
Pemerataan pembangunan yang selama ini
menjadi salah satu kunci di semua lini pemerintahan ternyata tidak berjalan
sesuai dengan harapan. Munculnya kesenjangan sosial atau diskriminasi sosial
dalam masyarakat merupakan suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri sebagai hasil
dari pembangunan tersebut.
Kondisi ini terlihat jelas dari ketimpangan
pembangunan wilayah khususnya daerah perkotaan dan pedesaan. Munculnya
pusat-pusat pemerintahan dan perekonomian daerah perkotaan membawa pengaruh
semakin tingginya tingkat mobilitas dan persaingan kompetisi dalam memenuhi
kebutuhan ekonominya.
Banyak orang mencari pekerjaan, tetapi lapangan kerja
tidak memadai dengan jumlah pencari kerja, jadi tentu banyak pengangguran yang
belum mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimilkinya.
Tingginya kompetisi didalam masyarakat
membawa pengaruh dalam beragamnya pola penghidupan masyarakat. Hal ini dapat
kita lihat dari tingkat sosial dan strata kondisi masyarakat itu sendiri.
Perkembangan perkotaan yang begitu pesat dan cepat ternyata tidak hanya
dirasakan oleh para orang dewasa yang harus bekerja guna memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Kondisi serupa juga dialami oleh anak-anak
yang berasal dari keluarga tidak mampu dalam segi finansial yang terpaksa harus
mencari rezeki demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Tentunya anak akan
memikirkan cara dia sendiri untuk memenuhi tunjangan hidupnya dan keluarganya
itu.
Salah satu cara yang dihadapi oleh anak
adalah dalam membantu perekonomian keluarga adalah ketika mereka terpaksa dan
dipaksa oleh keluarga maupun dipaksa oleh keadaan untuk ke jalanan untuk
mendapatkan kebutuhan perekonomian tersebut.
Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena anak
jalanan khususnya di daerah perkotaan merupakan persoalan permasalahan yang
klasik yang harus dihadapi dalam menata jalannya roda pemerintahan.
Perihnya hidup saat sekarang itulah yang
mereka rasakan bagi sebagian anak, mereka menadahkan tangan mereka pada
mobi-mobil yang berhenti di lampu lalu lintas, berjalan-jalan dari satu toko ke
toko yang lain mengharap belas kasih dari orang lain. Dan mereka juga terpaksa
tidak mandi, tidak mengganti baju demi mencari rezeki untuk di bawa pulang
nantinya.
Kehidupan anak jalanan dengan berbagai
karakteristiknya menjadi ciri khas yang membedakannya dengan kelompok
masyarakat lain. Image negatif yang selama ini melekat pada anak jalanan selama
ini menjadi perhatian utama pada semua pihak khususnya kepada pihak yang konsen
menangani dan memberdayakan anak jalanan.
Lingkungan kerja atau pergaulan anak jalanan
yang jauh dari keluarga dan senantiasa berhadapan dengan kerasnya hidup membuat
mereka tumbuh berkembang sesuai dengan tuntutan kebutuhan lingkungannya.
Kondisi tersebut menjadi pemandangan
sehari-hari di wajah perkotaan metropolitan.Kondisi ini diperparah dengan sikap
pemerintah yang tidak serius dalam menangani permasalahan anak jalanan terlebih
dalam upaya penertiban pemerintah kota hanya bisa melakukan upaya penggarukan
penertiban yang tak jarang disertai tindakan arogansi kekerasan terhadap
pemulung, gepeng dan pengemis tanpa ada suatu langkah solutif guna menekan
jumlah mereka yang bertambah.
Misalnya adalah membuat suatu wadah penampung
aspirasi anak jalanan untuk terus berkarya dalam bidang seni dan keterampilan
atau bisa juga menyalurkan minat bakat anak
itu terkadang masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah kota dalam
hal ini terkait Dinsos setempat.
Bila pihak terkait melaksanakan tugas
yaitu membentuk suatu wadah penampungan aspirasi, tentu sudah banyak
bakat-bakat yang terlatih untuk bisa turun ke lapangan kerja atau pun
meneruskan pendidikan mereka yang tertunda, masyarakat akan memandang nya bukan
lagi sebagai pengemis melainkan sebagai masyarakat umum layaknya.
Dan kesejahteraan sosial di negeri ini pun
akan meningkat seiring berjalannya waktu. InsyaAllah dengan adanya hal tersebut
banyak yang akan merasakan kebahagian bukan saja untuk mereka tapi masyarakat
juga merasakannya, mereka juga dapat mengandalkan tenaga dan usaha mereka untuk
membantu masyarakat tanpa harus mencari orang lain karena bakat dan
kemampuannya sudah bisa diandalkan.
Penulis: Junaidi, Teknik Informatika,
Universitas Malikussaleh (UNIMAL)
