Senin, 25 Juni, di siang yang
terik. Irwandi yang baru saja keluar dari Rapat Paripurna Istimewa pelantikan
gubernur Aceh, disambut koor tak senang massa Partai Aceh.
“Peunyaket nyan. Surot Irwanto. Nyo Aceh, Koen
Jawa,” kata seorang massa yang hadir siang itu.
Irwandi Yusuf, hanya diapit
beberapa petugas kepolisian. Beberapa meter mendekati pintu pagar gedung
rakyat, ketika hendak keluar, Irwandi dilempar kemasan minunan. Ada pula yang
menyebutkan, ia dilempari batu.
Menyadari gelagat tak
mengenakkan, Irwandi berjalan lebih cepat. Namun, entah siapa yang memulai,
sebuah bogem mendarat di kepala mantan orang nomor satu di Aceh ini.
Amri, salah seorang simpatisan Partai Aceh yang datang dari Aceh Selatan bahkan menyebutkan, beberapa pukulan sempat melayang ke muka Irwandi, hingga mengeluarkan darah dari hidung.
Amri, salah seorang simpatisan Partai Aceh yang datang dari Aceh Selatan bahkan menyebutkan, beberapa pukulan sempat melayang ke muka Irwandi, hingga mengeluarkan darah dari hidung.
“Meunyoe hana digapet le
polisi, mesiprek syedara nyan (Kalau tidak dilindungi polisi, babak-belur
dia –red.),” kata Amri.
Laman okezone.com melansir,
yang memukul Irwandi, adalah satgas partai Aceh. “Saat sampai di depan pintu
gerbang tiba-tiba muncul beberapa orang berpakaian Satgas Partai Aceh, dan
mengarahkan pukulan berkali-kali ke wajah korban,” tulis okezone.com.
sebagaimana di muat situs berita www.acehkita.com sehari setelah kejadian tanggal 26 Juni 2012.
|||
Tentunya
insiden disambut dengan berbagai macam ragam oleh rakyat Aceh, bagi yang
memiliki keyakinan yang sama dengan pemukul, peneriak Irwandi penyaket
sebagaimana di alinea pertama, mereka tertawa dan meluapkan kegembiraan
yang luar biasa. Mereka bangga dengan insiden itu.
Ini terbukti pasca insiden penulis coba berbicara dengan sejumlah orang Pro Partai Aceh yang penulis hubungi, sebelum menjawab telpon, mereka langsung tertawa terbahak-bahak dan senang atas insiden itu.
Ini terbukti pasca insiden penulis coba berbicara dengan sejumlah orang Pro Partai Aceh yang penulis hubungi, sebelum menjawab telpon, mereka langsung tertawa terbahak-bahak dan senang atas insiden itu.
Ada juga yang
berkomentar itu adalah biasa. Dan ada juga yang terdiam dan mengatakan sudah
jadi apa? Aceh ini ? Ada juga yang menyebutkan ini sangat memalukan menampakkan
karakter tidak baik didepan sejumlah tamu asing dan sejumlah masyarakat
nasional dan internasional?
Dan ada juga
yang berkomentar martabat macam apa kita ini? Dan ada juga yang menggugat
bangsa mulia macam apa kita ini?
Dan ada juga
yang menyebutkan itu membenarkan dan menunjukkan berbagai insiden sebelum dan
saat pilkada mengarah dan jelas siapa pelakunya?
Namun penulis
bukan hendak mempersoalkan itu, tapi yang menarik untuk dibahas dan dicermati
berbagai klaim yang terjadi sebelum Pilkada Aceh 2012 lalu. Seperti klaim
pengkhianat bagi mantan GAM yang tidak mendukung Partai Aceh.
Terkait soal
klaim ini, bila merujuk pada tujuan dan sumpah perjuangan GAM sebelum MoU 15
Agustus 2005 lalu adalah Merdeka.
Dan setelah petinggi GAM Malik Mahmud A Haytar menandatangani MoU dengan Pemerintah Republik Indonesia secara otomatis GAM sudah kembali dan mengakui NKRI dalam kerangka otonomi khusus.
Dan setelah petinggi GAM Malik Mahmud A Haytar menandatangani MoU dengan Pemerintah Republik Indonesia secara otomatis GAM sudah kembali dan mengakui NKRI dalam kerangka otonomi khusus.
Kalau dulu
dimasa konflik GAM menganggap Indonesia sebagai penjajah sementara
setelah Mou, Dedengkot GAM yang kini didalam Partai Aceh menganggap
Indonesia sebagai negaranya dan tunduk kepada Indonesia.
Nah, jika untuk
mantan GAM yang tidak bergabung dengan Partai Aceh alias bergabung dengan
kelompok lain diklaim sebagai pengkhianat ? Ada pertanyaan lagi ? Mantan
GAM itu berkhianat kepada siapa?
Jika dianggap
berkhianat kepada sumpah ? Dalam sumpah disebutkan Merdeka adalah tujuan akhir ?
Dalam hal ini justru yang perlu dipertanyakan siapa yang pertama melanggar
sumpah itu ?.......
Penarikan tuntutan merdeka terjadi saat kesepakatan MoU dengan RI disepakati GAM, yang kemudian ditandatangani perdana mentro GAM Malik Mahmud ?
Penarikan tuntutan merdeka terjadi saat kesepakatan MoU dengan RI disepakati GAM, yang kemudian ditandatangani perdana mentro GAM Malik Mahmud ?
Banyak kita
dengar ucapan dari para simpatisan dan anggota Partai Aceh di Lapangan mantan GAM
yang mendukung jalur Independen adalah pengkhianat. Para anggota
Partai Aceh mendasari klaim itu atas dasar keyakinan bahwa Partai Aceh adalah
kelanjutan dari perjuangan sesuai dengan Mou Helsinki ?
Jika anggota
Partai Aceh mengatakan seperti itu? yang perlu kita pertanyakan? Bukankah jalur Independen juga amanah yang tertulis
langsung dalam MoU Helsinki. Begitu juga pembentukan partai local seperti
dibentuknya Partai Aceh juga aplikasi dari MoU Helsinki melalui UUPA.
Dan dua–dua yang tersebut diatas itu adalah dalam posisi sama dan berangkat jdari dasar dan kitab yang sama, dan statusnya adalah dua-duanya dibawah Indonesia atau bahasa yang paling mudah kita mengerti adalah dibawah bingkai NKRI.
Dan dua–dua yang tersebut diatas itu adalah dalam posisi sama dan berangkat jdari dasar dan kitab yang sama, dan statusnya adalah dua-duanya dibawah Indonesia atau bahasa yang paling mudah kita mengerti adalah dibawah bingkai NKRI.
Hujatan dan
cacian pengkhianat yang dilontarkan oleh anggota Partai Aceh yang menganggap
kerja mereka adalah MELANJUT-KAN PERJUANGAN, berarti yang
dimaksud melanjutkan Perjuangan dalam perkara sekarang adalah menggantikan tujuan
Merdeka sebagaimana tujuan GAM masa lalu. Dengan melanjutkan
perjuangan untuk meraih kursi Gubernur?
Atau
ada faham bahwa jenjang untuk menuju merdeka adalah dengan memenangkan
berbagai posisi, DPR dan eksekutif. Maka itu adalah bagian dari
proses menuju kemerdekaan bangsa Aceh?
Begitukah
maksudnya ?..………..
Kita
tidak tahu jawabannya. Karena untuk menemukan bahwa kata itu adalah benar
maksudnya seperti pertanyaan diatas ? Terlalu sensitive untuk mendesak
penjelasan sampai ke situ. Tapi yang terjadi ditingkatan desa,
itulah adanya.
|||
Kedua adalah
soal adanya klaim dari pendukung Partai Aceh bahwa selama Irwandi
Gubernur terlalu dekat dan selalu mendengarkan Jakarta?
Mengingat ucapan itu teringat berita Koran serambi di berbagai halaman usai penghelatan
pilkada yang dimenangkan oleh Zaini–Muzakkir dari Partai Aceh.
Bahwa Zaini-Muzakkir juga terlihat ditulis dan difoto oleh koran itu, kedua mereka juga sering tandang ke Jakarta dan bersalam-salaman akrab dengan pejabat di Jakarta ?
Bahwa Zaini-Muzakkir juga terlihat ditulis dan difoto oleh koran itu, kedua mereka juga sering tandang ke Jakarta dan bersalam-salaman akrab dengan pejabat di Jakarta ?
Melihat
kenyataan tersebut sepertinya ada beberapa kemungkinan faham atau
keyakinan hingga terjadi demikian. Pertama terlihat dan terdengar seperti
tidak adanya sinkronisasi keyakinan, dan pekerjaan antara petinggi dan
pengikut didesa-desa.
Atau yang
memiliki faham seperti itu adalah bagian dari masyarakat awam yang belum
tersadarkan dengan proses yang sedang dilalui dan tidak mengetahui apa yang
sedang terjadi ?
Atau masyarakat
pendukung yang awam itu tidak memiliki server untuk menerawang lebih jauh, tapi
hanya mampu menerima pasokan faham, yang kemudian dengan penuh semangat dan
seyakin-yakinnya mentahkan kembali ke
public.
Sementara si
pemasok Faham berharap agar tertanamnya faham bahwa kita yang benar, dan sesuai dengan keyakinan anda-anda semua. Dari pentransferan
faham tersebut diharapkan akan menimbulkan aksi untuk terus membenci orang di yang tidak sefaham. Sehingga
terjadilah kutukan dan kebencian massal kepada Irwandi dalam pilkada lalu itu.
|||
Keberhasilan
dari faham itu juga terlihat dari aksi, tendang dan tembak sana sini,
atau trom keuno keudeh atau peculok keuno dan peuculok keudeh, seakan menjadi
modal dalam dan bumbu yang mengenakkan untuk merebut atau meraih simpati dalam
Pilkada. Dan ini terpraktekkan dengan baik saat pilkada kemarin.
Peculok
dan Peusuna mengalir hingga kepelusok desa. Peuculok itu tersebar cepat, karena
kita akui atau tidak, yang terima peuculok dan penerima peuculok adalah
masyarakat yang belum mampu melihat apa yang sedang terjadi. Sehingga dia tidak
menggunakan pola pikir untuk mengevaluasi, apakah yang diterima itu sudah benar
atau tidak?
Bisa jadi juga
karena terbatasnya informasi yang didapat, maka jika duluan datang peculok A misalnya, ya
penerima akan menerima isi peuculok A dan meyakini itu.
Karena mereka
tidak menerima Informasi B sebagai pembanding. Maka Isi Peuculok itu pun di
telan mentah-mentah.
Energi Peuculok
dan Peusuna itulah berkumpul menjadi keyakinan baru dan itu mengalir deras menjadi keyakinan dan menjadikan energi
bagi kaum -kaum yang merasa benar,
sehingga aplikasinya sejumlah Tim ses kandidat Independen kena pukulan, mobil
dibakar, ada juga sampai penculikan dan penembakan.
Dan terakhir terjadi
pada tanggal 25 Juni 2012, dikala sang Irwandi Yusuf yang dianggap musuh oleh
kaum yang merasa benar menghadiri undangan pelantikan dr. Zaini Abdullah yang
dulu menteri luar negeri GAM bersama Panglima Tentera Ban Sigom Aceh Tengku
Muzakkir Manaf sebagai gubernur dan wakil Gubernur Aceh, mereka menganggap dan
dianggap sebagai kaum yang paling benar.
Usai menghadiri acara itu, Senin, 25
Juni, di siang yang terik. Irwandi yang baru saja keluar dari Rapat
Paripurna Istimewa pelantikan gubernur Aceh, disambut koor tak senang massa
Partai Aceh. “Peunyaket nyan. Surot Irwanto. Nyo Aceh, koen Jawa,” kata
seorang massa yang hadir siang itu.
Irwandi
dilempar kemasan minuman. Ada pula yang menyebutkan, ia dilempari batu. Dan
bogem mendarat di kepala mantan orang nomor satu di Aceh ini. Beberapa pukulan
sempat melayang ke muka Irwandi, hingga mengeluarkan darah dari hidung.
Ternyata rasa
paling benar sudah sangat melekat didalam diri pendukung Partai Aceh, klimaknya
juga keluar dikala pesta yang dihadiri ratusan undangan dari daerah, pusat dan
internasional itu.
Setelah dalam
pilkada anggota pendukungnya kena bal-bal, kini giliran Irwandi..? Energi apa yang
tertanam dalam jiwa dan raga massa Partai Aceh itu? Hingga dengan gagah melakukan tindakan pemukulan itu?
|||
Sosiolog
Otto Syamsuddin Ishak dalam sebuah kesempatan Rabu, 27 Juni
2012 mengatakan hal itu menunjukkan bahwa
para elite golongan itu sudah menanamkan sesuatu yang negatif tentang diri
Irwandi.
Saya duga
penanaman label negatif itu sudah lama sehingga begitu dalam dan berakar.
Bentuk label tersebut sebagaimana yang diucapkan pada massa saat kampanye dan
saat hendak memukul Irwandi.
Nampaknya,
label itu dibiarkan saja melekat oleh elite mereka sehingga pasca kemenangan
politik pun masih dilanjutkan. Sayangnya, elite mereka juga tidak mengontrol di
mana pengucapan itu bisa dilakukan oleh loyalis mereka.
Nah,
kalaulah dipertimbangkan bahwa acara pelantikan gubernur itu sebagai ajang
kenduri/peusijuk politik mereka, yang dihadiri oleh sejumlah tamu, kan
seharusnya tidak mereka lakukan peneriakan dan pemukulan terhadap Irwandi di
situ karena hal itu mencoreng muka sendiri, atau menepuk air di pendulangan,
menurunkan kualitas kesakralan kenduri mereka sendiri.
Tapi itu
sudah terjadi, dan hal itu merefleksikan kadar adat berpolitik mereka ya baru
berkembang setingkat itu. Hal ini menjadi tragis, kalaulah orang luar
berkesimpulan: Ooo...segitu adab orang Aceh? !
|||
Penyebutan
Irwanto oleh massa Partai Aceh yang menganggap bahwa Irwandi selama menjabat
tunduk dan patuh kepada pemerintah Jakarta atau dalam sebutan lebih ektrim adalah
Jawa.
Nah, dr.Zaini
–Muzakkir juga kini sedang menjabat sebagai Gubernur Aceh,yang juga kita
semua tahu, bahwa Doto dan Muallim bukanlah sebagai Presiden Aceh dalam
status Aceh yang Merdeka.
Melainkan
hanyalah seorang gubernur Aceh dalam bingkai NKRI, yang sama juga dengan
Irwandi sebelumnya.
Jika
kondisinya sama? Apakah nantinya pelebelan sebagaimana yang diterima Irwandi dengan
sebutan Irwanto. Bakal diarahkan juga kepada dr. Zaini –Muzakkir dan menggantikan
ujung nama mereka dengan HURUF O..?
Karena Zaini-Muzakkir juga sekarang sudah jelas tunduk dibawah NKRI dan juga akan memberi hormat (tabik) kepada bendera Merah Putih dan sering bertandang ke Jakarta ?
Karena Zaini-Muzakkir juga sekarang sudah jelas tunduk dibawah NKRI dan juga akan memberi hormat (tabik) kepada bendera Merah Putih dan sering bertandang ke Jakarta ?
Atau nantinya
kaum elite-elite untuk menghindar dari cacian dan hujatan akan menciptakan atau mencari objek untuk dijadikan umpan cacian
baru untuk dimakan oleh para pendukung nya. Sehingga elite –elit tetap suci dan
terselamatkan untuk selamanya. [***]
Penulis adalah warga Aceh
Utara *
Note : Arti bahasa
- Peuculok adalah Adu domba
- Peusuna adalah memfitnah

0 komentar:
Posting Komentar