Aceh Utara | Acehtraffic.com - Pilkada
tinggal menunggu hari namun kekerasan menjelang pilkada belum juga reda. Ancaman
dan intimidasi bagaikan sandiwara kelam mewarnai panggung demokrasi pilkada
damai Aceh. Di awali dengan penembakan yang kemudian disertai dengan menebar
teror kerumah lawan kandidat dengan molotov, membakar mobil pasangan kandidat
lain, pelemparan batu dan penganiayaan dengan pengroyokan.
Seperti yang terjadi kemarin
malam, Sabtu, 31 Maret 2012 sekitar pukul 19.15.00 WIB seorang warga M Yuaini
[46] yang berasal dari desa Ceumeucet, Kecamatan Kuta Makmur Kabupaten aceh
Utara dikeroyok oleh sekelompok orang didepan kantor PA di desa Cot seutui
Kemukiman Beureughang karena diduga timses Rahul calon Bupati Aceh Utara.
Pengroyokan itu terjadi ketika M Yuaini beranjak pulang dari Keude Krueng menuju ke kediamannya dengan
mengendarai sepeda motor yamaha Vixion berwarna merah seorang diri. Ketika melewati
depan kantor PA, salah seorang dari kerumunan yang baru saja pulang kampanye
dari depan kantor PA salah seorang tersebut meneriakinya, “hoi...Pukoima keuh [bahasa kotor] timses Rahul pengkhianat,” maki orang tersebut terhadap M Yuaini yang lewat
didepan kantor PA itu.
Mendengar teriakan makian
tersebut M Yuaini tidak menggubrisnya dengan langsung melajukan sepeda motornya. Lalu
entah karena jengkel tidak mendapatkan respon dari M Yuaini, segerombolan orang
yang diduga baru pulang dari kampanye PA ini langsung mengejarnya dengan
mengendarai puluha sepeda motor. Ketika posisi antara gerombolan orang tersebut M Yuaini diapit diantara kedua sisi, lalu diantara mereka memukul kepala bagian
belakang yuaini dan yang lainnya menendang sepeda motor Yuaini hingga terjungkal
ke badan jalan.
Belum sempat M Yuaini bangun
segerombolan orang tadi langsung menganiayanya, bahkan menurut Yuaini dia
merasakan sebuah batu menghantam kepalanya hingga bocor dan di ikuti dengan
tendangan-tendangan para sempalan tersebut bahkan hingga menginjak-nginjak
tubuh dan kepala Yuaini sembari meneriaki, “poh matee, [bunuh sampai mati],”
kata beberapa orang yang ikut mengeroyok menyemangati.
Lalu diantara para pengroyokan
tersebut muncul Azhar [40] dan Amirrudin [45] Geuchik desa setempat untuk
melerai. “Bek kapoh le - bek ka poh le,[jangan dipukul lagi-jangan dipukul
lagi], ka sep - ka sep, [sudah cukup-sudah cukup],” ujar Azhar. Menurut penuturan
Yuaini, Azhar dan Amirrudin adalah anggota Partai Aceh. Dengan bantuan Azhar, Yuaini diantar hingga kerumahnya begitupun dengan sepeda motor Vixion yang
dikendarainya.
Sesampainya dirumah Azhar pun
meminta izin untuk pamit, lalu M Yuaini menghubungi sahabatnya Rahul yang calon
Bupati tersebut menceritakan perihal kejadian yang dialaminya. Prihatin dengan
kondisi sahabatnya Rahul segera mengirim pengawal pribadinya yang juga seorang
polisi di wilayah Aceh Utara beserta supir pribadinya untuk menjemput Yuaini
dirumahnya agar membuat pengaduan ke Polres Lhokseumawe.
Ketika sampai di Polres
Lhokseumawe sekitar pukul 21.00 WIB, M Yuaini disarankan agar segera kerumah sakit
untuk divisum. Bersama rombongan timses Irwandi dan beberapa timses Rahul yang
sudah berada didepan halaman Polres Lhokseumawe M Yuaini di bawa ke Kesrem Lhokseumawe dan kembali lagi ke Polres Lhokseumawe pukul 21.30 WIB untuk
memberikan keterangan.
Ketika petugas kepolisian yang
menerima laporan M Yuaini menanyakan apakah korban mengenal pelaku pengroyokan? M Yuaini menjawab bahwa tak satupun pelaku pengroyokan tersebut dikenalnya,
karena dia dipukuli dari belakang ketika sedang mengendarai sepeda motor dan
jatuh ke aspal setelah Vixion yang dikendarainya ditendang dengan keras.
Ketika dianiaya oleh puluhan orang tersebut tangan yuaini berupaya melindungi kepalanya dari tendangan dengan mensilangkan kedua tangannya sehingga pandangannya tidak begitu luas. Namun dia mengakui bahwa jika dia bertemu dengan orang yang memukulnya dia masih dapat mengenali wajah pelaku.
Ketika dianiaya oleh puluhan orang tersebut tangan yuaini berupaya melindungi kepalanya dari tendangan dengan mensilangkan kedua tangannya sehingga pandangannya tidak begitu luas. Namun dia mengakui bahwa jika dia bertemu dengan orang yang memukulnya dia masih dapat mengenali wajah pelaku.
“Siapa yang melakukan pengroyokan
saya tidak kenal tapi yang melerai saya kenal. Tanyakan saja pada Azhar dan
Amirrudin karena tak mungkin mereka tidak mengenal pelaku karena mereka yang
melerai dan mereka juga orang PA,” kata M Yuaini di ruang kasat reskrim kemarin
malam, Sabtu, 31 maret 2012.
“Yang sipak-sipak yang bloeh-bloeh,[yang tendang-tendang, yang injak-injak]” ujar M Yuaini.
“Yang sipak-sipak yang bloeh-bloeh,[yang tendang-tendang, yang injak-injak]” ujar M Yuaini.
Lalu ketika polisi yang melayani
laporan M Yuaini menanyakan apakah ketika diserang pelaku menggunakan pakaian PA
atau atribut PA? M Yuaini menjawab bahwa mereka memakai pakaian biasa dan tidak
ada atribut PA. Dia juga mengaku bahwa setelah dikeroyok dia juga sempat
diancam.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lhokseumawe AKP Galih Indra Giri mengatakan pihaknya sudah menerima laporan pengaduan dari M Yuaini [46]. “Laporan pengaduan itu tentu kita tindak lanjuti sesuai prosedur berlaku. Saat ini pelapor atau saksi korban sedang dimintai keterangan tentang kejadian yang menimpanya,” kata Galih Indra Giri, kemarin malam, Sabtu 31 Maret 2012.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lhokseumawe AKP Galih Indra Giri mengatakan pihaknya sudah menerima laporan pengaduan dari M Yuaini [46]. “Laporan pengaduan itu tentu kita tindak lanjuti sesuai prosedur berlaku. Saat ini pelapor atau saksi korban sedang dimintai keterangan tentang kejadian yang menimpanya,” kata Galih Indra Giri, kemarin malam, Sabtu 31 Maret 2012.
Ketika pemeriksaan telah berjalan
selama 2 jam yakni yang dimulai dari pukul 21.30 WIB – 23.30 WIB, sekujur tubuh M Yuaini mendadak sakit dan langsung pitam karena lamanya proses pelaporan dengan
banyak macam pertanyaan dari pihak kepolisian.
“AC tega that ulee ka mumang han
ek lee lon duek. [Suhu AC sangat dingin, kepala sudah pening, saya tidak
sanggup lagi duduk]. Neu bie keu lon ie dua neuk. [Tolong berikan saya segelas
air],” pintanya, kali ini suaranya terdengar gemetar berselang beberapa detik
kemudian M Yuaini yang sedari tadi belum makan langsung pitam. “Ka pitam lon
[sudah pitam saya],” ujar M Yuaini yang langsung berbaring disofa yang ada
didalam ruangan kasat reskrim.
