Jakarta | Acehtraffic.com- Keterpilihan Partai Demokrat (PD) jika pemilu legislatif digelar saat ini berada di rangking ketiga setelah Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memotret publik melalui survei awal Juni lalu. Apa penyebabnya? Senin, 18 Juni 2012
Riset yang dilakukan LSI pimpinan Denny JA pada 2-11 Juni 2012 ini mengungkapkan respons publik terhadap Partai Demokrat hanya memperoleh dukungan di angka 11,3 persen jika pemilu legislatif dilakukan pada saat riset digelar. Angka tersebut jauh di bawah Partai Golkar yang memperoleh dukungan 20, 5 persen dan PDI Perjuangan 14,0 persen.
Menurut Peneliti LSI Adjie Alfaraby terdapat tiga faktor menjadi penyebab keterpilihan Partai Demokrat terjun bebas. Kasus Hambalang disinyalir sebagai penyebab rontoknya dukungan publik terhadap Partai Demokrat.
Riset yang dilakukan LSI pimpinan Denny JA pada 2-11 Juni 2012 ini mengungkapkan respons publik terhadap Partai Demokrat hanya memperoleh dukungan di angka 11,3 persen jika pemilu legislatif dilakukan pada saat riset digelar. Angka tersebut jauh di bawah Partai Golkar yang memperoleh dukungan 20, 5 persen dan PDI Perjuangan 14,0 persen.
Menurut Peneliti LSI Adjie Alfaraby terdapat tiga faktor menjadi penyebab keterpilihan Partai Demokrat terjun bebas. Kasus Hambalang disinyalir sebagai penyebab rontoknya dukungan publik terhadap Partai Demokrat.
"Jika terus terkatung dan isu Hambalang terus bergulir sampai Pemilu 2014, kemerosotan Demokrat terus terjadi," ujar peneliti LSI Adjie Alfaraby di kantor LSI, Jakarta, Minggu 17 Juni 2012.
Penyebab kedua, kata Adjie, kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintahan pimpinan Presiden SBY yang notabene Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Beberapa isu publik yang dinilai jeblok di antaranya agenda pemberantasan korupsi serta pembiaran Presiden SBY atas tindak kekerasan atas nama agama. "Kekecewaan terhadap SBY, berimbas pada kekecewaan atas PD. Naik turunnya dukungan SBY otomatis mempengaruhi naik dan turunnya elektabilitas PD."
Penyebab lainnya, dalam analisa LSI, disebabkan program kerja Partai Demokrat tidak muncul ke publik. Alih-alih program kerja partai yang ditawarkan ke publik, namun konflik internal yang muncul ke permukaan. Berbeda dengan partai lain yang getol melempar program kerja ke publik, termasuk mengusung jagoannya dalam Pemilu Presiden 2014 mendatang.
Meski demikian, Adjie menyebutkan, masih ada peluang bagi Partai Demokrat untuk bangkit kembali dalam Pemilu 2014 mendatang. Kunci kebangkitan Partai Demokrat, dalam pandangan Adjie kembali pada kepemimpinan SBY sebagai Ketua Dewan Pembina.
Penyebab kedua, kata Adjie, kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintahan pimpinan Presiden SBY yang notabene Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Beberapa isu publik yang dinilai jeblok di antaranya agenda pemberantasan korupsi serta pembiaran Presiden SBY atas tindak kekerasan atas nama agama. "Kekecewaan terhadap SBY, berimbas pada kekecewaan atas PD. Naik turunnya dukungan SBY otomatis mempengaruhi naik dan turunnya elektabilitas PD."
Penyebab lainnya, dalam analisa LSI, disebabkan program kerja Partai Demokrat tidak muncul ke publik. Alih-alih program kerja partai yang ditawarkan ke publik, namun konflik internal yang muncul ke permukaan. Berbeda dengan partai lain yang getol melempar program kerja ke publik, termasuk mengusung jagoannya dalam Pemilu Presiden 2014 mendatang.
Meski demikian, Adjie menyebutkan, masih ada peluang bagi Partai Demokrat untuk bangkit kembali dalam Pemilu 2014 mendatang. Kunci kebangkitan Partai Demokrat, dalam pandangan Adjie kembali pada kepemimpinan SBY sebagai Ketua Dewan Pembina.
"Namun jika SBY bertindak tegas, selayaknya seorang yang memegang komando, lalu melakukan pembersihan partai, 2014 masih terbuka bagi PD," tambah Adjie.
Persoalan yang muncul di internal Partai Demokrat bermula dari bekas Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin dalam kasus Wisma Atlet. Dari kasus ini terungkap sejumlah kader Partai Demokrat terlibat dalam perkara ini.
Seperti bekas Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Angelina Sondakh yang kini mendekam di Rutan KPK sebagai tersangka dalam kasus wisma atlet dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Bahkan, Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat Andi Mallarangeng yang juga Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) berkali-kali diperiksa sebagai saksi baik dalam kasus Wisma Atlet maupun kasus proyek Hambalang.
Bukan tanpa ikhtiar SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat untuk memulihkan citra partainya. Seperti pekan lalu menggelar dua pertemuan dengan Ketua DPD I Partai Demokrat se-Indonesia di Ciekas dan dalam silaturahmi Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator (FKPD) Partai Demokrat.
Sayang, pertemuan tersebut tak memiliki bobot politik untuk perbaikan bagi Partai Demokrat. Selain tak diakui dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) partai, acara tersebut justru bertendensi mendelegitimasi kepemimpinan Anas Urbaningrum serta struktur partai.
Meski demikian, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum menilai dua pertemuan yang digelar oleh SBY termasuk pernyataan SBY dalam forum silaturahmi dinilai positif. Menurut dia, imbauan SBY harus menjadi pedoman seluruh kader Partai Demokrat.| AT | INC
Persoalan yang muncul di internal Partai Demokrat bermula dari bekas Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin dalam kasus Wisma Atlet. Dari kasus ini terungkap sejumlah kader Partai Demokrat terlibat dalam perkara ini.
Seperti bekas Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Angelina Sondakh yang kini mendekam di Rutan KPK sebagai tersangka dalam kasus wisma atlet dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Bahkan, Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat Andi Mallarangeng yang juga Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) berkali-kali diperiksa sebagai saksi baik dalam kasus Wisma Atlet maupun kasus proyek Hambalang.
Bukan tanpa ikhtiar SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat untuk memulihkan citra partainya. Seperti pekan lalu menggelar dua pertemuan dengan Ketua DPD I Partai Demokrat se-Indonesia di Ciekas dan dalam silaturahmi Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator (FKPD) Partai Demokrat.
Sayang, pertemuan tersebut tak memiliki bobot politik untuk perbaikan bagi Partai Demokrat. Selain tak diakui dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) partai, acara tersebut justru bertendensi mendelegitimasi kepemimpinan Anas Urbaningrum serta struktur partai.
Meski demikian, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum menilai dua pertemuan yang digelar oleh SBY termasuk pernyataan SBY dalam forum silaturahmi dinilai positif. Menurut dia, imbauan SBY harus menjadi pedoman seluruh kader Partai Demokrat.| AT | INC


0 komentar:
Posting Komentar