Aceh Utara | Acehtraffic.com – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh Utara meminta Pemerintah Aceh mengevaluasi izin operasional Zaratex NV selaku perusahaan migas asing yang sedang melakukan seismic survey dan pengeboran lepas pantai. Pasalnya, kegiatan dilakukan mengabaikan hak-hak masyarakat sekitar.
“Selama ini sudah banyak warga mengeluhkan atas kegiatan perusahaan migas Zaratex NV dan mengadu ke Kadin Aceh Utara, baik menyangkut ganti rugi tanaman dan bangunan maupun kerusakan lingkungan terutama di laut," Ujat T.Moni Alwi Jumat 15 Juni 2012.
Moni mengatakan sudah berulang kali mengirim surat ke pihak manajemen Zaratex NV untuk menyampaikan keluhan masyarakat itu, tapi tak pernah digubris. "Karena itu kami minta Pemerintah Aceh mengevaluasi izin operasional Zaratex NV," Tambahnya lagi
Survey Seismic di Blok Sawang-Matang Lada Kabupaten Aceh Utara Propinsi Aceh yang dilakukan Zaratex NV yang sejatinya satu pemilik dengan perusahaan migas Tately NV itu, Meliputi kegiatan Topo, Rintis, Pengeboran, Perekaman atau Peledakan Dynamit yang membawa dampak kerusakan tanaman dan bangunan rumah warga.
“Masyarakat di sejumlah kecamatan mengeluh, soalnya dampak dari pekerjaan mereka merugikan masyarakat. Tapi tampaknya pihak manajemen tidak peduli,”Jelas T Moni Alwi lagi.
“Masyarakat di sejumlah kecamatan mengeluh, soalnya dampak dari pekerjaan mereka merugikan masyarakat. Tapi tampaknya pihak manajemen tidak peduli,”Jelas T Moni Alwi lagi.
Sedangkan aktivitas pengeboran di lepas pantai, tambah Moni Alwi, seperti di Kareung Panggoi Lhokseumawe dan di Kecamatan Lapang Aceh Utara atau sekitar 3,5 mil dari pantai mengakibatkan rusaknya terumbu karang.
“Dampaknya ikan-ikan menjauh dari terumbu karang yang telah rusak itu, secara tidak langsung merugikan nelayan tradisional,” Ucapnya serius.
“Dampaknya ikan-ikan menjauh dari terumbu karang yang telah rusak itu, secara tidak langsung merugikan nelayan tradisional,” Ucapnya serius.
Berdasarkan data Acehtraffic.com pengeboran lepas pantai juga dilakukan Zaratex NV yang bekerja sama dengan Niko Resources Limited di Blok Lhokseumawe memiliki kapling
seluas 5.908 km2.
Blok tersebut berdekatan dengan lokasi fasilitas produksi Arun dan LNG plant-nya.
Blok tersebut berdekatan dengan lokasi fasilitas produksi Arun dan LNG plant-nya.
Sebelumnya, kegiatan survei 3D seluas 3.865 km2 telah dilakukan pada blok itu dan sejumlah prospek besar telah diidentifikasi.
Untuk pengoboran tahap ini perusahaan migas itu akan melakukan pengeboran akan dimulai di bagian air dangkal.
Dan pada April ini,
pengeboran akan dilakukan di dua sumur yang dinamakan sumur Candralila-1 dan
Ratnadewi-1.
Survey Seismic Zaratex NV Di Nisam Aceh Utara Sebabkan Kebakaran
Berdasarkan hasil investigasi reporter The Acehtraffic.com berbagai pertistiwa yang merugikan masyarakat terhjadi dalam rangkaian aktivitas surve seismic Zaratex NV, seperti peristiwa kebakaran yang melanda lahan kebun sawit milik Tgk Hasbalah (57) di Gampong Meunasah Alue, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, Senin 11 Juni 2012. Akibat kebakaran itu pohon sawit berumur 4,5 tahun di lahan seluas sekitar satu hektare nyaris musnah dilalap api. Kebakaran itu ditengarai akibat kelalaian para pekerja survey migas PT Queest Geophisycal Asia selaku subkontraktor Zaratex NV yang sedang beristirahat di kebun tersebut.
Hasbalah menduga kebakaran bersumber dari punting rokok yang dibuang pekerja yang sedang melakukan survey.
Dari lokasi kejadian, menemukan barang bukti seperti jerigen, bungkus nasi, puntung rokok dan sarung pisau.
Dari lokasi kejadian, menemukan barang bukti seperti jerigen, bungkus nasi, puntung rokok dan sarung pisau.
Buntut kebakaran, pemilik kebun dan warga menahan seorang pekerja survey migas PT Qoest Geophisycal Asia yang mengaku krunya makan siang dan sempat istirahat di lokasi kebakaran.
Koordinator Aceh Liberation Front, Bustami, melalui siaran persnya, Jumat 15 Juni 2012 menyatakan, karena kesal kebunnya terbakar, warga juga sempat menahan seorang Humas lapangan Mukim Puteh beserta sepeda motornya dan mandor subkontraktor Zaratex NV, Razali Hasan (45), sebagai saksi kejadian kebakaran tersebut.
Menurutnya, pekerja migas yang ditahan warga dibawa ke rumah keuchik setempat untuk dimintai keterangan, dan mereka mengakui kebakaran akibat kelalaian timnya.
“Namun hingga kini pihak perusahaan belum turun ke lokasi kebakaran dan belum ada yang bertanggung jawab dalam kasus tersebut,” ujarnya.
Hasbalah meminta agar perusahaan bertanggung jawab atas kerugian yang dialaminya.
“Namun hingga kini pihak perusahaan belum turun ke lokasi kebakaran dan belum ada yang bertanggung jawab dalam kasus tersebut,” ujarnya.
Hasbalah meminta agar perusahaan bertanggung jawab atas kerugian yang dialaminya.
Sementara Razali pemilik kebun pepaya madu yang tumbang 86 batang setelah mengikuti musyawarah dengan pihak Muspika Nisam dan penaksiran Dinas Pertanian Aceh Utara, pihak perusahaan menyimpulkan akan membayar sebanyak 16 batang yang masuk dalam line lintasan.
"Ganti rugi tanaman saya tidak sesuai, saya rugi 45,6 juta lebih hanya dibayar 1,5 juta" ungkap Razali tadi sore, Selasa 19 Juni 2012. | AT | IS | MB |
"Ganti rugi tanaman saya tidak sesuai, saya rugi 45,6 juta lebih hanya dibayar 1,5 juta" ungkap Razali tadi sore, Selasa 19 Juni 2012. | AT | IS | MB |


0 komentar:
Posting Komentar