PADA 21 Maret 2010 dini hari, kompleks rumah dan balai
pengajian Tgk Aiyub Syahkubat di Desa Jambo Dalam, Kecamatan Peulimbang,
Kabupaten Bireuen juga diamuk massa. Pemiliknya dituduh mengajarkan aliran
sesat.
Dalam insiden waktu itu, tiga sepeda motor, satu mobil, dua balai pengajian hangus.
Dalam insiden waktu itu, tiga sepeda motor, satu mobil, dua balai pengajian hangus.
Tgk Aiyub dan delapan pengikutnya berhasil diselamatkan oleh
polisi dan diamankan ke Mapolres Bireuen. Seminggu kemudian, Majelis
Permusyawaratan Ulama (MPU), Dinas Syariat Islam, Pemkab dan Polres Bireuen
bersidang di musalla Mapolres Bireuen.
Waktu itu MPU belum bisa memastikan ajaran atau kegiatan
yang dilakukan Tgk Aiyub serta pengikutnya sesat atau tidak. Sedangkan Tgk
Aiyub dan pengikutnya secara tegas menganggap tuduhan yang dialamatkan kepada
mereka adalah fitnah.
Dalam perjalanan selanjutnya, masyarakat Jambo Dalam tetap
menolak kembalinya Tgk Aiyub meski telah menandatangani pernyataan dan ikrar
bahwa mereka telah melakukan kesalahan.
Pada akhir Maret 2010, Tgk Aiyub dan belasan pengikutnya
berharap pihak MPU dan Pemkab Bireuen segera mengambil sikap dan menyelesaikan
persoalan yang membuat mereka harus berada di tempat penampungan, Kompleks
Masjid Agung Bireuen.
“Kami ini korban fitnah, MPU dan Pemda hendaknya segera
mengambil sikap, memanggil saksi kedua belah pihak sehingga dugaan keliru yang
dialamatkan kepada kami dapat terjawab,” kata Tgk Aiyub dan sejumlah
pengikutnya di tempat penampungan Masjid Agung Bireuen, Minggu 27 Maret 2010.
Tgk Aiyub yang diduga menjalankan ibadah melanggar akidah
dan syariat Islam, saat disidang oleh MPU Bireuen di kantor MPU setempat di
Kompleks Masjid Agung Bireuen, Rabu 6 April 2010 sempat membuka baju di hadapan
hakim. Menurutnya, ia melakukan hal itu karena sakit ketika majelis hakim
melontarkan sejumlah pertanyaan kepada dirinya.
Aksi buka baju itu dilakukan Tgk Aiyub ketika ditanya
majelis hakim yang diiringi keterangan saksi. “Saya kalau banyak ditanya
bertambah sakit. Kalau tak percaya saya sakit, boleh ditanya ke dokter,”
katanya sembari membuka baju untuk memperlihatkan penyakitnya.
Setelah sempat diam selama 2011--bahkan Tgk Aiyub sudah
kembali ke rumahnya karena sudah ada surat kesepakatan tidak mengulang
kesalahan--akhirnya pada Oktober 2012, sejumlah warga Kecamatan Peulimbang
melaporkan lagi aktivitas di balai pengajian Tgk Aiyub.
Dinas Syariat Islam Bireuen merespon laporan itu dengan
mendatangi rumah Tgk Aiyub menanyakan berbagai informasi yang disampaikan
warga. “Kami menanyakan beberapa hal yang berkembang di tengah-tengah
masyarakat dan meminta penjelasan.
Kami menanggapi serius laporan itu karena
Tgk Aiyub pernah bermasalah beberapa waktu lalu dan kompleks tersebut sempat
dibakar massa,” kata Kasi Penyidik dan Pencegahan Dinas Syariat Islam Bireuen,
Tgk Daud kepada Serambi, akhir Oktober lalu.
Tgk Daud mengatakan, Tgk Aiyub mengaku tidak ada kegiatan
pengajian di rumahnya. Pengajian yang dilakukan selama ini hanyalah mengajar
mengaji Quran 30 juz dan juz amma untuk anaknya.
Menyangkut sering ramainya orang di rumahnya, Tgk Aiyub
mengatakan hanya bentuk kepedulian tetangga menjenguk dirinya yang
sakit-sakitan. “Bukan keramaian kegiatan pengajian yang diisukan oleh
masyarakat,” begitu pengakuan Tgk Aiyub sebagaimana dikutip Tgk Daud.
Pasca-insiden di rumah Tgk Aiyub pada Jumat malam hingga
Sabtu subuh (16-17 November 2012), sejumlah warga yang ditemui Serambi kemarin
di Desa Jambo Dalam mengatakan, aktivitas Tgk Aiyub dan pengikutnya sangat
tertutup. Istrinya juga jarang ke luar rumah.
Tgk Aiyub memiliki empat anak--dua laki-laki dan dua
perempuan--namun warga tak ada yang tahu nama istri maupun anak-anak Tgk Aiyub.
Sejak kejadian itu, istri Tgk Aiyub dan keempat anaknya tidak diketahui kemana.
| Sumber Serambi

