News Update :

Irwandi Gubernur Rasa Jakarta ? dr.Zaini -Muzakkir Gubernur Rasa Merdeka ?

Rabu, 11 Juli 2012

Senin, 25 Juni, di siang yang terik. Irwandi yang baru saja keluar dari Rapat Paripurna Istimewa pelantikan gubernur Aceh, disambut koor tak senang massa Partai Aceh. 

Peunyaket nyan. Surot Irwanto. Nyo Aceh, Koen Jawa,” kata seorang massa yang hadir siang itu.

Irwandi Yusuf, hanya diapit beberapa petugas kepolisian. Beberapa meter mendekati pintu pagar gedung rakyat, ketika hendak keluar, Irwandi dilempar kemasan minunan. Ada pula yang menyebutkan, ia dilempari batu.

Menyadari gelagat tak mengenakkan, Irwandi berjalan lebih cepat. Namun, entah siapa yang memulai, sebuah bogem mendarat di kepala mantan orang nomor satu di Aceh ini.

Amri, salah seorang simpatisan Partai Aceh yang datang dari Aceh Selatan bahkan menyebutkan, beberapa pukulan sempat melayang ke muka Irwandi, hingga mengeluarkan darah dari hidung.

“Meunyoe hana digapet le polisi, mesiprek syedara nyan (Kalau tidak dilindungi polisi, babak-belur dia –red.),” kata Amri.

Laman okezone.com melansir, yang memukul Irwandi, adalah satgas partai Aceh. “Saat sampai di depan pintu gerbang tiba-tiba muncul beberapa orang berpakaian Satgas Partai Aceh, dan mengarahkan pukulan berkali-kali ke wajah korban,” tulis okezone.com. sebagaimana di muat situs berita www.acehkita.com sehari setelah kejadian  tanggal 26 Juni 2012.

|||

Tentunya insiden disambut dengan berbagai macam ragam oleh rakyat Aceh, bagi yang memiliki keyakinan yang sama dengan pemukul, peneriak  Irwandi penyaket sebagaimana di alinea pertama,  mereka tertawa dan meluapkan kegembiraan yang luar biasa. Mereka bangga dengan insiden itu. 


Ini terbukti  pasca insiden penulis coba berbicara dengan sejumlah orang Pro Partai Aceh yang penulis hubungi, sebelum menjawab telpon, mereka langsung tertawa terbahak-bahak dan senang atas insiden itu.

Ada juga yang berkomentar itu adalah biasa. Dan ada juga yang terdiam dan mengatakan sudah jadi apa? Aceh ini ? Ada juga yang menyebutkan ini sangat memalukan menampakkan karakter tidak baik didepan sejumlah tamu asing dan sejumlah masyarakat nasional dan internasional?

Dan ada juga yang berkomentar martabat macam apa kita ini? Dan ada juga yang menggugat bangsa mulia macam apa kita ini?

Dan ada juga yang menyebutkan itu membenarkan dan menunjukkan berbagai insiden sebelum dan saat pilkada mengarah dan jelas siapa pelakunya?  

Namun penulis bukan hendak mempersoalkan itu, tapi yang menarik untuk dibahas dan dicermati berbagai klaim yang terjadi sebelum Pilkada Aceh 2012 lalu. Seperti klaim pengkhianat bagi mantan GAM  yang tidak mendukung Partai Aceh.

Terkait soal klaim ini, bila merujuk pada tujuan dan sumpah perjuangan GAM sebelum MoU 15 Agustus 2005 lalu adalah Merdeka. 

Dan setelah petinggi GAM Malik Mahmud A Haytar menandatangani MoU dengan Pemerintah Republik Indonesia secara otomatis GAM sudah kembali dan mengakui  NKRI dalam kerangka otonomi khusus.

Kalau dulu dimasa konflik GAM menganggap Indonesia sebagai  penjajah sementara  setelah Mou, Dedengkot GAM yang kini didalam Partai Aceh   menganggap Indonesia sebagai negaranya  dan tunduk kepada Indonesia. 

Nah, jika untuk mantan GAM yang tidak bergabung dengan Partai Aceh alias bergabung dengan kelompok lain diklaim sebagai pengkhianat ? Ada pertanyaan lagi ?  Mantan GAM itu  berkhianat kepada siapa?

Jika dianggap berkhianat kepada sumpah ? Dalam sumpah disebutkan Merdeka adalah tujuan akhir ?  Dalam hal ini justru yang perlu dipertanyakan siapa yang pertama melanggar sumpah itu ?....... 

Penarikan tuntutan merdeka terjadi saat kesepakatan
 MoU dengan RI disepakati GAM, yang kemudian  ditandatangani perdana mentro GAM Malik Mahmud ?  

Banyak kita dengar ucapan dari para simpatisan dan anggota Partai Aceh di Lapangan mantan GAM yang mendukung jalur  Independen   adalah pengkhianat. Para anggota Partai Aceh mendasari klaim itu atas dasar keyakinan bahwa Partai Aceh adalah kelanjutan dari  perjuangan  sesuai dengan Mou Helsinki ?

Jika anggota Partai Aceh mengatakan seperti itu? yang perlu kita pertanyakan? Bukankah  jalur Independen juga amanah yang tertulis langsung dalam MoU Helsinki. Begitu juga pembentukan partai local seperti dibentuknya Partai Aceh juga aplikasi dari MoU Helsinki melalui UUPA. 

Dan dua–dua yang tersebut diatas itu adalah dalam posisi sama dan berangkat jdari dasar dan kitab yang sama, dan statusnya adalah dua-duanya dibawah Indonesia atau bahasa yang paling mudah kita mengerti adalah dibawah bingkai NKRI.

Hujatan dan cacian pengkhianat yang dilontarkan oleh anggota Partai Aceh yang menganggap kerja mereka adalah MELANJUT-KAN PERJUANGAN, berarti yang dimaksud melanjutkan Perjuangan dalam perkara sekarang adalah menggantikan tujuan Merdeka sebagaimana tujuan GAM masa lalu. Dengan melanjutkan perjuangan untuk meraih kursi Gubernur? 

Atau  ada faham bahwa jenjang untuk menuju merdeka  adalah dengan memenangkan berbagai  posisi, DPR dan eksekutif. Maka  itu adalah bagian dari proses menuju kemerdekaan bangsa Aceh?

Begitukah maksudnya ?..………..

Kita  tidak tahu jawabannya. Karena untuk menemukan bahwa kata itu adalah benar maksudnya seperti pertanyaan diatas ? Terlalu sensitive untuk mendesak penjelasan sampai ke situ. Tapi yang terjadi ditingkatan desa, itulah adanya.

|||

Kedua adalah soal adanya klaim dari pendukung Partai Aceh bahwa selama Irwandi Gubernur  terlalu dekat dan selalu mendengarkan Jakarta?  Mengingat ucapan itu teringat berita Koran serambi di berbagai halaman usai penghelatan pilkada yang dimenangkan oleh Zaini–Muzakkir dari Partai Aceh. 

Bahwa Zaini-Muzakkir juga terlihat  ditulis dan difoto oleh koran itu,  kedua mereka juga sering tandang ke Jakarta dan  bersalam-salaman akrab dengan pejabat  di Jakarta ?

Melihat kenyataan tersebut sepertinya ada beberapa kemungkinan faham atau keyakinan  hingga terjadi demikian. Pertama terlihat dan terdengar seperti tidak adanya  sinkronisasi keyakinan, dan pekerjaan antara petinggi dan pengikut didesa-desa.

Atau yang memiliki faham seperti itu adalah bagian dari masyarakat awam yang   belum tersadarkan dengan proses yang sedang dilalui dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi ?

Atau masyarakat pendukung yang awam itu tidak memiliki server untuk menerawang lebih jauh, tapi hanya mampu  menerima pasokan faham,  yang kemudian dengan penuh semangat dan seyakin-yakinnya  mentahkan kembali ke public.

Sementara si pemasok Faham berharap agar tertanamnya faham bahwa kita yang benar, dan  sesuai dengan keyakinan anda-anda semua. Dari pentransferan faham tersebut diharapkan akan menimbulkan aksi untuk terus  membenci orang  di yang tidak sefaham. Sehingga terjadilah kutukan dan kebencian massal kepada Irwandi dalam pilkada lalu itu.

|||

Keberhasilan dari faham itu juga terlihat dari aksi, tendang dan tembak  sana sini, atau trom keuno keudeh atau peculok keuno dan peuculok keudeh, seakan menjadi modal dalam dan bumbu yang mengenakkan untuk merebut atau meraih simpati dalam Pilkada. Dan ini  terpraktekkan dengan baik saat pilkada kemarin. 

Peculok  dan Peusuna mengalir hingga kepelusok desa. Peuculok itu tersebar cepat, karena kita akui atau tidak, yang terima peuculok dan penerima peuculok adalah masyarakat yang belum mampu melihat apa yang sedang terjadi. Sehingga dia tidak menggunakan pola pikir untuk mengevaluasi, apakah yang diterima itu sudah benar atau tidak?

Bisa jadi juga karena terbatasnya informasi yang didapat,  maka jika duluan datang peculok A misalnya, ya penerima akan menerima isi peuculok A dan meyakini itu.

Karena mereka tidak menerima Informasi B sebagai pembanding. Maka Isi Peuculok itu pun di telan mentah-mentah.

Energi Peuculok dan Peusuna itulah berkumpul menjadi keyakinan baru dan itu mengalir deras  menjadi keyakinan  dan menjadikan energi bagi  kaum -kaum yang merasa benar, sehingga aplikasinya sejumlah Tim ses kandidat Independen kena pukulan, mobil dibakar, ada juga sampai penculikan dan penembakan. 

Dan terakhir terjadi pada tanggal 25 Juni 2012, dikala sang Irwandi Yusuf yang dianggap musuh oleh kaum yang merasa benar menghadiri undangan pelantikan dr. Zaini Abdullah yang dulu menteri luar negeri GAM bersama Panglima Tentera Ban Sigom Aceh Tengku Muzakkir Manaf sebagai gubernur dan wakil Gubernur Aceh, mereka menganggap dan dianggap sebagai kaum yang paling benar.

Usai menghadiri acara itu, Senin, 25 Juni, di siang yang terik. Irwandi  yang baru saja keluar dari Rapat Paripurna Istimewa pelantikan gubernur Aceh, disambut koor tak senang massa Partai Aceh. “Peunyaket nyan. Surot Irwanto. Nyo Aceh, koen Jawa,” kata seorang massa yang hadir siang itu.  

Irwandi dilempar kemasan minuman. Ada pula yang menyebutkan, ia dilempari batu.  Dan bogem mendarat di kepala mantan orang nomor satu di Aceh ini. Beberapa pukulan sempat melayang ke muka Irwandi, hingga mengeluarkan darah dari hidung.

Ternyata rasa paling benar sudah sangat melekat didalam diri pendukung Partai Aceh, klimaknya juga keluar dikala pesta yang dihadiri ratusan undangan dari daerah, pusat dan internasional itu.

Setelah dalam pilkada anggota pendukungnya kena bal-bal, kini giliran Irwandi..? Energi apa yang tertanam dalam jiwa dan raga massa Partai Aceh itu? Hingga dengan gagah melakukan tindakan pemukulan itu?

 |||

Sosiolog Otto Syamsuddin Ishak dalam sebuah kesempatan  Rabu, 27 Juni 2012 mengatakan hal itu menunjukkan bahwa para elite golongan itu sudah menanamkan sesuatu yang negatif tentang diri Irwandi.

Saya duga penanaman label negatif itu sudah lama sehingga begitu dalam dan berakar. Bentuk label tersebut sebagaimana yang diucapkan pada massa saat kampanye dan saat hendak memukul Irwandi.

Nampaknya, label itu dibiarkan saja melekat oleh elite mereka sehingga pasca kemenangan politik pun masih dilanjutkan. Sayangnya, elite mereka juga tidak mengontrol di mana pengucapan itu bisa dilakukan oleh loyalis mereka.

Nah, kalaulah dipertimbangkan bahwa acara pelantikan gubernur itu sebagai ajang kenduri/peusijuk politik mereka, yang dihadiri oleh sejumlah tamu, kan seharusnya tidak mereka lakukan peneriakan dan pemukulan terhadap Irwandi di situ karena hal itu mencoreng muka sendiri, atau menepuk air di pendulangan, menurunkan kualitas kesakralan kenduri mereka sendiri. 

Tapi itu sudah terjadi, dan hal itu merefleksikan kadar adat berpolitik mereka ya baru berkembang setingkat itu.  Hal ini menjadi tragis, kalaulah orang luar berkesimpulan: Ooo...segitu adab orang Aceh? !

|||

Penyebutan Irwanto oleh massa Partai Aceh yang menganggap bahwa Irwandi selama menjabat tunduk dan patuh kepada pemerintah Jakarta atau dalam sebutan lebih ektrim adalah Jawa.

Nah, dr.Zaini –Muzakkir juga kini sedang menjabat sebagai Gubernur Aceh,yang juga kita  semua tahu, bahwa Doto dan Muallim bukanlah  sebagai Presiden Aceh dalam status Aceh yang Merdeka.

Melainkan hanyalah seorang gubernur  Aceh dalam bingkai NKRI, yang sama juga dengan Irwandi sebelumnya.

Jika kondisinya sama? Apakah nantinya pelebelan sebagaimana yang diterima Irwandi dengan sebutan Irwanto. Bakal diarahkan juga kepada dr. Zaini –Muzakkir dan menggantikan ujung nama mereka dengan HURUF O..?  

Karena Zaini-Muzakkir  juga sekarang sudah jelas tunduk dibawah NKRI dan juga  akan  memberi hormat (tabik) kepada bendera Merah Putih dan  sering bertandang ke Jakarta ? 

Atau nantinya kaum elite-elite  untuk menghindar dari cacian dan hujatan akan menciptakan atau mencari objek untuk dijadikan umpan cacian baru untuk dimakan oleh para pendukung nya. Sehingga elite –elit tetap suci dan terselamatkan untuk selamanya. [***]

Penulis adalah warga Aceh Utara *


Note : Arti bahasa
-          Peuculok adalah Adu domba
-          Peusuna adalah memfitnah 
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016