News Update :

Warga Terancam, Keuchik Di Sawang Minta Galian C Ditutup, Muspika Letoy

Kamis, 24 Mei 2012




Lhokseumawe | Acehtraffic.com - Banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan oleh aktifitas galian C seperti jembatan Sawang terancam ambruk, bendungan terancam jebol, jalan rusak akibat lalulalang mobil truk pengangkut batu sungai, air sumur mengering hingga aktifitas warga berkebun atau kesawah ikut terganggu karena aliran air berhenti mengairi sawah warga.

Oleh karena permasalahan yang muncul tersebut geuchik dari keempat desa kecamatan Sawang yang merasa paling dirugikan akibat keberadaan galian C tersebut mengirimi surat pernyataan ke Camat untuk ditinjau/di survey kelapangan untuk kemudian ditandatangani pihak kecamatan dan tembusannya dikirim kepihak yang berkompeten.

Salah satu tim muspika yang bertandang melihat dampak daripada galian C, kemarin, Selasa 22 Mei 2012 Ronny, Danramil Sawang mengatakan, “Kita hanya melihat dampaknya saja seperti debit air, bendungan yang ada kemudian masyarakat yang disekitarlah. Danramil Sawang juga akan mencoba bagaimana cara mensiasatinya agar lingkungan disekitar kerusakannya tidak parah. “Kita akan mengajak mereka [galian c] bersama-sama menjaga lingkungan yang ada dengan musyawarah,” ujar Ronny.

Ketika ditanya apakah ada upaya untuk menghentikan gilan C tersebut, Ronny mengakui dirinya tidak berkompeten untuk menjawabnya. “Kalau untuk menghentikan aktifitas mereka saya tidak berkompeten, hanya saja Muspika menghimbau bagaimana upaya daripada pekerja untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Setelah melihat nanti akan kita kirimi surat mengenai kondisi real di lapangan,”ucap Ronny Danramil Sawang.

Tidak jauh dari muspika terdapat beberapa warga dan geuchik yang ikut menemani dan mengantar muspika melihat-lihat dampak yang ditimbulkan galian C. Geuchik Adi gampong Lhok Cut, mengharapkan agar masalah ini dapat diselesaikan ke kecamatan. “Jangan hanya melihat-lihat saja,” komentarnya.

Salah seorang warga gampong Lhok Cut yang juga ikut melihat bersama-sama muspika kepada Reporter Acehtraffic.com menjelaskan, “aset pemerintah yang sedang terancam ada dua diantaranya titi dan bendungan. Pembangunan titi tersebut awalnya pegadaan tanah dilakukan oleh nenek kami. Tanah ditempat berdirinya titi itu dulu sengaja dibeli oleh nenek kami untuk didirikan titi, tetapi sekarang tidak ada perawatan malah diabaikan. Jangan sampai kami menaiki rakit karena dulunya kami naik rakit sebelum jembatan/titi itu ada.”

Sebelumnya camat telah dikirimi surat pernyataan oleh geuchik untuk ditandatangani, dan setelah menerima surat pernyataan tersebut camat bersama unsur muspika turun kelapangan untuk melihat kondisi terkini . Dalam surat pernyataan yang diterima camat oleh geuchik terdapat sebuah kolom tempat tandatangan camat dan lima nama geuchik yang harus menandatanganinya, diantara lima geuchik tersebut hanya geuchik Sawang yang tidak menandatangani surat pernyataan tersebut karena menurut penuturan warga, geuchik Sawang ikut bermain dengan perusahaan yang melakukan galian C di Kecamatan Sawang.

Adapun keempat geuchik yang telah menandatanganinya mengaku karena merasa dirugikan. Beberapa air sumur yang berada di gampong mereka mengering lantaran ketika galian C mengorek untuk mengambil batu kondisi sungai tersebut menjadi dalam maka tak heran seluruh aliran air sungai akan mengalir ke bagian tanah yang lebih dalam sehingga sumur mereka kehilangan mata air.

Maka dari itu ketika melihat tim muspika turun kelapangan, warga antusias mendukung dan ikut menemani tim muspika tersebut. Mereka berharap setelah dilakukan survey oleh tim muspika maka harus ada tindak lanjutnya. “Janganlah hanya melihat-lihat saja,” ujar seorang warga gampong Kubu. Mereka juga berharap agar galian C itu segera ditutup. Yang disedihkan oleh masyarakat tak hanya kemiskinan yang melanda mereka namun juga aset negara yang telah dibangun jangan dirusak dan harus dirawat/dilindungi oleh negara.

Beberapa warga gampong Lhok cut yang ditemui reporter Acehtraffic.com juga berharap agar aktifitas galian C segera ditutup karena mengganggu aliran air sungai yang mengaliri sawahnya. Selain itu Ia juga mengalami nasib serupa dengan warga gampong lainnya di Kecamatan Sawang air sumur mereka mengering. Untuk keperluan mandi, cuci hingga menanak nasi warga harus menggunakan air sungai atau kerumah tetangga yang belum terkena dampak galian C. Selain itu aktifitas warga meraup sedikit rupiah di sungai juga terganggu meski tidak sepenuhnya aktifitas mereka terhenti namun aktifitas warga tidak lagi leluasa seperti sebelum galian C muncul.

Mengenai tenaga kerja yang diserap oleh galian C ini beberapa warga mengaku tidak membawa keuntungan bagi mereka karena tenaga mereka tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekuatan Becho milik PT Abad Jaya sehingga menurut mereka galian C tidak menyerap tenaga kerja yang berasal dari Kecamatan Sawang dan jika adapun menurutnya itu hanya segelintir/sebagian kecil saja.




Dari beberapa warga yang tinggal di empat desa kecamatan Sawang seluruhnya berharap kepada pihak terkait agar segera menghentikan aktifitas Galian C. Sementara warga Blang Tarakan tidak bisa berbuat apa apa lantaran pelaku pengrusakan alam tersebut dilakukan oleh kepala desa gampong tersebut. “kalau kita permasalahkan nanti saya bakal dipermasalahkan” ungkap warga Gampong itu. | AT | HR |



Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016