Lhokseumawe | acehtraffic.com – Akibat banyaknya kontraktor nakal, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Lhokseumawe meminta eksekutif untuk tidak segan-segan memberikan sanksi. Selasa 29 Januari 2013.
Pernyataan tegas tersebut dikemukakan oleh Tgk. Yatim, yang merupakan sebagai anggota Dewan dari Fraksi Partai Aceh (PA). Selain sebagai anggota Dewan, dirinya juga menjabat sebagai Badan Kehormatan Dewan. “Saya minta kontraktor yang nakal dan bekerja tidak sesuai standar, harus diberikan sanksi,” Tegas Tgk. Yatim.
Tgk. Yatim juga menjelaskan, kontraktor nakal sudah menjamur di Kota Lhokseumawe. Dalam melaksanakan tugasnya mereka sering menggunakan manajemen ala koboi. “Banyak kontraktor yang lebih memikirkan kepentingan pribadi,” Tutur Tgk. Yatim.
Setiap kontraktor, lanjut Tgk. Yatim, sudah memiliki keuntungan yang sesuai atau sudah pantas. Tapi masih saja mereka berlaku curang, yaitu dengan mengurangi beberapa bahan-bahan material bangunan.
“Setiap hari saya memantau kinerja kontraktor, semuanya mereka tidak profesional,” kata Tgk. Yatim.
Dirinya juga memberikan contoh, misalkan pembangunan jalan Blang Rayeuk yang terletak di Desa Teumpok Tengoh, Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe. Pada tahun 2012 baru saja diperbaiki, namun nyatanya saat ini telah rusak kembali. “Ini merupakan pengerjaan yang tidak berkualitas,” ungkap Tgk. Yatim.
Pernyataan tegas tersebut dikemukakan oleh Tgk. Yatim, yang merupakan sebagai anggota Dewan dari Fraksi Partai Aceh (PA). Selain sebagai anggota Dewan, dirinya juga menjabat sebagai Badan Kehormatan Dewan. “Saya minta kontraktor yang nakal dan bekerja tidak sesuai standar, harus diberikan sanksi,” Tegas Tgk. Yatim.
Tgk. Yatim juga menjelaskan, kontraktor nakal sudah menjamur di Kota Lhokseumawe. Dalam melaksanakan tugasnya mereka sering menggunakan manajemen ala koboi. “Banyak kontraktor yang lebih memikirkan kepentingan pribadi,” Tutur Tgk. Yatim.
Setiap kontraktor, lanjut Tgk. Yatim, sudah memiliki keuntungan yang sesuai atau sudah pantas. Tapi masih saja mereka berlaku curang, yaitu dengan mengurangi beberapa bahan-bahan material bangunan.
“Setiap hari saya memantau kinerja kontraktor, semuanya mereka tidak profesional,” kata Tgk. Yatim.
Dirinya juga memberikan contoh, misalkan pembangunan jalan Blang Rayeuk yang terletak di Desa Teumpok Tengoh, Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe. Pada tahun 2012 baru saja diperbaiki, namun nyatanya saat ini telah rusak kembali. “Ini merupakan pengerjaan yang tidak berkualitas,” ungkap Tgk. Yatim.
Hal senada juga terjadi pada proyek pembangunan saluran air di Desa yang sama, para rekanan mengerjakan proyek tersebut pada malam hari, bahkan tidak ada kordinasi sama sekali dengan masyarakat setempat.
Selain itu, juga tidak dipasang pamplet nilai proyek. Sehingga pengerjaan proyek ini sangat tidak transparan dan sangat tertutup. “Saya lihat sendiri mereka bekerja malam hari,” kata Tgk. Yatim. | AT | RD | AG|

