News Update :

Hama Meningkat Drastis, Panen Padi di Musim Penghujan Petani Merugi. Tim Penyuluh Dianggap Lebih Senang Dikantor Ketimbang Turun ke Lapangan

Minggu, 23 Desember 2012


Aceh Utara | Acehtraffic.com - Sepanjang jalan di kecamatan Tanah jamboe Aye terlihat padi rusak/buruk akibat tergenang air hujan disaat panen. Seluruh petani di kecamatan Tersebut terlihat sibuk di sawah mereka memanen hasil padinya, memotong kemudian digiling dengan mesin perontok padi yang disewanya. Namun bukan keuntungan yang didapatkan pada hasil panen bulan ini akan tetapi malah kerugian yang mereka peroleh, pasalnya disebabkan karena hasil panen mereka jatuh di bulan Desember yang merupakan masa-masa turun hujan sehingga sawah mereka sering digenangi air hujan hingga terkadang terendam banjir. 

Meski ada beberapa petani yang memilih untuk tidak memotong padinya namun menurut pengakuan para petani di kecamatan tersebut dinilai sama ruginya dengan warga yang telah memotong padi.

Akibatnya hasil padi dijual dengan harga murah. Jika padi kering dan bagus bisa mencapai Rp 4500 rupiah/kg, namun jika hasil padi tidak bagus dihargai rata-rata Rp 3600 rupiah/kg nya. 

Selain terkendala jika panen di musim penghujan, seluruh petani di gampoeng tersebut juga mengeluhkan hama yang menyerang padi mereka. Hama tahun ini dianggap hama paling terparah daripada tahun-tahun sebelumnya. “hama pada tahun ini paling banyak daripada tahun kemarin,seperti hama ulat dan hama walang sangit,” ujar salah seorang petani di gampoeng Matang Sukee Pulot, kecamatan Jambo Aye, Aceh Utara.

Sementara geuchik gampoeng Matang Raya kecamatan Tanah jamboe Aye, M. Ramli (43), kepada reporter Acehtraffic.com juga mengungkapkan keluhannya, “Kami luar biasa sangat kewalahan panen kali ini. Banyak yang telah rusak padahal kualitas padinya sangat baik dan banyak batangnya.” 

Menurut M. Ramli, setengah dari hasil panennya yang berada di Gampoeng Lueng Tuha gagal disebabkan hama walang sangit atau masyarakat sekitar biasa menyebutnya bana. “Thon nyoe lebeh parah, nyoe ka taloh padee. Malah bermacam-macam ubat kaleuh ta seumproet hana dipatee,” ujarnya dalam bahasa Aceh.

Biasanya ia memperoleh hasil panen dari 4 hektare luas lahan sawahnya mencapai 7 ton setengah/hektar namun sekarang hanya menghasilkan 4 ton.

Ramli juga mengeluhkan tidak adanya tim penyuluh dari dinas pertanian datang ke gampoeng mereka. Menurut Ramli jika pun ada penyuluh tapi tidak pernah turun kelapangan hanya dikantor saja sehingga hal tersebut menjadi kendala bagi para petani. “Jika kami ada keluhan harus datang ke Lhokseumawe itupun di kasih obat satu botol, apa yang kita semprot dengan obat satu botol? (kamoe oh na keluhan payah jak u Lhokseumawe nyan pih ibie ubat sabo plok, pue ta semprot ubat saboh plok?,” keluh geuchik tersebut.

Beberapa petani lainnya di kecamatan itu mengatakan bahwa sebelumnya mereka pernah dijanjikan akan diberikan bantuan pembibitan namun hingga kini bantuan tersebut tidak juga diterima petani tersebut dan jika pun ada tidak semua petani mendapatkannya, sehingga menimbulkan kecemburuan sosial dikalangan petani itu.  

“Jika tidak berhasil panen berarti anak kami tidak bisa di sekolahkan, dan dari segi kesehatan lainnya kami tidak mampu membeli obat. Setiap sakit kepala minum Bodrex,” ujar salah seorang petani yang tidak ingin disebutkan namanya. 

Geuchik Ramli meminta kepada pemerintah agar mencari solusi bagaimana caranya agar mereka tidak memanen hasil padinya di bulan 12. “Dirombak kembali bagaimana caranya agar panen padi tidak jatuh tempo pada bulan 12. Jangan di masa hujan karena banyak padi yang rusak, pada bulan Juli hasil panen padi kami sangat bagus.” | AT | HR |
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016