News Update :

30 Desember, Teror Zionis di Baladush-Shaikh

Minggu, 30 Desember 2012



Acehtraffic.com - Tanggal 30 Desember 1947, dua kelompok teroris Zionis dalam operasi bersama mereka, menyerang sebuah desa bernama Baladush-Shaikh di Palestina. Dalam serangan teror yang mengerikan itu, rumah-rumah warga Palestina dibakar dan enam puluh orang yang tengah berada di dalam rumah-rumah tersebut tewas terbakar.

Pada hari yang sama, sebuah kelompok teroris Zionis lainnya bernama Irgun juga melakukan aksi terornya dengan melemparkan bom ke tengah-tengah warga. Tujuh belas  orang warga Palestina gugur syahid dalam serangan ini dan puluhan lainnya luka-luka. Meningkatnya serangan kelompok-kelompok teroris terhadap bangsa Palestina di akhir tahun 1947 dan awal tahun 1948 adalah dalam rangka mengusir bangsa Palestina dari tanah air mereka dan persiapan untuk proklamasi berdirinya negara Israel pada bulan Mei tahun 1948.

Raja Michael dari Rumania Mengundurkan Diri

Tanggal 30 Desember 1947, Raja Michael dari Rumania dipaksa untuk mengundurkan diri. Dia kemudian menjalani pembuangan di Swiss dan dicabut kewarganegaraannya. Dengan mundurnya Raja Michael, sistem kerajaan di Rumania dihapus dan dimulailah sistem republik di sana. Hingga tahun 1862, Rumania adalah sebuah wilayah otonomi di bawah kekuasaan imperium Ottoman.

Pada tahun 1877, Rumania meraih kemerdekaan penuh dari Ottoman. Dalam era Perang Dunia Kedua, Rumania bersekutu dengan Uni Soviet dalam melawan Nazi Jerman.  Namun, seusai perang, terbentuk pemerintahan koalisi di Rumania yang didominasi kelompok komunis dan didukung oleh Uni Soviet. Raja Michael pun kemudian dipaksa mengundurkan diri dan Dr. Constantin Parhon pun naik ke kursi kepresidenan. Seiring dengan runtuhnya Uni Soviet,  rezim komunis Rumania yang saat itu berada di bawah kepresidenan Nicolae Ceausescu pun digulingkan oleh rakyat Rumania pada tahun 1989.

Marcos Dilantik Jadi Presiden

Tanggal 30 Desember 1965, Ferdinand Marcos dilantik oleh Senat Philipina sebagai presiden negara ini. Pada era pendudukan Jepang di Filipina selama Perang Dunia Kedua, Marcos memimpin perjuangan bangsa Filipina melawan Jepang, meskipun informasi lain menyebutkan bahwa fakta ini direkayasa oleh Marcos sendiri. Namun yang jelas, karena jasanya dalam perjuangan melawan Jepang itulah, ia kemudian terpilih sebagai anggota DPR Filipina dan akhirnya berhasil terpilih menjadi anggota Senat pada tahun 1959. Pada tahun 1965, melalui pemilu yang curang, Marcos berhasil terpilih sebagai presiden.

Kekuasaan Marcos di Filipina berlangsung selama 20 tahun. Selama memerintah, Marcos menggunakan kekerasan militer untuk mengontrol negara. Ia pun banyak menyelewengkan uang negara dan membunuhi lawan-lawan politiknya. Pada tahun 1983, Marcos membunuh salah satu oposannya yang terkemuka, yaitu Benigno Aquino.

Pembunuhan Aquino membuat protes anti-Marcos bergelora di seluruh penjuru negeri Filipina. Akibatnya, tahun 1986, Marcos bersedia mengadakan pemilihan presiden baru. Janda Aquino, yaitu Corazon Aquino ikut serta dalam pemilu ini. Marcos dinyatakan menang dalam pemilu tersebut, namun pengamat independet menyatakan bahwa pemilu tersebut dipenuhi kecurangan. Akibatnya, demonstarsi anti Marcos kembali meluap dan Aquino memproklamasikan diri sebagai presiden baru Filipina. Keberpihakan militer kepada Aquino, membuat Marcos terpaksa melarikan diri ke Hawaii dengan menggunakan pesawat milik AS.

Diktator Irak, Saddam Hussein di Hukum Gantung

Tanggal 30 Disember 2006, diktator Irak, Saddam Hussein dihukum gantung menyusul putusan pengadilan tinggi Irak. Saddam Hussein dilahirkan di dekat kota Tikrit, 140 km utara Baghdad. Pada usia 20 tahun ia bergabung dengan Partai Baath. Menyusul kudeta yang dilakukan partai ini pada tahun 1968, akhirnya Saddam menjadi wakil dari Ahmad Hasan Al-Bakr pemimpin Baath waktu itu. Pada tahun 1979  Saddam berhasil menjadi presiden Irak. Selain memegang tampuk pimpinan tertinggi di Irak, Saddam juga memegang jabatan panglima tertinggi angkatan bersenjata Irak dan sejumlah pos penting lainnya. Di awal kekuasaannya Saddam mulai menjalankan ambisinya dengan dukungan penuh Barat. Hal ini ditandai dengan serangan Irak ke Iran yang mengakibatkan tragedi kemanusiaan. Dengan bantuan Barat pula Saddam membuat senjata kimia dan digunakan untuk menyerang bangsa Irak dan Iran.

Dua tahun setelah menyerang Iran, Saddam mencaplok Kuwait. Aksi tersebut mendapat kecaman luas dari masyarakat internasional. Setelah penarikan pasukan Irak dari Kuwait, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bansa (DK-PBB) memberlakukan sanksi terhadap Irak. Sanksi ini membuat mayoritas rakyat Irak menderita. Di sisi lain, selama kepemimpinannya, Saddam telah membantai atau mencebloskan ke penjara puluhan ribu warga Irak. Meski diktator Irak ini melakukan berbagai kejahatan, namun ia hanya dituntut hukuman gantung karena telah melakkan pembunuhan massal terhadap warga desa ad-Dajil di Irak pada tahun 1982.
| AT | M | Irib |
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016