Aceh Utara |
Acehtraffic.com - Sepanjang jalan di kecamatan Tanah jamboe Aye terlihat padi
rusak/buruk akibat tergenang air hujan disaat panen. Seluruh petani di
kecamatan Tersebut terlihat sibuk di sawah mereka memanen hasil padinya,
memotong kemudian digiling dengan mesin perontok padi yang disewanya. Namun
bukan keuntungan yang didapatkan pada hasil panen bulan ini akan tetapi malah
kerugian yang mereka peroleh, pasalnya disebabkan karena hasil panen mereka
jatuh di bulan Desember yang merupakan masa-masa turun hujan sehingga sawah mereka
sering digenangi air hujan hingga terkadang terendam banjir.
Meski ada beberapa
petani yang memilih untuk tidak memotong padinya namun menurut pengakuan para
petani di kecamatan tersebut dinilai sama ruginya dengan warga yang telah
memotong padi.
Akibatnya hasil
padi dijual dengan harga murah. Jika padi kering dan bagus bisa mencapai Rp 4500
rupiah/kg, namun jika hasil padi tidak bagus dihargai rata-rata Rp 3600
rupiah/kg nya.
Selain terkendala
jika panen di musim penghujan, seluruh petani di gampoeng tersebut juga
mengeluhkan hama yang menyerang padi mereka. Hama tahun ini dianggap hama
paling terparah daripada tahun-tahun sebelumnya. “hama pada tahun ini paling
banyak daripada tahun kemarin,seperti hama ulat dan hama walang sangit,” ujar
salah seorang petani di gampoeng Matang Sukee Pulot, kecamatan Jambo Aye, Aceh
Utara.
Sementara geuchik
gampoeng Matang Raya kecamatan Tanah jamboe Aye, M. Ramli (43), kepada reporter
Acehtraffic.com juga mengungkapkan keluhannya, “Kami luar biasa sangat
kewalahan panen kali ini. Banyak yang telah rusak padahal kualitas padinya
sangat baik dan banyak batangnya.”
Menurut M. Ramli, setengah
dari hasil panennya yang berada di Gampoeng Lueng Tuha gagal disebabkan hama
walang sangit atau masyarakat sekitar biasa menyebutnya bana. “Thon nyoe lebeh
parah, nyoe ka taloh padee. Malah bermacam-macam ubat kaleuh ta seumproet hana
dipatee,” ujarnya dalam bahasa Aceh.
Biasanya ia memperoleh
hasil panen dari 4 hektare luas lahan sawahnya mencapai 7 ton setengah/hektar namun
sekarang hanya menghasilkan 4 ton.
Ramli juga
mengeluhkan tidak adanya tim penyuluh dari dinas pertanian datang ke gampoeng
mereka. Menurut Ramli jika pun ada penyuluh tapi tidak pernah turun kelapangan hanya
dikantor saja sehingga hal tersebut menjadi kendala bagi para petani. “Jika
kami ada keluhan harus datang ke Lhokseumawe itupun di kasih obat satu botol, apa
yang kita semprot dengan obat satu botol? (kamoe oh na keluhan payah jak u
Lhokseumawe nyan pih ibie ubat sabo plok, pue ta semprot ubat saboh plok?,” keluh
geuchik tersebut.
Beberapa petani
lainnya di kecamatan itu mengatakan bahwa sebelumnya mereka pernah dijanjikan
akan diberikan bantuan pembibitan namun hingga kini bantuan tersebut tidak juga
diterima petani tersebut dan jika pun ada tidak semua petani mendapatkannya,
sehingga menimbulkan kecemburuan sosial dikalangan petani itu.
“Jika tidak
berhasil panen berarti anak kami tidak bisa di sekolahkan, dan dari segi
kesehatan lainnya kami tidak mampu membeli obat. Setiap sakit kepala minum
Bodrex,” ujar salah seorang petani yang tidak ingin disebutkan namanya.
Geuchik Ramli
meminta kepada pemerintah agar mencari solusi bagaimana caranya agar mereka
tidak memanen hasil padinya di bulan 12. “Dirombak kembali bagaimana caranya
agar panen padi tidak jatuh tempo pada bulan 12. Jangan di masa hujan karena
banyak padi yang rusak, pada bulan Juli hasil panen padi kami sangat bagus.” |
AT | HR |
