Lhokseumawe | Acehtraffic.com - Banyaknya
dampak negatif yang ditimbulkan oleh aktifitas galian C seperti jembatan Sawang
terancam ambruk, bendungan terancam jebol, jalan rusak akibat lalulalang mobil
truk pengangkut batu sungai, air sumur mengering hingga aktifitas warga
berkebun atau kesawah ikut terganggu karena aliran air berhenti mengairi sawah
warga.
Oleh karena permasalahan yang
muncul tersebut geuchik dari keempat desa kecamatan Sawang yang merasa paling
dirugikan akibat keberadaan galian C tersebut mengirimi surat pernyataan ke Camat
untuk ditinjau/di survey kelapangan untuk kemudian ditandatangani pihak
kecamatan dan tembusannya dikirim kepihak yang berkompeten.
Salah satu tim muspika yang
bertandang melihat dampak daripada galian C, kemarin, Selasa 22 Mei 2012 Ronny,
Danramil Sawang mengatakan, “Kita hanya melihat dampaknya saja seperti debit
air, bendungan yang ada kemudian masyarakat yang disekitarlah. Danramil Sawang
juga akan mencoba bagaimana cara mensiasatinya agar lingkungan disekitar
kerusakannya tidak parah. “Kita akan mengajak mereka [galian c] bersama-sama
menjaga lingkungan yang ada dengan musyawarah,” ujar Ronny.
Ketika ditanya apakah ada upaya
untuk menghentikan gilan C tersebut, Ronny mengakui dirinya tidak berkompeten
untuk menjawabnya. “Kalau untuk menghentikan aktifitas mereka saya tidak
berkompeten, hanya saja Muspika menghimbau bagaimana upaya daripada pekerja
untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Setelah melihat nanti akan kita kirimi
surat mengenai kondisi real di lapangan,”ucap Ronny Danramil Sawang.
Tidak jauh dari muspika terdapat
beberapa warga dan geuchik yang ikut menemani dan mengantar muspika
melihat-lihat dampak yang ditimbulkan galian C. Geuchik Adi gampong Lhok Cut, mengharapkan
agar masalah ini dapat diselesaikan ke kecamatan. “Jangan hanya melihat-lihat
saja,” komentarnya.
Salah seorang warga gampong Lhok
Cut yang juga ikut melihat bersama-sama muspika kepada Reporter Acehtraffic.com
menjelaskan, “aset pemerintah yang sedang terancam ada dua diantaranya titi dan
bendungan. Pembangunan titi tersebut awalnya pegadaan tanah dilakukan oleh
nenek kami. Tanah ditempat berdirinya titi itu dulu sengaja dibeli oleh nenek
kami untuk didirikan titi, tetapi sekarang tidak ada perawatan malah diabaikan.
Jangan sampai kami menaiki rakit karena dulunya kami naik rakit sebelum
jembatan/titi itu ada.”
Sebelumnya camat telah dikirimi
surat pernyataan oleh geuchik untuk ditandatangani, dan setelah menerima surat
pernyataan tersebut camat bersama unsur muspika turun kelapangan untuk melihat
kondisi terkini . Dalam surat pernyataan yang diterima camat oleh geuchik
terdapat sebuah kolom tempat tandatangan camat dan lima nama geuchik yang harus
menandatanganinya, diantara lima geuchik tersebut hanya geuchik Sawang yang
tidak menandatangani surat pernyataan tersebut karena menurut penuturan warga,
geuchik Sawang ikut bermain dengan perusahaan yang melakukan galian C di
Kecamatan Sawang.
Adapun keempat geuchik yang telah
menandatanganinya mengaku karena merasa dirugikan. Beberapa air sumur yang
berada di gampong mereka mengering lantaran ketika galian C mengorek untuk
mengambil batu kondisi sungai tersebut menjadi dalam maka tak heran seluruh
aliran air sungai akan mengalir ke bagian tanah yang lebih dalam sehingga sumur
mereka kehilangan mata air.
Maka dari itu ketika melihat tim
muspika turun kelapangan, warga antusias mendukung dan ikut menemani tim
muspika tersebut. Mereka berharap setelah dilakukan survey oleh tim muspika
maka harus ada tindak lanjutnya. “Janganlah hanya melihat-lihat saja,” ujar
seorang warga gampong Kubu. Mereka juga berharap agar galian C itu segera ditutup.
Yang disedihkan oleh masyarakat tak hanya kemiskinan yang melanda mereka namun
juga aset negara yang telah dibangun jangan dirusak dan harus
dirawat/dilindungi oleh negara.
Beberapa warga gampong Lhok cut yang
ditemui reporter Acehtraffic.com juga berharap agar aktifitas galian C segera
ditutup karena mengganggu aliran air sungai yang mengaliri sawahnya. Selain itu
Ia juga mengalami nasib serupa dengan warga gampong lainnya di Kecamatan Sawang
air sumur mereka mengering. Untuk keperluan mandi, cuci hingga menanak nasi
warga harus menggunakan air sungai atau kerumah tetangga yang belum terkena
dampak galian C. Selain itu aktifitas warga meraup sedikit rupiah di sungai
juga terganggu meski tidak sepenuhnya aktifitas mereka terhenti namun aktifitas
warga tidak lagi leluasa seperti sebelum galian C muncul.
Mengenai tenaga kerja yang
diserap oleh galian C ini beberapa warga mengaku tidak membawa keuntungan bagi
mereka karena tenaga mereka tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan
kekuatan Becho milik PT Abad Jaya sehingga menurut mereka galian C tidak
menyerap tenaga kerja yang berasal dari Kecamatan Sawang dan jika adapun
menurutnya itu hanya segelintir/sebagian kecil saja.
Dari beberapa warga yang tinggal
di empat desa kecamatan Sawang seluruhnya berharap kepada pihak terkait agar
segera menghentikan aktifitas Galian C. Sementara warga Blang Tarakan tidak
bisa berbuat apa apa lantaran pelaku pengrusakan alam tersebut dilakukan oleh
kepala desa gampong tersebut. “kalau kita permasalahkan nanti saya bakal
dipermasalahkan” ungkap warga Gampong itu. | AT | HR |
.JPG)


0 komentar:
Posting Komentar