Lhokseumawe | Acehtraffic.com- Matahari cukup cerah, ketika kami melangkahkan kaki menuju ke Desa Kampung Jawa Lama, Dusun Kelapa Satu Kota Lhokseumawe. Kamis 4 Oktober 2012.
Sesampai disana terlihat satu keluarga tinggal dibawah tenda plastik, kondisi ini jauh dari kesan yang pernah terdengar gaung bahwa Bansa Aceh adalah Bansa djang mulidja dan Bermartabat Di atas muka bumi (Ateuh Rueng Donya) .
Sejenak saya berpikir apakah kemuliaan yang dimaksud seperti ini? Atau hanya keluarga ini saja yang lolos dari status Kemuliaan dan Kemartabatan? Tidak ada jawaban sama saya. Pastinya itulah yang terlihat didepan mata saya.
Namun dibalik itu saya juga berpikir sejauh pendidikan saya yang rendah dan tidak bolak balik luar negeri. Tapi yang saya fahami kehidupan seorang yang disebut dengan status kemuliaan minimal dia memiliki rumah yang layak untuk tempat berteduh.
Saya ingat seorang kawan yang baru pulang dari Malaysia berkata, dimasa Mahathir Muhammad memimpin Malaysia pada sebuah kesempatan dia berpidato “ Tidak muliye suatu Banse ketika tidak punya rumah untuk beteduh”
Jadi bagaimana dengan kehidupan Ilyas AR ?
Dia merupakan kepala keluarga yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang butut, mereka sudah tinggal di tenda plastik sejak 28 Oktober 2009 silam, setelah rumah mereka ditimpa musibah kebakaran.
Akibat musibah tersebut, mereka tidak sanggup untuk membangun kembali rumahnya. Disebabkan karena mereka tidak mempunyai modal yang cukup untuk membangun sebuah rumah.
Berbagai upaya telah dilakukan agar impian mereka untuk membangun rumah terwujud, misalkan meminta bantuan kepada Pemerintahan Kota Lhokseumawe, namun belum ada juga ada respon.
Ilyas juga sempat berpikir apakah permohonan dia tak diamini pemerintah karena dia? sebagai pensiunan Cleaning Service di kantor Dispenda Lhokseumawe?
Kehidupan Ilyas AR “Bansa yang mulidja dan bermartabat ini “memiliki seorang istri bernama, Laila Kandi serta empat orang anak, yaitu Syufat Aiyub, saat ini berada di penjara karena ditangkap membawa ganja.
Rahmad Bukhari bekerja di Stikes Muhammadiyah Lhokseumawe, M. Nasira kerja di depot air isi ulang di Banda Aceh dan Karimah Fitria, baru saja lulus sekolah di MAN Kota Lhokseumawe.
Ilyas berharap, Pemerintah Kota Lhokseumawe dan Pemerintah Aceh dapat meringankan tangannya untuk merubah kehidupannya dari berteduh, tidur dan memasak serta menghidupi anaknya dibawah tenda plastic, menjadi dibawah rumah yang layak untuk ditempati.
Sehingga dengan itu ia dapat menjadi salah satu keluarga di Nanggroe Mulidja, paling tidak ia menjadi anak bansa djang tersentuh bau Mulidja dan Martabat. Semoga | AT | AG | RD|
Sejenak saya berpikir apakah kemuliaan yang dimaksud seperti ini? Atau hanya keluarga ini saja yang lolos dari status Kemuliaan dan Kemartabatan? Tidak ada jawaban sama saya. Pastinya itulah yang terlihat didepan mata saya.
Namun dibalik itu saya juga berpikir sejauh pendidikan saya yang rendah dan tidak bolak balik luar negeri. Tapi yang saya fahami kehidupan seorang yang disebut dengan status kemuliaan minimal dia memiliki rumah yang layak untuk tempat berteduh.
Saya ingat seorang kawan yang baru pulang dari Malaysia berkata, dimasa Mahathir Muhammad memimpin Malaysia pada sebuah kesempatan dia berpidato “ Tidak muliye suatu Banse ketika tidak punya rumah untuk beteduh”
Jadi bagaimana dengan kehidupan Ilyas AR ?
Dia merupakan kepala keluarga yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang butut, mereka sudah tinggal di tenda plastik sejak 28 Oktober 2009 silam, setelah rumah mereka ditimpa musibah kebakaran.
Akibat musibah tersebut, mereka tidak sanggup untuk membangun kembali rumahnya. Disebabkan karena mereka tidak mempunyai modal yang cukup untuk membangun sebuah rumah.
Berbagai upaya telah dilakukan agar impian mereka untuk membangun rumah terwujud, misalkan meminta bantuan kepada Pemerintahan Kota Lhokseumawe, namun belum ada juga ada respon.Ilyas juga sempat berpikir apakah permohonan dia tak diamini pemerintah karena dia? sebagai pensiunan Cleaning Service di kantor Dispenda Lhokseumawe?
Kehidupan Ilyas AR “Bansa yang mulidja dan bermartabat ini “memiliki seorang istri bernama, Laila Kandi serta empat orang anak, yaitu Syufat Aiyub, saat ini berada di penjara karena ditangkap membawa ganja.
Rahmad Bukhari bekerja di Stikes Muhammadiyah Lhokseumawe, M. Nasira kerja di depot air isi ulang di Banda Aceh dan Karimah Fitria, baru saja lulus sekolah di MAN Kota Lhokseumawe.
Ilyas berharap, Pemerintah Kota Lhokseumawe dan Pemerintah Aceh dapat meringankan tangannya untuk merubah kehidupannya dari berteduh, tidur dan memasak serta menghidupi anaknya dibawah tenda plastic, menjadi dibawah rumah yang layak untuk ditempati.
Sehingga dengan itu ia dapat menjadi salah satu keluarga di Nanggroe Mulidja, paling tidak ia menjadi anak bansa djang tersentuh bau Mulidja dan Martabat. Semoga | AT | AG | RD|
