Aceh
Utara | acehtraffic.com- Kabupaten Aceh Utara, dulunya dikenal sebagai daerah
penghasil minyak dan gas (Migas). Karena terdapat sejumlah pabrik vital,
seperti ExxonMobil, PT. Arun LNG, PT PIM, PT AAF dan PT KKA. Namun, keberadaan
pabrik vital itu tidak sedikit pun berpengaruh terhadap kesejahteraan
masyarakat Aceh Utara.
Bupati
Aceh Utara, Muhammad Thaib, akrab disapa Cek Mad, mengatakan, Aceh Utara yang
pernah mendapatkan julukan daerah petro dollar, sebagai penghasil Migas di
wilayah Provinsi Aceh. Saat ini hasil produksi Migas semakin menurun tingkat
kemiskinan pun semakin tinggi.
“Tapi selama beroperasi pabrik vital itu,
belum mampu mengatasi kemiskinan masyarakat Aceh Utara,”Ucap Bupati Muhammad
Thaib, saat membuka Musrenbang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun
2012-2017, di Aula Bappeda setempat, kemarin sebagaimana dilansir Koran Rakyat
Aceh, Sabtu 15 Desember 2012.
Menurutnya,
sesuai data dari BPS tahun 2011, bahwa masyarakat miskin Aceh Utara berjumlah
124.662 jiwa atau 22,89 persen. Sementara jumlah warga Aceh Utara dari 27
kecamatan tersebar di 852 gampong mencapai 587.440 jiwa.
Sebut
dia, untuk masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaanpun masih banyak terutama
di daerah pedesaan mencapai 27.417 jiwa atau 12,78 persen.
Kemudian,
menyangkut bidang pendidikan terutama permasalahan mutu hingga saat ini masih
perlu mendapat perhatian serius dari Pemerintah Daerah (Pemda). Tentunya, untuk
meningkatkan kompetensi guru dan daya saing lulusan.
Selain
itu, lanjutnya, terhadap kondisi kesehatan masyarakat di daerah terpencil belum
optimal, karena masih ada puskesmas yang perlu ditingkatkan menjadi puskesmas
rawat inap.
Selanjutnya,
kurangnya ketersediaan ambulace, alat-alat kesehatan dan tenaga medis.
Akibatnya, kondisi itu telah menyebabkan angka kematian ibu melahirkan masih
tinggi 186 per 100.000 kelahiran hidup.
Tidak
hanya itu, bupati juga mengakui,saat ini kondisi infrastruktur terutama jalan
dan jembatan masih banyak mengalami rusak parah. Kondisi itu, membuat mobilitas
hasil-hasil pertanian menjadi terganggu.
“Infrastruktur jaringan irigasi kurang baik
menyebabkan produktifitas padi masih rendah yaitu 5,6 ton perhektar,”cetusnya. |
AT | R | Rakyat Aceh|

