kelainan jumlah hormon estogen dan progesteron lebih banyak dari testosteron yang dibawa sejak lahir bisa membuat pria lebih fenim, kelihatan kemayu, baik bicara dan cara jalannya sehingga lebih condong memiliki sifat dan sikap layaknya perempuan, baik kehidupan sosial maupun seksualitasnya.

Laki-laki seperti ini otomatis mereka terhinggap penyakit kelainan seksual yaitu Transvestic fetisisme yang menjadkan mereka bisa mencapai kepuasan seks apabila menjadi wanita. Seharusnya Umara Aceh faham akan hal ini supaya jangan sampai menstigma dan mendiskriminasi orang-orang sakit seperti mereka.

Kedua karena factor lingkungan, hal ini sesuai dengan constructionist theory yang menerangkan kontruksi seksualitas seseorang terbentuk dari tiga komponen matrik, yang disebut matrik seks, gender dan orientasi seks. 

Yang paling menarik membahas ini yaitu membahas LSL (lelaki suka lelaki) yang terbentuk berdasarkan teori kedua yaitu teori kontruksionisme yang menyatakan bahwa LSL itu terbentuk karena lingkungan sosial kemasyarakatan.

Seperti berdasarkan deep interview dan pendampingan intensive field support staff YPAP terhadap klien dampingan YPAP, 90% LSL Aceh khususnya remaja terbentuk karena lingkungan mereka tidak mengizin untuk berteman dengan lawan jenis, tetapi sebaliknya membolehkan dan tanpa mengawasi secara ketat, sehingga membuat nyaman, aman dan baik dimata orang tua, apabila anak laki-laki berteman dengan Laki-laki dan hal itu biasa-biasa saja, padahal mereka melakukan pesta seks dikamar rumah orang tua yang seolah-olah mereka dianggap sedang mengerjakan PR dan dianggap biasa anak laki-laki bertamu ke kamar anak laki-laki,. 

Pada inilah asal muasal berkembang LSL di Aceh khususnya Remaja Putra dan data ini mengejutkan kita semua, pada dasarnya ingin mencegah penzinahan heterosexual malah terjadi perzinahan homoseksual, dan kasus ini telah membuahkan hasil dengan terinfeksinya 2 orang LSL dampingan YPAP positif HIV, dari 69 LSL dampingan YPAP ditiga kabupaten yaitu Aceh Utara, Bireuen dan Lhok Seumawe.

Harapan besar kita semua pada orang tua untuk lebih peka terhadap pergaulan anak-anak dan harus memberikan pendidikan seks pada anak mulai dari sekolah menengah pertama, supaya mereka tidak mempelajari seks dari situs porno, CD porno dan kepada pemerintah diharapkan membentuk satuan unit kerja untuk melatih orangtua bagaimana memberikan pendidikan seks yang benar pada anak dan masyarakat meningkatkan keimanan dan ketagwaan kepada keluarga sejak dini.[]

Penulis ; Fadhli Djailani
Peminat Masalah sosial, Outreach Coordinator YPAP dan Pengasuh matakuliah Dasar-dasar Logika di FISIP Universitas Al-Muslim
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016