Bireuen | acehtraffic.com– Polres
Bireuen membongkar jaringan perdagangan manusia (traficking) berskala lokal
untuk bisnis seks (prostitusi) dengan korban anak-anak usia SMP dan SMA.
Enam
tersangka--semuanya warga Bireuen--yang berperan sebagai pencari mangsa,
pengantar, pemakai, dan penyedia tempat ditangkap.
Kapolres Bireuen, AKBP Yuri
Karsono SIK melalui Kasat Reskrim Iptu Benny Cahyadi SH kepada Serambi, Senin 4
Februari 2013 mengatakan, kasus traficking berskala lokal untuk tujuan
prostitusi itu dibongkar tiga hari lalu setelah polisi mengumpulkan berbagai
informasi sejak tiga bulan lalu. “Kejahatan tersebut melibatkan satu jaringan
yang sangat rapi,” kata Kasat Reskrim Polres Bireuen.
Menurut Iptu Benny, penyelidikan
kasus itu berawal dari informasi penjualan anak-anak perempuan usia SMP dan SMA
kepada peminat melalui sebuah jaringan yang sangat terkoordinir.
Berangkat dari
informasi itu, Kapolres Bireuen membentuk tim lapangan dan bekerja sejak tiga
bulan lalu. “Akhirnya, bisnis penjualan manusia untuk prostitusi itu berhasil
dibongkar,” kata Benny.
Menurut polisi, pelaku traficking
mencari anak-anak usia SMP dan SMA dengan berbagai cara yang umumnya
diiming-iming dengan berbagai fasilitas menggiurkan.
Agen penyedia memanggil anak-anak
yang sudah terperangkap dalam jaringan itu untuk negosiasi harga, termasuk
berbagai informasi lainnya. Setelah ada kesepakatan, ada orang yang menjemput
dan mengantar kemana saja, sesuai dengan pesanan.
Modus lain, menurut Kasat Reskrim
Polres Bireuen, setelah anak-anak dikumpulkan, agen mengirim foto korban kepada
peminat. Setelah tercapai kata sepakat, termasuk siapa yang dipilih, pesanan
diantar. “Lokasi pertemuan atau tempat mesum di salah satu rumah di kawasan
Pulo Kiton, dan di salah satu hotel di Bireuen. Transaksi dan antar mengantar
umumnya berlangsung siang hari,” kata Benny.
Korban traficking untuk bisnis
prostitusi, menurut polisi setidaknya sudah berjumlah delapan orang dari
kalangan ana-anak perempuan usia SMP dan SMA. “Kita akan usut tuntas kasus
ini,” demikian Kasat Reskrim Polres Bireuen.
Kisah Mister Bro dan Janda Pulo
Kiton
BISNIS perdagangan manusia
(traficking) untuk prostitusi yang terungkap di Bireuen mencengangkan banyak
kalangan. Banyak pihak yang sepertinya sulit percaya bisnis itu ada di
Kabupaten Bireuen dan semua pelakunya warga setempat.
Menurut penyelidikan polisi,
ternyata anak-anak yang masuk dalam perangkap bisnis tersebut dihargai antara
Rp 250.000 hingga Rp 300.000 sekali ‘pakai’ (short time). Pemakai anak-anak
usia SMP dan SMA itu dikenal dengan panggulan Mister Bro.
Pertemuan awal bisa di mana saja,
ada di warung atau café dan bisa juga di salon. Sedangkan lokasi bermesumria,
di sebuah rumah di Pulo Kiton dan sebuah hotel di Bireuen.
Bisnis tersebut, menurut Kasat
Reskrim Polres Bireuen sudah berlangsung sejak empat bulan lalu. Mereka yang ditangkap
sebanyak enam orang sudah mengakui perbuatan tersebut. Di antara tersangka ada
yang sebelumnya korban dan kemudian menjadi penghubung.
Hingga Senin (4/2) ada enam
tersangka yang sdah diringkus polisi, terdiri lima wanita dan seorang pria
berumur 60 tahun, akrab dipanggil Mister Bro selaku pengguna. Keenam tersangka
ditangkap secara berturut-turut di lokasi terpisah.
Pihak korban, menurut polisi
sudah dimintai keterangan. Ada yang mengaku dipaksa dan ada ada pula yang
diiming-iming dengan berbagai fasilitas termasuk kemudahan mendapatkan uang.
Informasi lain menyebutkan, kasus
itu juga melibatkan seorang perempuan berstatus janda, warga Pulo Kiton, Kota
Juang Bireuen berinisial Asr (30).
Asr kepada Serambi, Senin (4/2) mengaku
rumah orang tuanya sering dijadikan tempat berbuat mesum. Ia memperoleh imbalan
Rp 100.000 sekali pakai tempat. Peminat atau pengguna yang sudah memesan
langsung ke rumahnya. Tak lama kemudian muncul wanita yang umumnya anak di
bawah umur.
Ars ditangkap beberapa hari lalu
di rumahnya. Ketika ditanyakan sejak kapan ia terlibat dalam bisnis itu, Asr
mengaku sejak beberapa bulan lalu namun sejak dua bulan terakhir sudah tidak
lagi.
Pengakuan juga disampaikan Mister
Bro, selaku pengguna dalam bisnis tersebut. Mister Bro membenarkan ia juga
pernah ke rumah Asr di Pulo Kiton. | AT | R | SUMBER SERAMBI|

