
Bireuen | Acehtraffic.com - Enam
orang dibacok orang gila, tiga diantaranya tewas sementara tiga lainnya kritis
akibat dibacok oleh seorang warga, Jamalludin (35) warga Lapang Barat Kecamatan Gandapura Kabupaten Bireuen yang diduga mengidap penyakit
jiwa atau gila.
Kejadian tersebut terjadi didalam lingkungan sekolah SMPN 1 Gandapura dan di Keude Geurugoek, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen.
Kejadian tersebut terjadi didalam lingkungan sekolah SMPN 1 Gandapura dan di Keude Geurugoek, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen.
Peristiwa naas tersebut terjadi
sekira pukul 10.50 WIB, Jum’at 2 November 2012 menurut keterangan dari berbagai
sumber yang berhasil dihimpun reporter Acehtraffic.com, Jamalludin masuk ke dalam lingkungan sekolah menenteng senjata tajam (pisau).
Setelah berada persis didepan kantor dewan guru, orang gila tersebut kembali kearah pintu pagar dan membacok seorang Satpam SMP tersebut Saiful bahri (27) tepat didadanya.
Setelah berada persis didepan kantor dewan guru, orang gila tersebut kembali kearah pintu pagar dan membacok seorang Satpam SMP tersebut Saiful bahri (27) tepat didadanya.
Dengan keadaan luka parah Saiful
bahri mencoba berlari sambil berteriak minta tolong menuju kantin sekolah
sementara orang gila tersebut mengejar dibelakangnya. Sesampainya dikantin
sekolah tersebut, seorang penjaja makanan dikantin Nurul Aini (50) dibantainya hingga
tewas di tempat.
Dugaan sementara pisau yang digunakan untuk membacok Nurul Aini menggunakan pisau dapur milik kantin tersebut sedangkan pisau yang digunakan untuk membacok satpam dicurinya dari penjaja bakso di Keude Geurugoek.
Selanjutnya dengan pisau yang masih ternoda dengan darah, orang gila ini menghampiri koperasi sekolah tersebut, disini giliran Rusli (60) menjadi sasaran amuknya. Tubuh tua renta Rusli dibacoknya hingga tewas ditempat.
Dugaan sementara pisau yang digunakan untuk membacok Nurul Aini menggunakan pisau dapur milik kantin tersebut sedangkan pisau yang digunakan untuk membacok satpam dicurinya dari penjaja bakso di Keude Geurugoek.
Selanjutnya dengan pisau yang masih ternoda dengan darah, orang gila ini menghampiri koperasi sekolah tersebut, disini giliran Rusli (60) menjadi sasaran amuknya. Tubuh tua renta Rusli dibacoknya hingga tewas ditempat.
Beberapa petugas sekolah yang
masih berada dilingkungan sekolah tidak ada yang berani keluar dari ruang
kantor dewan guru. Mereka hanya bisa menyaksikan kekejaman yang dilakukan orang
gila tersebut melalui jendela kaca dengan pintu dikunci.
Salah seorang pegawai TU (Tata Usaha) disekolah tersebut, Sulaiman (55) memberanikan diri mencoba meminta pertolongan kepada polisi dengan keluar mengambil sepeda motornya meskipun para guru mencegahnya karena ngeri.
Salah seorang pegawai TU (Tata Usaha) disekolah tersebut, Sulaiman (55) memberanikan diri mencoba meminta pertolongan kepada polisi dengan keluar mengambil sepeda motornya meskipun para guru mencegahnya karena ngeri.
Ketika Sulaiman keluar menuju
tempat diparkir sepeda motornya, dia juga terkejut melihat banyak orang dijalan
luar gedung sekolah tersebut ramai hanya bisa menyaksikan tanpa berani
mengamankan orang gila tersebut.
Dari luar pagar tersebut Sulaiman
diteriaki oleh masyarakat yang telah berkumpul agar segera masuk kembali ke
kantor dewan guru, karena tanpa sepengetahuan Sulaiman, orang gila tersebut
duduk disamping mobil yang terparkir tak jauh dari Sulaiman berada.
Ketika sepeda motor telah dinyalakan serta merta orang gila itu berlari menuju Sulaiman dan kali ini orang gila tersebut menghujaninya dengan parang yang berhasil dirampasnya dari penjual parang di Keude Geurugoek ke arah kepala Sulaiman dan dengan refleks ditangkis menggunakan tangan kirinya dan ketiga jari tangan kirinya pun putus.
Tidak tanggung-tanggung Jamalludin berhasil merampas tiga bilah parang dari penjual parang itu.
Ketika sepeda motor telah dinyalakan serta merta orang gila itu berlari menuju Sulaiman dan kali ini orang gila tersebut menghujaninya dengan parang yang berhasil dirampasnya dari penjual parang di Keude Geurugoek ke arah kepala Sulaiman dan dengan refleks ditangkis menggunakan tangan kirinya dan ketiga jari tangan kirinya pun putus.
Tidak tanggung-tanggung Jamalludin berhasil merampas tiga bilah parang dari penjual parang itu.
Dengan keadaan luka parah Sulaiman
mengendarai motornya menuju puskesmas Geurugoek. Berselang beberapa menit
kemudian giliran masyarakat yang sudah sedari tadi berkerumun di kejar dengan menenteng ketiga parang yang terhunus tajam meneteskan darah kental yang kontan saja
membuat masyarakat lari kocar-kacir menyelamatkan diri.
Diluar gedung sekolah yaitu di keude Geurugoek dua orang kembali dibacok dengan parang. Dua orang tersebut Azhari Idris (38) dan M. Yunus (55) dengan kondisi luka parah dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Fauziah Bireuen.
Diluar gedung sekolah yaitu di keude Geurugoek dua orang kembali dibacok dengan parang. Dua orang tersebut Azhari Idris (38) dan M. Yunus (55) dengan kondisi luka parah dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Fauziah Bireuen.
Warga desa tersebut sangat kecewa
terhadap lambannya kinerja kepolisian mengamankan orang gila tersebut. Padahal
beberapa anggota polisi berada dilokasi, Keude Geurugoek, dan mereka sangat
menyayangkan atas sikap polisi yang tidak menembak kaki orang gila tersebut yang
pada akhirnya dengan kayu broti ditangan puluhan warga menghantam
tangan orang gila tersebut hingga ketiga parang tajam lepas dari
genggamannya.
Tanpa dikomando puluhan tendangan
dan pukulan serta hantaman kayu broti dilayangkan ke arah orang gila tersebut
hingga tergeletak tak berdaya di badan jalan aspal persis didepan kantor Camat
Gandapura berdekatan dengan kantor Danramil setempat dan langsung diamankan
oleh TNI dari kantor Danramil dan kemudian diserahkan ke Polres Bireuen.
Kapolsek Gandapura, Briptu Ajiwisa
membenarkan adanya peristiwa tersebut, dan berdasarkan informasi yang
diterimanya korban sebanyak enam orang, Dua orang diantaranya meninggal setelah
dibawa ke puskesmas Geurugoek yaitu Nurul aini (50) dan Rusli (60).
Empat orang lainnya kritis dan sedang dirawat di Rumah sakit Fauziah Bireuen dan Kesrem Lhokseumawe. Briptu Ajiwisa mengatakan sebelumnya pelaku pernah dirawat dirumah sakit jiwa.
Empat orang lainnya kritis dan sedang dirawat di Rumah sakit Fauziah Bireuen dan Kesrem Lhokseumawe. Briptu Ajiwisa mengatakan sebelumnya pelaku pernah dirawat dirumah sakit jiwa.
Sementara Kapolres Bireuen AKBP
Yuri Karsono mengatakan pihaknya akan menguji dulu dengan meminta keterangan
para ahli apakah pelaku mengidap penyakit jiwa (gila) atau tidak. “Nanti dari
situ baru bisa kita ambil langkah-langkah kepolisian,” kata Kapolres Bireuen.
AKBP Yuri Karsono menambahkan, “Kalau
ternyata memang gila yang jelas tidak bisa diproses dengan hukum pidananya. Dia
harus direhab kerumah sakit jiwa, tapi kalau setelah diperiksa para ahli
ternyata tidak gila maka akan diproses dengan hukum.”
Tercatat jumlah korban dalam
peristiwa ini berjumlah sebanyak enam orang, dua diantaranya meninggal di TKP,
Nurul Aini (50) dan Rusli (60). Sementara Saiful Bahri (27) satpam SMPN 1
Gandapura kritis dan mendapat perawatan intensif di rumah
sakit Bireuen Fauziah, dan kini sudah sadarkan diri setelah dilakukan operasi.
Tiga orang lainnya kritis yaitu Azhari Idris (38), dan M. Yunus (55) sedang dirawat dirumah sakit Fauziah, Bireuen. Sementara Sulaiman Maksiah (55) mantan geuchik saat ini sedang dirawat di rumah sakit TNI AD Lhokseumawe.
Tiga orang lainnya kritis yaitu Azhari Idris (38), dan M. Yunus (55) sedang dirawat dirumah sakit Fauziah, Bireuen. Sementara Sulaiman Maksiah (55) mantan geuchik saat ini sedang dirawat di rumah sakit TNI AD Lhokseumawe.
“Pelaku untuk sementara kita
amankan dulu di Polres Bireuen. Saat ini kondisinya sudah baik. Kita masih
menunggu rujukan dulu dari rumah sakit, nanti dari dasar itu kita bawa ke rumah
sakit jiwa Banda Aceh. Kita koordinasi dulu,” Jelas Kapolres Bireuen.
Mengenai banyaknya warga yang
heran dengan sikap beberapa anggota polisi yang berada di TKP tidak mengambil
langkah cepat untuk melumpuhkan orang gila ini dengan menembak dikakinya.
Kapolres mengatakan bahwa itu tekhnis kepolisian, “Jadi kita nggak mesti melumpuhkan dengan menembak dikaki nya, kalau kita tangkap kan bisa. Kalau kita tembak dikaki entar dibilang kita melanggar HAM lagi. Yang jelas kita bisa lumpuhkan dengan tekhnis kepolisian.” | AT | HR |
Kapolres mengatakan bahwa itu tekhnis kepolisian, “Jadi kita nggak mesti melumpuhkan dengan menembak dikaki nya, kalau kita tangkap kan bisa. Kalau kita tembak dikaki entar dibilang kita melanggar HAM lagi. Yang jelas kita bisa lumpuhkan dengan tekhnis kepolisian.” | AT | HR |
