
Banda Aceh | acehtraffic.com- Anggota
Komisi E DPR Aceh dari PKS, Tgk. Makhyaruddin Yusuf, mendesak semua pihak ikut
bertanggung jawab dan proaktif mencegah meluasnya pergaulan bebas di kalangan
pelajar di Aceh.
Survey Dinas Kesehatan Provinsi Aceh tahun 2012 lalu, Lhokseumawe menduduki
peringkat pertama pelaku seks pra-nikah, peringkat kedua Banda Aceh, Sabtu 16
Februari 2013
“Sangat memalukan di tengah upaya
penerapan syariat Islam di Aceh, kasus pergaulan bebas dan seks pra-nikah
justru sangat tinggi, semua pihak tidak boleh tinggal diam, terutama keluarga,
pemerintah dan masyarakat,” Ujar Makhyaruddin.
Katanya, sekolah harus ikut
memantau pergaulan para siswa supaya tidak terjerumus dalam prilaku menyimpang
tersebut, kalau perlu tingkatkan pemahaman agama dan pendidikan moral dan
wawasan hukum syariat. Demikian juga dengan kampus, supaya dapat memberikan
pemahaman yang baik tentang hukum agama.
“Lembaga pendidikan sangat
berpengaruh dalam membentuk karakter anak muda, untuk itu sudah saatnya
pendidikan akhlak, etika pergaulan, dan hukum agama ditingkatkan di semua level
pendidikan di Aceh,” tambah anggota Dewan yang membidangi pendidikan tersebut.
Ia juga mengingatkan orang tua
yang mengirim anaknya untuk kuliah ke kota-kota besar supaya terus memantau
pergaulan dan memberi pemahaman tentang bahaya pergaulan bebas, karena selama
ini tingkat pergaulan bebas di kalangan anak kos juga sangat mengkhawatirkan.
“Orang tua harus terus memantau
perilaku anaknya supaya jangan asal kirim ke kota-kota besar untuk kuliah,
tanpa diiringi dengan pembinaan moral, demikian juga dengan masyarakat supaya
bersama-sama mengawasi perilaku para remaja,” tambahnya.
Menurut anggota Dewan PKS dari
daerah pemilihan Aceh Timur, Langsa, dan Tamiang tersebut, solusi untuk masalah
tersebut hanya bisa ditempuh dengan meningkatkan pemahaman agama bagi pelajar
dan remaja.
Ia juga menambahkan supaya semua
elemen di Aceh jangan hanya suka mengkritik syariat Islam, tanpa memberikan
solusi terhadap permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat.
“Kalau syariat Islam di Aceh
terus-menerus dikritik, akhirnya tidak sempat berbuat apa-apa, sedangkan
pengaruh negatif terus masuk merusak generasi muda, kritik boleh saja asal
dilakukan dengan baik dan memberi solusi terhadap masalah yang ada,”
pungkasnya.
Tingginya angka pergaulan bebas
di Aceh diungkapkan oleh Dr Hj Cut Meurah Yeni Sp OG, dalam seminar bertema,
‘Pengaruh Pergaulan Bebas Terhadap Kesehatan Reproduksi’ yang digelar Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Aceh, Kamis
(14/2/2013).
Dikutip hasil survey yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan
Provinsi Aceh pada tahun 2012 lalu,
dimana Lhokseumawe menduduki peringkat pertama terbanyak pelaku seks pra-nikah
di kalangan pelajar, yaitu 70 persen, menyusul Banda Aceh sebanyak 50 persen. |
AT | RD | RI |
