Dalam
Kamus Ilmiah Populer (Ramadhan, 2010: 325), kata panik diartikan sebagai sebuah
sikap gugup mendadak yang dialami oleh seseorang. Sebagai manusia normal kita
pasti sering mengalami penyakit “panik” ini.
Penyakit
panik yang penulis maksud bukanlah penyakit medis yang bisa disembuhkan dengan
obat generik ataupun obat paten.
Panik merupakan penyakit mental yang di alami oleh setiap orang. Penyakit mental inipun bukanlah penyakit seperti dugaan banyak orang.
Pada umumnya ketika disebut penyakit mental, pikiran orang – orang akan tertuju kepada sesuatu yang aneh (baca: penyakit gila).
Panik merupakan penyakit mental yang di alami oleh setiap orang. Penyakit mental inipun bukanlah penyakit seperti dugaan banyak orang.
Pada umumnya ketika disebut penyakit mental, pikiran orang – orang akan tertuju kepada sesuatu yang aneh (baca: penyakit gila).
Dalam
tulisan ini, penulis tidak sedang membahas penyakit gila tersebut. Mental yang
penulis maksud dalam tulisan ini lebih tertuju kepada kondisi kejiwaan
seseorang yang pada prinsipnya merupakan sifat normal.
Panik
merupakan sikap dimana kondisi kejiwaan kita tidak sanggup menerima kenyataan
yang kita alami, baik yang kita alami tersebut kenyataan manis (membahagiakan)
maupun kenyataan yang pahit (menyusahkan).
Kondisi
kejiwaan kita terasa terganggu dengan kenyataan yang kita hadapi tersebut
sehingga melahirkan sikap – sikap aneh dan tidak biasa pada diri kita. Sikap
tersebut lahir secara tiba – tiba dan terkadang tanpa kita sadari.
Ketika itu emosi kita terlepas dari ikatan sehingga tidak terkontrol dan bergerak bebas menembus batas – batas kewajaran. Dalam pandangan penulis inilah yang disebut dengan penyakit “panik”.
Ketika itu emosi kita terlepas dari ikatan sehingga tidak terkontrol dan bergerak bebas menembus batas – batas kewajaran. Dalam pandangan penulis inilah yang disebut dengan penyakit “panik”.
Sebenarnya
sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, Islam telah menyediakan rumus ampuh
dalam menyikapi kondisi ini (baca: panik). Jika merujuk kepada catatan sejarah
ketika agama Islam ini diturunkan di tanah Arab, ketika itu orang – orang Arab
juga berada dalam suasana yang luar biasa panik.
Sebelum
Islam berlabuh di dalam hati mereka (baca: orang Arab) ketika itu kondisi
kejiwaan orang – orang Arab Jahiliyah bertambah panik dengan kehadiran Islam
sebagai agama baru bagi mereka. Kepanikan tersebut tercermin dari sikap mereka
yang dengan keras kepala menentang ajaran suci ini (baca: Islam).
Sampai
– sampai akibat kepanikan mereka yang tidak terkontrol, mereka berusaha ingin
menyingkirkan utusan Tuhan (Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam) yang pada
prinsipnya di utus oleh Allah untuk menyembuhkan penyakit panik mereka yang
sudah berada pada titik kronis. Ketika itu mereka masih menyembah berhala yang
mereka buat sendiri dalam suasana serba panik.
Pada
perkembangan selanjutnya ketika Islam sudah tersebar luas di tanah Arab dan
sekitarnya, penyakit panik ini beralih posisi menempati hati – hati orang
munafiq semisal Abdullah bin Saba’ (mantan pendeta Yahudi dari Yaman).
Akibat
kepanikannya Abdullah bin Saba’ melakukan propaganda murahan kepada orang –
orang dan menyebar fitnah sehingga pada suatu ketika Khalifah yang lurus Usman
bin Affan Radhiallahu ' anhu terbunuh ditangan orang – orang munafiq yang panik
tersebut.
Tidak
berhenti disitu, si Abdullah bin Saba’ dengan kepanikannya juga melakukan
provokasi agar orang – orang bersifat ghuluw (berlebihan) kepada Khalifah Ar
Rasyidin yang juga menantu Nabi – Ali Al Murtadha Radhiallahu ' anhu sehingga
lahirlah sekte sesat bernama “Syi’ah”.
Sebuah
aliran keagamaan yang oleh mayoritas Ulama umat ini dinyatakan sesat, meskipun
ada sebagian kalangan intelektual Islam semisal Said Agil Siradj menepis
kesesatan mereka; dengan dalih persatuan umat. Dalam konteks ini, Said Agil
juga dapat disebut “panik” atau minimal dibuat panik oleh ulah “Syi’ahmania”
yang ada di Indonesia.
Panik
Aceh
Dalam
perjalanan sejarah Aceh masa lalu juga terdapat banyak kisah tentang anak – anak
negeri yang menderita penyakit panik sehingga akhirnya bekerjasama dengan musuh
dan mengkhianati bangsanya sendiri.
Sebut saja Panglima Tibang dan Habib Abdurrahman, akibat kepanikan yang tidak terkontrol mereka telah berkhianat kepada bangsa Aceh.
Sebut saja Panglima Tibang dan Habib Abdurrahman, akibat kepanikan yang tidak terkontrol mereka telah berkhianat kepada bangsa Aceh.
Dalam
sejarah Aceh modern, bencana gempa tsunami 26 Desember 2004 lalu menjadi saksi
bagaimana paniknya masyarakat Aceh dalam menghadapi situasi serba – genting
tersebut. Namun kepanikan yang terjadi pada saat tsunami tersebut merupakan
kepanikan natural yang tidak dapat dihindari oleh siapapun.
Setelah
GAM dan RI menandatangani nota kesepahaman di Helsinky pada 15 Agustus 2005
lalu yang melahirkan sebuah produk bernama “MoU Helsinki” sebagian orang Aceh
ketika itu juga dilanda panik yang tak
terbendung.
Masyarakat
Aceh larut dalam gemuruh damai setelah tiga puluh tahun dilanda perang (konflik
RI – GAM) yang memakan korban tak terhitung jumlahnya.
Ketika
beduk damai ditabuh, GAM turun gunung dan petani kembali ke ladang setelah
sekian lama lahan mereka terbengkalai akibat perang. Para pedagang kembali
tersenyum, mereka bisa kembali berniaga tanpa ada gangguan dari kedua belah
pihak.
Pada
perkembangan selanjutnya, pada pilkada 2006 akibat kepanikan (fanatisme rakyat)
terhadap kondisi Aceh ketika itu berhasil mengantarkan para mantan GAM hampir
di seluruh Aceh menuju singgasana pemerintahan baik di level provinsi maupun
sebagian kabupaten/kota di Aceh.
Fenomena
ini berlanjut pada tahun 2009 dimana mayoritas kursi DPR baik di provinsi dan
sebagian besar kabupaten/kota berhasil dikuasai oleh mantan pejuang GAM.
Bagaikan jamur di musim hujan, pada prosesi pilkada 2012 pasangan yang di usung
oleh PA (mantan GAM) juga berhasil meraup suara dengan jumlah yang fantastis.
Beberapa
kepanikan yang penulis sebutkan diatas khususnya di Aceh menurut penulis masih
berada pada kondisi normal sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun
perlu kita ketahui bahwa ketika penyakit panik tersebut mencapai titik klimaks
terkadang dapat melahirkan adegan – adegan aneh diluar batas kewajaran.
Sebagai
contoh aksi pemukulan yang menimpa mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf beberapa
waktu lalu (terserah siapa pelakunya), menurut penulis merupakan ekses yang
diakibatkan oleh kondisi panik yang telah menembus batas – batas kemanusiaan.
Perilaku tersebut dalam pandangan penulis terjadi karena gejolak emosi yang
tidak terkendali sehingga berubah menjadi “panik syndrome” yang mengakibatkan
pelakunya kehilangan kesadaran.
Satu
lagi (sekedar contoh), aksi sebagian oknum “Satgas Baret Merah” yang terjadi di
beberapa tempat di Aceh juga mencerminkan sikap panik dan tidak mampu
mengendalikan emosi sehingga terjadi aksi – aksi aneh yang ketika menyaksikan
kelakuaan tersebut kita cuma bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Rumus Menghadapi
Panik
Sebagai
umat akhir zaman, Allah telah menetapkan bahwa Islam adalah agama terakhir
sekaligus agama paripurna untuk kita anut sepenuhnya. Allah juga telah
menegaskan bahwa cuma agama Islam yang di ridhai oleh Allah sehingga melahirkan
konsekwensi bahwa selain agama Islam statusnya ilegal alias tidak direstui oleh
Allah.
Islam
sebagai agama samawi terakhir telah menyediakan konsep dan rumus ampuh dalam
menghadapi kondisi panik yang sudah kita bicarakan diatas.
Singkatnya dapat
penulis sebutkan bahwa, ketika kita dilanda kesedihan (bencana, kesulitan
ekonomi, di serang penyakit,dll) sebagai umat Islam kita dituntut bersabar dan
tidak perlu panik dalam menyikapi kondisi tersebut sehingga nilai iman kita
menjadi berkurang di sisi Allah.
Sebaliknya
ketika kita mendapatkan kebahagian (kaya mendadak, tiba – tiba menjadi
penguasa, memperoleh kemenangan duniawi, dll)
sebagai muslim kita dituntut untuk bersyukur atas nikmat tersebut.
Jangan sampai kita lalai dan panik sehingga saham dosa kita bertambah yang
akhirnya mendorong kita untuk berlabuh di neraka – na’uzubillah. Wallahul
Musta’an.
01
Oktober 2012
Penulis
adalah Tengku Khairil Anwar Sekjen Jeumpa Mirah

