News Update :

Tangkap Pelaku Penembakan, Perbatasan Papua Di Jaga Ketat

Kamis, 21 Juni 2012

Jaya Pura | Acehtraffic.com – Kepolisian Daerah Papua memburu lima tersangka kasus penembakan di Jayapura pada 29 Mei 2012. Polisi meyakini para tersangka masih berada di Papua.

 "Aparat sudah mempersempit ruang gerak pelaku. Polisi ditempatkan di beberapa titik tersembunyi," kata kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Ajun Komisaris Besar Yohanes Nugroho Wicaksono kemarin.

Menurut Yohanes, kelima tersangka diburu berdasarkan keterangan saksi dan barang bukti yang dikumpulkan selama ini. "Mereka sekarang masuk dalam daftar pencarian orang. Saya tidak bisa sampaikan inisial dan namanya. Itu masih rahasia," katanya.

Serangkaian penembakan di Papua mulai terjadi pada 29 Mei hingga 10 Juni 2012. Korban penembakan sebanyak enam orang, dimulai dari warga negara Jerman, Dietman Pieper; Iqbal Ribal; Hardi Javanto, anggota TNI Pratu Frangki Kune; Arwan Apuan (PNS); dan Tri Sarono, petugas keamanan di Saga Mal Papua.

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Ajun Komisaris Besar Yohanes Nugroho Wicaksono menambahkan penjagaan batas RI-Papua Nugini mulai ditingkatkan untuk mengantisipasi kaburnya pelaku penembakan Papua ke luar negeri. "Sebenarnya bukan diperketat, kami hanya menibgkatkan penjagaan. Para pelintas batas itu mulai kami periksa intensif," kata Yohanes Nugroho kemarin.

Menurut dia, meskipun jalur resmi diperketat, masih banyak jalan tikus yang dapat dilalui pelintas batas dari kedua negara. "Ya itu, jalan tikusnya ada banyak. Kita tidak mungkin menjaga semua jalan-jalan di hutan, tapi tetap kewaspadaan kami tingkatkan," ujarnya.

Sementara itu, Muridan Satrio Widjojo, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan rentetan insiden penembakan di Jayapura yang terjadi sejak 29 Mei 2012 tak berkaitan dengan rencana pemilihan Gubernur Papua. "Untuk politik, itu jauh," katanya.

Menurut dia, peristiwa penembakan dilakukan oleh kelompok tertentu yang menginginkan Jayapura tidak aman. "Itu hanya bikin orang ketakutan. Setelah itu, bisa saja ada gerakan lebih besar, atau ini permulaan dari sebuah rencana yang belum diketahui," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md optimistis pelaku dan motif penembakan di Jayapura bisa diungkap dengan cepat. Sebab, dari pola yang digunakan, menembak dengan cara sembunyi-sembunyi, diketahui jumlah pelaku sedikit dan tidak memiliki kekuatan besar.

"Gerakan pengganggu keamanan itu sebenarnya tidak masif karena dilakukan secara sembunyi-sembunyi, jadi seharusnya tidak terlalu berat untuk diselesaikan. Berbeda, misalnya dengan kerusuhan, itu kan masif karena dilakukan orang banyak," kata Mahfud di Manokwari. | Sumber Koran TEMPO
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016