Lhokseumawe |
Acehtraffick.com - Terkait tumbangnya pepaya milik Tgk Razali beberapa waktu yang
lalu, Jum’at 25 Mei 2012, akibat recording yang dilakukan Zaratex NV untuk
melakukan survey migas seismik 2D dikebunnya. Pemilik kebun Tgk Razali
dipusingkan oleh perusahaan Zaratex NV dan pelindungnya karena tidak dibayar
semestinya. Tercatat sebanyak 86 batang pepaya miliknya tumbang.
Berselang beberapa hari
kemudian setelah peristiwa tersebut, pihak Zaratex NV bersama dinas pertanian, Kamis,
31 Mei 2012, tiba dikebun Tgk Razali untuk memastikan kebenaran tumbangnya
pohon pepaya tersebut. Dalam kunjungan itu, Tgk Razali menelan kekecewaannya
yang mendalam karena dalam kunjungan itu tidak melahirkan satu keputusan untuk
dibayar dengan alasan tumbangnya pohon pepaya disebabkan oleh faktor alam bukan
karena dampak dari ledakan saat pekerja Zaratex melakukan pengeboman di kebun
Tgk Razali.
Mendengar itu sudah
barang tentu membuat Tgk Razali berang, dia tidak menerima jika dikatakan
tumbangnya pepaya dikebun miliknya karena faktor alam, karena menurut
keterangan saksi dari pekerja Zaratex NV yang sedang berada di rangkang di
kebun milik Tgk Razali mengatakan bahwa itu akibat dampak ledakan dynamite survey
seismic Zaratex NV.
Berselang enam hari
kemudian, Rabu 6 Juni 2012 sekitar pukul 10:00 WIB camat kecamatan Nisam Sufyan
menggelar rapat untuk membicarakan penjelasan terhadap kegiatan seismik dalam
kecamatan Nisam bersama tim Muspika, pihak PT Quest, pihak Zaratex NV, ketua
KPA Nisam Rakjab bersama anggotanya Syamsuddin, serta beberapa mukim, geuchik
desa Alue Jeungkai dan beberapa masyarakat yang dirugikan perusahaan asing
tersebut diantaranya Tgk Razali, Nazarrudin, Asmaini, Ibrahim Ahmad, Hamdani
dan tokoh masyarakat adat Nisam Bustami.
Dalam diskusi yang
berlangsung selama 3 jam di ruang camat masyarakat diminta menyampaikan
uneg-unegnya. Tanpa berlama-lama Bustami dari pihak masyarakat adat Nisam yang
mendampingi masyarakat korban Zaratex NV menuturkan beberapa alasan mereka
menghambat pihak pekerja Zaratex NV dilapangan, “Mengapa masyarakat menghambat
pihak kerja dilapangan? Yang pertama tuntutan dari pemuda gampong yaitu uang PK
[Penjagaan Kabel] sudah tujuh malam tidak dibayar. Yang kedua masalah kerugian
masyarakat, yang ketiga rumah warga yang retak hingga saat ini tidak
ditanggapi, yang keempat jalan rusak akibat dilewati kendaraan zaratex, dan
yang kelima kedisiplinan para pekerja yang memetik tanaman dilahan warga
sembarangan,” jelas Bustami.
Menurut pihak Zaratex
NV Roni Setyawan, uang PK sudah diserahkan kepada CV Jasa dan permasalahan
tersebut sudah clear. Sementara masalah pepaya yang tumbang tidak dicapai
keputusan dengan enteng Roni mengatakan karena kepala dinas pertanian bakhtiar
tidak hadir. Nasib sial bin apes bagi masyarakat yang rumahnya retak akibat
goncangan ledakan dynamite dibawah tanah, karena masih menurut Roni Setyawan, rumah
retak akan dibayar jika berada dalam jangkauan peledakan 150m kenyataannya
rata-rata sebanyak 21 rumah warga dikecamatan nisam yang retak tersebut berada lebih
dari 150m jaraknya itu artinya rumah warga tidak dibayar sepeserpun.
Ke dua puluh satu unit
rumah yang retak tersebut berada di dua desa kecamatan Nisam, tiga diantaranya
berada di desa Meunasah Alue Nisam dengan jarak 1,5 KM dari lokasi peledakan
dynamite, sementara sisanya, 18 unit rumah yang retak berada di Gampong Paloh
Mampree Kecamatan Nisam, Aceh Utara, dengan jarak mulai 60 hingga 160 meter dari
lokasi recording alias dalam kemukiman penduduk.
Mengutip pembicaraan
Rony yang mengatakan jangkauan peledakan sejauh 150m sepertinya dia alpha untuk
menyebutkan bahwa getaran yang ditimbulkan bukan lagi hitungan meter namun
sudah memasuki jarak kilometer.
Dalam rapat tersebut
pihak Zaratex NV juga berjanji akan memberikan batu kerikil sebanyak dua truk
untuk kebutuhan rehab jalan, sedangkan rehab jalan pihak Zaratex NV mengatakan itu
urusan pemerintah. Meski hanya mengganti dua truk batu kerikil jalan yang rusak
akibat lalu lalang kendaraan perusahaan asing tersebut, namun hingga saat ini kerikil
tersebut tidak juga didatangkan.
Masalah kedisiplinan
pekerja akan dievaluasi oleh zaratex dan akan mengganti rugi. Jika terjadi lagi
tanpa sepengetahuan pemilik lahan maka jika ada bukti dilaporkan ke geuchik.
Padahal setiap hari setiap pagi pihak zaratex tak hentinya menasehati para
pekerjanya dilapangan agar tidak menjamah tanaman lahan milik orang lain.
Namun nasehat itu
sepertinya tidak berpengaruh lantaran gaji pokok yang diterima pekerja
dilapangan sebesar 1 juta, bagi recording satu ledakan 600 rupiah gaji
tambahan. Atau mungkin trauma dengan makanan basi yang diberikan perusahaan
Zaratex NV terhadap kuli outsorsig dilapangan beberapa waktu yang lalu maka
tanaman warga pun di embat.
Dalam rapat itu dari
sekian masalah yang dipaparkan tokoh masyarakat adat Nisam Bustami terdapat dua
masalah yang tidak dapat ditangani yaitu masalah ganti rugi tanaman masyarakat
dan rumah yang retak, maka Zaratex NV mengambil kesimpulan akan membuat kembali
pertemuan untuk yang kedua kalinya pada hari Senin 11 juni 2012 yang merupakan rapat
khusus membahas ganti rugi lahan kebun pepaya Tgk Razali.
Rapat yang kedua ini
turut dihadiri dari pihak dinas pertanian Aceh Utra. Bakhtiar, entah karena
bingung atau pengetahuan pertaniannya yang masih minim seakan mencari aman,
mengambil jalan tengah dengan tidak mempersoalkan apakah itu akibat faktor alam
ataupun akibat ledakan recording. Pihak dinas hanya mengajukan kepada pihak
zaratex untuk mengusulkan berapa yang mampu dibayar oleh pihak perusahaan tanpa
melibatkan SK Gubernur berisikan rincian anggaran untuk tanaman masyarakat yang
rusak.
Celotehan Bakhtiar
tersebut menjadi lampu hijau bagi pihak Zaratex NV. Perusahaan asing itu
menawarkan 4 juta rupiah seluruhnya tanpa menghitung perbatangnya yang tumbang
dimana seharusnya dibayar sebesar Rp 8.600.000,-. Kontan saja Tgk razali tidak
menerima pembayaran tersebut dan akan menerima jika pihak Zaratex NV sanggup
membayar 8 juta rupiah.
Dalam sekejap ruang
camat berubah menjadi pasar tradisional, tawar menawar pun terjadi bagaikan
sebuah transaksi dipasar buah dimana Tgk Razali menjadi pedagang buah dan
Zaratex NV konsumennya. Zaratex mengatakan tidak mungkin dibayar 8 juta karena baginya
ibarat sebuah pisang dibelah dua. Tawaran kemudian dinaikkan menjadi 5 juta
rupiah, Razali tetap pada prinsipnya harus dibayar 8 juta. “jika tidak dibayar
8 juta rupiah maka semuanya tidak usah dibayar jadi pihak perusahaan tidak rugi
dan negara pun tidak rugi tapi akan saya ajukan kepengadilan,” tantang Razali.
Situasi didalam ruang
camat berangsur tegang. Mata melotot seakan ingin keluar dari kelopak mata, urat
perlahan menampakkan dirinya dibalik kulit kepala menahan api amarah yang
bersarang dikepala Kasatreskrim Nisam Feri dan anggota koramil Nisam Antara Kamaruzzaman
memboyong Tgk Razali dari ruang camat ke ruang lainnya di kantor camat Nisam. Diruang
terpisah tersebut Razali dibentak dan dipaksa agar mau dibayar 5 juta rupiah
atas tanaman pepayanya yang tumbang.
Muak diperlakukan
seperti anak kecil yang ditarik kesana-kemari, dengan lantang namun tetap
berwibawa menjaga intensitas predikat Tgk yang disandang didepan namanya Razali
membalas bentakkan mereka dan mempertanyakan tugas mereka sebenarnya, “Tugas
dari kapolsek dan koramil apa ? melindungi masyarakat atau memihak perusahaan?
jika memihak perusahaan maka tidak perlu berbicara disini secara tertutup,”
tanya Tgk Razali kesal.
Merasa ditantang,
aparat berseragam coklat dan loreng ini membentak Razali dengan keras. Didalam
ruangan bernuansa introgasi tersebut kedua oknum aparat keamanan ini bagaikan
pahlawan kesiangan terus berupaya agar Razali menerima tawaran 4 juta rupiah
dan siap membantu untuk membayar. Dengan memukul meja didepan Razali, aparat
ini mengatakan, “Jika anda menerima 4 juta maka kami siap membantu untuk
membayar tapi jika tidak kami akan angkat tangan. Mau dibawak kasus ini kemana
silahkan,” ujar aparat keamanan sewaan Zaratex NV ngos-ngosan karena emosi.
Jam menunjukkan hampir
pukul 1 siang, pihak muspika melalui sekcam memanggil mereka bertiga kembali
keruang camat. Di ruang camat ini Tgk Razali melunak dari prinsipnya, “ok lah
kalau 7 juta saya terima,” pinta Razali seraya berharap dalam hati agar tawaran
terakhir ini dipenuhi dan Ia pun bisa segera pulang bekerja dikebunnya daripada
menghadapi serigala berbulu domba. Roni dari pihak Zaratex NV akan menampung permintaan
Tgk Razali dan berjanji akan memberi keputusannya dua hari setelah rapat ini.
Dua hari setelah rapat,
Rabu, 13 Juni 2012 Tahrimin humas turunan Zaratex [akibat banyaknya persoalan warga, Zaratex NV memiliki 1001 humas
disetiap Gampong] menghubungi geuchik melalui hp selular memberitahukan hasil
rapat senin kemarin gagal. Dan pihak perusahaan hanya bisa membayar ganti rugi
tanaman pepaya Tgk Razali sebanyak 16 batang yang berada di line rintisan
selebihnya mereka tidak mau membayar. Maka berdasarkan itu pihak Zaratex NV mau
membayar sebesar Rp 1.584.000,-.
Seperti mendengar
gelegar petir di tengah hari yang panas mendengar kabar buruk ini dari geuchik,
Razali terkulai lemas kedua tangannya memegangi kepala dan menjambak rambutnya
sendiri tak berdaya meratapi kebun pepayanya dari rangkang bambunya tidak tau
harus mengadu kemana. Lalu pada hari Jum’at, 22 juni 2012 Tgk Razali
berinisiatif menjumpai tokoh komunitas masyarakat adat pasee yang berada di Nisam,
Bustami untuk menceritakan perihal tersebut. Namun langkah kakinya diketahui
oleh antek-antek Zaratex NV.
Tidak lama kemudian
pihak Zaratex NV Karman Simanjuntak pada minggu, 24 juni 2012 menghubungi
razali melalui telepon selular dengan maksud mengundang Razali ke kantor
Zaratex NV di kampus Unimal Buket Indah, Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara
Satu, Lhokseumawe pada hari selasa, 26 juni 2012.
Hari yang
dinanti-nantikan Razali tiba, pagi harinya Selasa 26 Juni 2012 Ia menghadiri
undangan mereka dengan meninggalkan langkahnya untuk menggugat kepengadilan. Langkah
kakinya mantap seakan menjadi orang paling penting oleh Zaratex NV dan didalam
kepalanya telah dipenuhi rupiah yang akan dibawa pulang nantinya.
Sesampainya dikantor Zaratex
NV Razali disambut hormat oleh para undangan yang hadir pada saat rapat pertama
di kantor camat. Dalam rapat tersebut ternyata pihak Zaratex NV persis seperti
penjaja MLM, membujuk, mengobral senyuman, seraya tertawa garing memperlihatkan
kesan keakraban dan merayu Razali agar mau diganti kerugian sebanyak 16 batang pepaya
yang berada di line rintisan.
Ketika sedang asyik
melancarkan rayuan mautnya, sebuah kepalan tinju mendarat ke meja. Sontak para
muspika dan Zaratex NV kaget tidak menyangka Tgk Razali berani memukul meja
didepan mereka. Dengan tangan yang masih memerah Razali hendak keluar dari
ruangan tersebut untuk segera pulang lalu langkah kakinya dihentikan oleh pihak
Zaratex NV karena belum selesai.
Melihat Razali telah
dibaluti emosi, dengan lemah lembut pihak muspika mengeluarkan uang sebesar 5
juta rupiah dan menceramahi Razali jika dia menerima uang ini bukan perusahaan
yang rugi melainkan negara. Tanpa memikir panjang dan capek melayani taktik mereka
Razali menerima uang tersebut meski masih rugi. Menurutnya kerugian yang
dialaminya ditaksir sebesar 45,6 juta lebih parah dari kerugian yang dialami
negara. Jika negara tidak mau terus merugi maka perusahaan asing seperti
Zaratex NV dan PT Quest asal Belanda harus di usir karena telah menganggu
keharmonisan masyarakat adat setempat. | AT | HR |

0 komentar:
Posting Komentar