
Acehtraffic.com - Apa rasanya, jika seorang ibu yang sedang berniat hamil, lantas kemudian menerima kenyataan bahwa ia sudah dibuat mandul tanpa sepengetahuannya? Ya, inilah yang dialami oleh wanita-wanita di Uzbekistan.
Kasus yang telah tercium dunia Internasional pada tahun 2003 kemarin, kembali terjadi lagi di negara miskin Asia Tengah eks negara Soviet, Uzbekistan. Dengan jumlah populasi 28 juta jiwa, pemimpinnya yang terkenal otoriter, Karimov menetapkan peraturan sterilisasi kepada wanita subur di Rumah Sakit-Rumah Sakit pemerintah untuk menekan pertumbuhan rakyatnya sendiri.
Wanita-wanita ini mengalami sterilisasi, atau dengan kata lain dibuat tidak bisa hamil, tanpa persetujuan atau di luar sepengetahuan mereka. Begitulah hasil investigasi Natalia Antelava, wartawan BBC untuk kawasan Asia Tengah. Sterilisasi ini tampaknya merupakan program rahasia yang dijalankan demi membatasi angka kelahiran di Uzbekistan.
Dari keterangan sebuah LSM, ada 80.000 orang wanita yang mengaku menjadi korban sterilisasi tahun 2010 lalu. Salah seorang wanita korban program sterilisasi rahasia di Uzbekistan adalah Adolat. Ia baru tahu tentang kondisinya yang tidak bisa punya anak lagi setelah seorang dokter ahli memberi penjelasan.
Mengetahui hal tersebut, Adolat sangat sedih. Ia harus puas dengan 2 anak saja. “Saya mencoba hamil setelah anak kedua saya lahir. Namun upaya saya selalu gagal. Belakangan saya tahu, saya diam-diam disterilisasi,” kata Adolat kepada BBC.
Ada banyak wanita-wanita seperti Adolat di Uzbekistan. Sterilisasi dilakukan tidak selalu dengan cara yang sama. Bisa dengan menyumbat tuba fallopi, atau juga mengangkat rahim wanita-wanita tersebut setelah melahirkan anak kedua atau ketiga. Proses ini dilakukan setelah persalinan, tanpa sepengetahuan/ persetujuan yang bersangkutan.
Beberapa dokter mengakui bahwa ada perintah dari Kementerian Kesehatan untuk memenuhi target program sterilisasi setiap bulannya. Sebanyak 32 wanita di pedesaan ditargetkan steril setiap bulan, sedangkan di perkotaan target sterilisasi adalah 4 wanita per bulan. Hal ini dibantah oleh pemerintah Uzbekistan.
Meskipun ada keterangan-keterangan dari berbagai pihak sebagai bukti, pemerintah Uzbekistan tetap menyatakan tidak ada program sterilisasi yang dijalankan.
Dampak atas kehilangan kemampuan untuk menghasilkan keturunan di kalangan warga Uzbekistan kurang baik bagi kehidupan mereka. Timbul kekhawatiran melahirkan karena takut dibuat steril pasca persalinan. Sebagian wanita diceraikan oleh suaminya setelah diketahui tidak bisa menghasilkan keturunan lagi.
Para aktivis HAM Uzbek mengatakan, "Sterilisasi massa dimulai pada 2003, namun mereda setelah dua tahun setelah protes. Namun kemudian dimulai kembali pada bulan Februari tahun 2012 ini, ketika Kementerian Kesehatan memerintahkan para dokter untuk merekomendasikan sterilisasi sebagai kontrasepsi "efektif". Pada tahun 2010 saja 80.000 wanita mengakui disterilisasi.
Namun angka ini dibantah pemerintah Uzbekistan yang mengatakan mereka tidak menerapkan kebijakan tersebut. Namun sebuah laporan Komite PBB yang menentang penyiksaan, menyebutkan ini merupakan salah satu kasus besar kemanusiaan. Menurut PBB, tingkat kesuburan Uzbekistan telah turun dari 4,4 bayi per wanita menjadi 2,5 bayi per wanita sejak Karimov berkuasa.
Kalau pemerintah benar-benar berada dibalik kasus sterilisasi ini, sungguh langkah yang sangat tidak bijak dan tak manusiawi rasanya. (MZ) | BBC/Uniqpost.com/HalloRiau

0 komentar:
Posting Komentar