Jakarta | acehtraffic.com- Semua elemen bangsa wajib melestarikan Tari Saman yang sudah dikukuhkan sebagai warisan budaya bukan benda oleh UNESCO pada tahun 2011. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Kebudayaan Wiendhu Nuryati mengingatkan hal itu ketika membuka “Saman Summit” di Museum Fatahillah, Jakarta, Jumat 14 Desember 2012 malam.
“Kita semua wajib melestarikan Saman dan semua budaya yang dimiliki bangsa ini. Artinya, melestarikan itu berarti melindungi, memproteksi prinsip dan ciri khas Tari Saman, sekaligus mengembangkan dan memanfaatkan secara luas bagi masyarakat,” kata Whiendu.
Saman Summit diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai bagian untuk melestarikan dan mengembangkan Saman. Saman Summit diisi dengan pertunjukan Saman, diskusi Saman, dan pameran Budaya Gayo.
“Kita semua wajib melestarikan Saman dan semua budaya yang dimiliki bangsa ini. Artinya, melestarikan itu berarti melindungi, memproteksi prinsip dan ciri khas Tari Saman, sekaligus mengembangkan dan memanfaatkan secara luas bagi masyarakat,” kata Whiendu.
Saman Summit diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai bagian untuk melestarikan dan mengembangkan Saman. Saman Summit diisi dengan pertunjukan Saman, diskusi Saman, dan pameran Budaya Gayo.
Pada malam pembukaan tampil sejumlah sanggar tari yang membawakan Tari Saman, di antaranya penari senior Saman Gayo dari Kampung Bukit, Kabupaten Gayo Lues, grup Saman Gayo remaja dari Kabupaten Aceh Tenggara, dan Saman Gayo anak-anak dari SD Belangkejeren.
Diskusi Saman Gayo menampilkan pembicara Drs Ridwan Salam, penulis buku “Tari Saman” dan bekas penari Saman. Diskusi tersebut dimaksudkan memberi gambaran pada masyarakat luas tentang Saman dan aspek sosial budayanya.
Tari Saman juga dihadirkan secara multimedia dalam bentuk video pendek durasi 2-3 menit, yang ditayangkan sebelum grup Saman tampil. Saman Summit itu menampilkan 13 kelompok penari saman dari Gayo, Aceh, dan kawasan lain seperti Padang, Jakarta, Banyuwangi, Lombok, dan Jombang dengan peserta dari siswa sekolah dasar hingga yang dewasa.
Sekda Aceh T Setia Budi dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa Saman begitu mengakar kuat dalam masyarakat Gayo Lues. Kesenian itu saat ini sudah dipelajari di dunia internasional.
Diskusi Saman Gayo menampilkan pembicara Drs Ridwan Salam, penulis buku “Tari Saman” dan bekas penari Saman. Diskusi tersebut dimaksudkan memberi gambaran pada masyarakat luas tentang Saman dan aspek sosial budayanya.
Tari Saman juga dihadirkan secara multimedia dalam bentuk video pendek durasi 2-3 menit, yang ditayangkan sebelum grup Saman tampil. Saman Summit itu menampilkan 13 kelompok penari saman dari Gayo, Aceh, dan kawasan lain seperti Padang, Jakarta, Banyuwangi, Lombok, dan Jombang dengan peserta dari siswa sekolah dasar hingga yang dewasa.
Sekda Aceh T Setia Budi dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa Saman begitu mengakar kuat dalam masyarakat Gayo Lues. Kesenian itu saat ini sudah dipelajari di dunia internasional.
“Tari Saman tanpa menggunakan alat musik, bunyi-bunyian dalam tarian ini dihasilkan dari tepukan tangan, jentikan jari hingga tepukan dada. Yang menjadi ciri khas dari Tari Saman ialah dibawakan serentak oleh penarinya,” kata Sekda T Setia Budi. Ia mengharapkan dengan digelarnya Saman Summit, masyarakat Indonesia akan lebih mencintai Saman sebagai bagian dari budaya bangsa. (fik)
Jadi Magnet Pariwisata
Wakil Ketua MPR RI Ahmad Farhan Hamid mengaku sangat menikmati pembukaan Saman Summit dan menyebutnya sebagai peristiwa luar biasa, terlebih itu diselenggarakan di Museum Fatahillah yang masih memiliki darah Aceh.
Jadi Magnet Pariwisata
Wakil Ketua MPR RI Ahmad Farhan Hamid mengaku sangat menikmati pembukaan Saman Summit dan menyebutnya sebagai peristiwa luar biasa, terlebih itu diselenggarakan di Museum Fatahillah yang masih memiliki darah Aceh.
“Saman yang telah menjadi khasanah budaya dunia, berhasil merekam kepribadian masyarakat di Aceh yang dinamik, egaliter dan kerja keras. Kita memberi apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan acara ini,” kata Farhan Hamid yang mengikuti dengan tekun acara pembukaan bersama 2.000 pengunjung lainnya.
Ia menyarankan peristiwa itu dijadikan event tahunan di Jakarta. “Namun untuk kepentingan wisatawan, pemerintah Provinsi Aceh dapat menjadwalkan agenda tetap bulanan dengan pertunjukan seni budaya Aceh yang lebih luas dan dipublikasikan secara luas. Itu akan menjadi magnet pariwisata baru di Indonesia,” kata Farhan Hamid. | AT | R | Serambi|
Ia menyarankan peristiwa itu dijadikan event tahunan di Jakarta. “Namun untuk kepentingan wisatawan, pemerintah Provinsi Aceh dapat menjadwalkan agenda tetap bulanan dengan pertunjukan seni budaya Aceh yang lebih luas dan dipublikasikan secara luas. Itu akan menjadi magnet pariwisata baru di Indonesia,” kata Farhan Hamid. | AT | R | Serambi|

