Aceh Utara | acehtraffic.com- Tim arkeolog menemukan makam di Desa Gampong Teungoh Blang Me, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Diduga makam tokoh penting di Kerajaan Samudera Pasai itu adalah Al-Malik Saray Negeri Syaj’ah seperti yang tertera pada epitaf nisan makam. Minggu 15 Desember 2012
Menurut Tgk Taqiyuddin seorang arkeolog menyebutkan, usai pemeriksaan ringkas diketahui bahwa makam dengan batu nisan bersurat itu adalah milik salah seorang tokoh besar dalam Kerajaan Islam Samudra Pasai.
Dari gelar pada awal namanya nyata-nyata ia memang seorang pembesar kerajaan, boleh jadi seorang panglima atau penguasa wilayah tertentu (gubernur) dalam zaman Samudra Pasai.
Katanya temuan itu berawal dari laporan Hj Nurmala seorang staf Majelis Adat Aceh, bahwa ada batu nisan bersurat (inskripsi) di Gampong Teungoh, Blang Me. Kemudian pada Kamis 13 Desember lalu. Hari itu juga Tgk Taqiuyuddin bersama Ramlan Yunus dan Husaini Usman bergerak ke lokasi, begitu dilansir media harian terbitan Aceh, Sabtu 14 Desember 2012.
Katanya temuan itu berawal dari laporan Hj Nurmala seorang staf Majelis Adat Aceh, bahwa ada batu nisan bersurat (inskripsi) di Gampong Teungoh, Blang Me. Kemudian pada Kamis 13 Desember lalu. Hari itu juga Tgk Taqiuyuddin bersama Ramlan Yunus dan Husaini Usman bergerak ke lokasi, begitu dilansir media harian terbitan Aceh, Sabtu 14 Desember 2012.
Tim menemukan bentuk nisan agak sedikit berbeda dari yang lain. Ada sejumlah nisan yang menunjukkan batu-batu nisan dari masa yang lebih tua dalam periode-periode sejarah Samudra Pasai. Nisan-nisan tua itu nampak kurang beraturan tapi sekitar tiga makam di antaranya masih berada di posisi semula.
Di antaranya satu makam dengan dua batu nisan (utara dan selatan) yang memiliki inskripsi. Nisan sebelah selatan rupanya sudah patah dua tapi masih bisa disambungkan dan cuma sedikit bagian dari inskripsi yang rusak akibat patah.“Di jirat ini dulunya ada pohon Keulayu besar, makanya makam-makam ini dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Jirat Teungku di Keulayu,” terang Nurmala yang bekerja di Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Utara.
Tidak diketahui jelas apakah karena kejatuhan pohon atau dahan pohon itu sehingga batu nisan bersurat itu patah, tapi tampaknya memang bukan disebabkan oleh suatu kesengajaan.
Disebutkan pula bahwa tokoh ini telah wafat pada waktu Zhuhur hari Jum’ah 7 Dzul Qa’dah 845 H (1441 M), yakni setelah kira-kira 14 tahun dari wafatnya Al-Malikah Nahrasyiyah binti Sultan Zainal ‘Abidin. Hal ini juga dapat mengungkapkan bahwa ia telah hidup di zaman pemerintahan Sultan Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar (Wafat 841 H/1438 M), yang merupakan periode paling gemilang dan dinamis di mana diyakini kawasan pengaruh Samudra Pasai telah mencapai semenanjung Melayu, Melaka, terutamanya.
Temuan komplek makam dan batu nisan tokoh ini telah menambahkan satu lagi nama tokoh penting dalam sejarah Samudra Pasai sesudah temuan terakhir di bulan Mei yang lalu dalam masa kegiatan Ekpedisi Meugat Seukandar III untuk wilayah Kecamatan Paya Bakong.
Temuan komplek makam dan batu nisan tokoh ini telah menambahkan satu lagi nama tokoh penting dalam sejarah Samudra Pasai sesudah temuan terakhir di bulan Mei yang lalu dalam masa kegiatan Ekpedisi Meugat Seukandar III untuk wilayah Kecamatan Paya Bakong.
"Kita masih berharap ke depan dapat menemukan lebih banyak lagi tokoh-tokoh pelaku sejarah di zaman Samudra Pasai. Karena dengan demikian, kita akan dapat menyusun sejarah kita dengan cara yang benar.
Komplek makam yang ditemukan ini, sebagaimana lainnya, akan diusulkan kepada Pemerintah untuk diberi perawatan yang semesti dan selayaknya, mengingat mereka merupakan sosok-sosok yang telah mengukir sejarah panjang dari negeri yang kita cintai ini,"ungkap Tgk Taqiyuddin.
Untuk sementara ini, beberapa pemuda dari Gampong Meunasah Teungoh yang menaruh perhatian terhadap komplek makam ini, berjanji akan membersihkan batu-batu nisan yang sudah ditutupi lumut sebagai wujud pro-aktif mereka dalam menjaga warisan sejarah.
Untuk sementara ini, beberapa pemuda dari Gampong Meunasah Teungoh yang menaruh perhatian terhadap komplek makam ini, berjanji akan membersihkan batu-batu nisan yang sudah ditutupi lumut sebagai wujud pro-aktif mereka dalam menjaga warisan sejarah.
Sekaligus untuk memudahkan penelitian lanjutan yang akan dilakukan untuk komplek makam ini dan lain di sekitarnya | AT | R | RakyatAceh|

