Jakarta | Acehtraffic.com -Selendang biasanya hanya digunakan untuk mempercantik penampilan atau melindungi diri kita dari sesuatu seperti sengatan matahari. Tapi sejumlah aktivis perempuan memiliki selendang yang punya fungsi lebih dari itu, yakni sebagai kantong.
Biasanya selendang ini disebut selentong atau selendang kantong. Praktis memang, kita tak perlu lagi membawa tas.
“Sekarang selentong lagi tren di kalangan aktivis perempuan. Menarik dan seru, mirip tas juga seperti tas kain dari Thailand atau Vietnam," kata Baby Putri Andana, anggota Senat Mahasiswa Universitas Nasional, yang bolak-balik turun ke jalan.
Tentu saja alasan pertama mahasiswa semeter tiga ini memakai selendang atau syal saat berdemonstrasi adalah karena fungsinya, yakni sebagai aksesori dan pelindung tubuh.
“Bisa berfungsi melindungi tubuh dari sengatan matahari, gerimis, dan biar cantik menarik,” ujar Baby. Tapi fungsi lain sebagai tas juga menjadi pertimbangan kuat. “Selendang multifungsi ini cocok untuk dipakai para aktivis dan politikus perempuan,” katanya.
Dia menunjukkan selendang yang terbuat dari batik atau tenun yang di bagian pinggirnya diberi ritsleting menyerupai kantong. Dengan diameter lipatan selendang yang biasanya 8-20 sentimeter, selentong ini dapat difungsikan untuk menaruh dompet, telepon seluler, dan tablet.
Selentong yang kini menjadi gaya para aktivis perempuan merupakan karya Nani Yugo. Dia mengaku terinspirasi oleh penjual jamu gendong yang selalu mengikat ujung selendangnya untuk menyimpan uang.
“Melihat mbok jamu, saya jadi punya ide membuat selentong atau selendang kantong," katanya. Dia kemudian memodifikasi kain batik dan tenun Indonesia menjadi selentong bermerek Ininani.
Nani membuat selentong dari batik berbagai daerah, seperti Garut, Cirebon, Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta. Jenis batiknya tulis dan cetak. Motifnya merupakan kombinasi dari berbagai jenis batik.
Kemudian, selentong juga terbuat dari bahan tenun, songket, ulos, dan sutra, yang dijual seharga Rp 130-300 ribu. | AT | R | TEMPO |
Biasanya selendang ini disebut selentong atau selendang kantong. Praktis memang, kita tak perlu lagi membawa tas.
“Sekarang selentong lagi tren di kalangan aktivis perempuan. Menarik dan seru, mirip tas juga seperti tas kain dari Thailand atau Vietnam," kata Baby Putri Andana, anggota Senat Mahasiswa Universitas Nasional, yang bolak-balik turun ke jalan.
Tentu saja alasan pertama mahasiswa semeter tiga ini memakai selendang atau syal saat berdemonstrasi adalah karena fungsinya, yakni sebagai aksesori dan pelindung tubuh.
“Bisa berfungsi melindungi tubuh dari sengatan matahari, gerimis, dan biar cantik menarik,” ujar Baby. Tapi fungsi lain sebagai tas juga menjadi pertimbangan kuat. “Selendang multifungsi ini cocok untuk dipakai para aktivis dan politikus perempuan,” katanya.
Dia menunjukkan selendang yang terbuat dari batik atau tenun yang di bagian pinggirnya diberi ritsleting menyerupai kantong. Dengan diameter lipatan selendang yang biasanya 8-20 sentimeter, selentong ini dapat difungsikan untuk menaruh dompet, telepon seluler, dan tablet.
Selentong yang kini menjadi gaya para aktivis perempuan merupakan karya Nani Yugo. Dia mengaku terinspirasi oleh penjual jamu gendong yang selalu mengikat ujung selendangnya untuk menyimpan uang.
“Melihat mbok jamu, saya jadi punya ide membuat selentong atau selendang kantong," katanya. Dia kemudian memodifikasi kain batik dan tenun Indonesia menjadi selentong bermerek Ininani.
Nani membuat selentong dari batik berbagai daerah, seperti Garut, Cirebon, Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta. Jenis batiknya tulis dan cetak. Motifnya merupakan kombinasi dari berbagai jenis batik.
Kemudian, selentong juga terbuat dari bahan tenun, songket, ulos, dan sutra, yang dijual seharga Rp 130-300 ribu. | AT | R | TEMPO |

