Medan | acehtraffic.com- Kerusakan hutan Aceh dan Sumatera diprediksi akan semakin parah di tahun mendatang. Selain penjarahan hutan dengan cara illegal logging, juga diperparah oleh tingginya tingkat pertumbuhan tambang di Aceh. Sabtu 19 Januari 2013.
,”Saat ini sedikitnya 700 ribu hektar luas hutan di Aceh sudah dikapling sebagai areal yang mendapat izin pengelolaan tambang. Dinas Pertambangan dan Energi Aceh Propinsi Aceh menyatakan bahwa di Aceh ada 145 perusahaan pertambangan yang sedang beroperasi saat ini,” Ujar pengamat lingkungan, Ir. Jaya Arjuna pada acara diskusi “Prediksi Lingkungan Aceh 1 Tahun Kedepan” bersama jurnalis Aceh dan Sumatera yang seponsori oleh Society of Indonesian Enviromental Jounarlists (SIEJ)
Katanya, merujuk dari kenyataan data tersebut diatas, tentu sudah dapat diprediksi tinggkat kerusakan lingkungan dan hutan di Aceh untuk satu tahun kedepan.
Sehingga dari jumlah 130,68 juta hektar hutan nasional, 41 juta hektar hutan menjadi gundul. Begitu juga dengan Aceh, dimana dalam kurun waktu 50 tahun luas tutupan hutan Aceh dan Sumatera mengalami penurunan sekitar 40% dari total tutupan hutan di seluruh kawasan Aceh.
Sementara sepanjang tahun 2006, luas hutan dikawasan Sumatera dan Aceh yang rusak dan tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektar kawasan hutan di Indonesia, dengan laju deforestasi dalam lima tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektar per tahun
Dia menyebutkan kerusakan hutan (deforestasi) di Indonesia akibat dari sistem politik dan ekonomi yang menganggap sumber daya hutan sebagai sumber pendapatan dan bisa dieksploitasi untuk kepentingan politik serta keuntungan pribadi.
,”Bila keadaan seperti ini dipertahankan, dimana sumatera dan kalimantan sudah kehilangan hutannya, maka hutan di Sulawesi dan papua akan mengalami hal yang sama kedepannya,” Tambah Ir. Jaya Arjuna. | AT | RD |
,”Saat ini sedikitnya 700 ribu hektar luas hutan di Aceh sudah dikapling sebagai areal yang mendapat izin pengelolaan tambang. Dinas Pertambangan dan Energi Aceh Propinsi Aceh menyatakan bahwa di Aceh ada 145 perusahaan pertambangan yang sedang beroperasi saat ini,” Ujar pengamat lingkungan, Ir. Jaya Arjuna pada acara diskusi “Prediksi Lingkungan Aceh 1 Tahun Kedepan” bersama jurnalis Aceh dan Sumatera yang seponsori oleh Society of Indonesian Enviromental Jounarlists (SIEJ)
Katanya, merujuk dari kenyataan data tersebut diatas, tentu sudah dapat diprediksi tinggkat kerusakan lingkungan dan hutan di Aceh untuk satu tahun kedepan.
Sehingga dari jumlah 130,68 juta hektar hutan nasional, 41 juta hektar hutan menjadi gundul. Begitu juga dengan Aceh, dimana dalam kurun waktu 50 tahun luas tutupan hutan Aceh dan Sumatera mengalami penurunan sekitar 40% dari total tutupan hutan di seluruh kawasan Aceh.
Sementara sepanjang tahun 2006, luas hutan dikawasan Sumatera dan Aceh yang rusak dan tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektar kawasan hutan di Indonesia, dengan laju deforestasi dalam lima tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektar per tahun
Dia menyebutkan kerusakan hutan (deforestasi) di Indonesia akibat dari sistem politik dan ekonomi yang menganggap sumber daya hutan sebagai sumber pendapatan dan bisa dieksploitasi untuk kepentingan politik serta keuntungan pribadi.
,”Bila keadaan seperti ini dipertahankan, dimana sumatera dan kalimantan sudah kehilangan hutannya, maka hutan di Sulawesi dan papua akan mengalami hal yang sama kedepannya,” Tambah Ir. Jaya Arjuna. | AT | RD |

