Aceh Utara | Acehtraffic.com - Kisah
lain dibalik aksi mahasiswa mendesak Pemkab Aceh Utara untuk segera perbaiki
jalan Kecamatan Nisam, Aceh Utara harus berhadapan dengan oknum eks kombatan yang telah tergabung dalam KPA dan kini menjadi salah satu anggota Partai lokal di Aceh.
Saudara, kawan-kawan mahasiswa
yang sudah bosan makan debu dimusim kemarau, mandi lumpur dimusim penghujan, karena
alat transportasi jalan rusak parah pasca pengerasan beberapa tahun lalu.
Tidak hanya itu berdasarkan laporan Puskesmas setempat delapan ibu hamil keguguran diduga akibat alat transportasi tersebut yang dipenuhi dengan lubang-lubang yang sangat dalam.
Tidak hanya itu berdasarkan laporan Puskesmas setempat delapan ibu hamil keguguran diduga akibat alat transportasi tersebut yang dipenuhi dengan lubang-lubang yang sangat dalam.
Demi mendapatkan jalan yang bagus
untuk memperlancar roda perekonomian dan menekan angka kecelakaan hingga
mahasiswa bersama masyarakat Nisam Aceh Utara melakukan aksi protes dengan cara
memblokir jalan dan menggalang koin untuk disumbangkan kepada Pemkab setempat sebagai
surplus cost untuk pengaspalan jalan. .
Saudara, meski aksi mereka
tergolong sopan sehingga masyarakat terketuk hatinya untuk menyumbang uang
recehnya. Namun perbuatan mulia tersebut justru ditentang oleh kaki tangan
pemerintah dari partai berkuasa dan meng-isukan dijejaringan sosial aksi mereka (Para Mahasiswa)
didorong oleh lawan politik diktator mayoritas berkuasa.
Sebelum protes terjadi inisiator
aksi sempat dihubungi oleh aktivis Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA) Tgk Yus, berdasarkan rekaman suara
antara mahasiswa dan aktivis dari kalangan Ulama yang dekat dengan PA tersebut, Tengku Yus
menilai aksi tersebut cukup mengganggu pemerintah kabupaten Aceh Utara.
Sehingga dia mengeluarkan statemen keberatan atas aksi mahasiswa tersebut, “Jadi nasib Aceh yg cukup penting
bek tajak ganggu deungen aksi lage-lage nyan, ken lage nyan cara, nyan buet
aneuk miet barosa lahe iteupue hana peng ijok peng grik nyan” nasehat Ulama
itu.
Ketika ditanya solusi oleh
mahasiswa tersebut aktivis MUNA ini mengatakan
“Tanyoe di Nisam ada MUNA ada PA, Meunyoe takeubah dua boh organisasi nyan hana tatuoh peugah, Panglima sagoe na? Beuna ureung nyan, nyan tokoh tanyoe,” Ceramah Tgk Yus.
“Tanyoe di Nisam ada MUNA ada PA, Meunyoe takeubah dua boh organisasi nyan hana tatuoh peugah, Panglima sagoe na? Beuna ureung nyan, nyan tokoh tanyoe,” Ceramah Tgk Yus.
Dengan kata lain pihaknya
menganggap aksi penggalangan koin yang bakal diserahkan untuk membantu Pemkab
Aceh Utara yang sedang defisit anggaran bisa mempermalukan diri sendiri dalam artian pemerintah Aceh Utara.
“Meunyoe nyan male, jalan broek han ek jimita peng le pemerintah, Hana male?,” Cetus Apa Lah Sarong.
“Meunyoe nyan male, jalan broek han ek jimita peng le pemerintah, Hana male?,” Cetus Apa Lah Sarong.
Kritikan demi kritikan atas
kekecewaan masyarakat dianggap sebagai lawan politik partai berkuasa.
Kami anak dan mahasiswa yang tinggal serta lahir di Nisam merasa tidak senang dengan perlakuan dan sikap diktator oknum PA, seharusnya justru mereka yang memperjuangkan ini demi kesejahteraan masyarakat.
Faktanya saat ini justru mereka yang menjadi penghambat kebebasan berekspresi dalam rangka mengeluarkan aspirasi masyarakat, padahal dalam UUPA pasal 227 juga menyebutkan tentang hak masyarakat untuk kebebasan ber-ekpresi dan mengeluarkan pendapat.
Kami anak dan mahasiswa yang tinggal serta lahir di Nisam merasa tidak senang dengan perlakuan dan sikap diktator oknum PA, seharusnya justru mereka yang memperjuangkan ini demi kesejahteraan masyarakat.
Faktanya saat ini justru mereka yang menjadi penghambat kebebasan berekspresi dalam rangka mengeluarkan aspirasi masyarakat, padahal dalam UUPA pasal 227 juga menyebutkan tentang hak masyarakat untuk kebebasan ber-ekpresi dan mengeluarkan pendapat.
Mohon maaf kepada seluruhnya dalam
tulisan ini satu satunya tempat curhat kami, kami tidak tau harus mengadu
kemana.
Soalnya buat aksi dijalan yang kebetulan didepan kantor PA jadi masalah, hingga kami harus minta maaf kepada Ketua PA, belum lagi birokrasi baru yang diciptakan untuk memperumit tuntutan masyarakat dengan sejuta alasan.
Soalnya buat aksi dijalan yang kebetulan didepan kantor PA jadi masalah, hingga kami harus minta maaf kepada Ketua PA, belum lagi birokrasi baru yang diciptakan untuk memperumit tuntutan masyarakat dengan sejuta alasan.
Atas pengalaman itu, kami minta
kaki tangan pemerintah berkuasa untuk tidak menganggu kami yang hanya meminta
agar jalan segera dibangun. Bek sampe ada diktator baru di Aceh.
Kami harap Pemkab Aceh Utara untuk segera mengalokasi dana pembangunan jalan tersebut. Jangan ajak kami untuk beraudiensi karena yang dibutuhkan adalah jalan diaspal, bukan audiensi. []
Kami harap Pemkab Aceh Utara untuk segera mengalokasi dana pembangunan jalan tersebut. Jangan ajak kami untuk beraudiensi karena yang dibutuhkan adalah jalan diaspal, bukan audiensi. []
Opini ini ditulis oleh Dianis Husen,
warga yang berdomosili di Keude Amplah, Kecamatan Nisam, Aceh Utara
