
Mungkin berita ini bisa menambah referensi anda untuk melihat secara riil kondisi pilkada Aceh.
Dalam laporan media thejakartaglobe.com, Selasa 24 April 2012. Polisi menyebutkan Ayah Banta, bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka, terlibat dalam delapan kasus kekerasan bersenjata di Aceh.
Seorang
penyidik polisi yang tidak mau disebutkan namanya menyebutkan, pelaku
terhadap serangkaian kasus kekerasan bersenjata itu melibatkan Ayah
Banta alias Vikram dan Joni. Mereka ditangkap polisi pada 14 April lalu.
|||
“Mereka terlibat dalam delapan kasus kekerasan di delapan lokasi yang berbeda,” kata sumber polisi di Detasemen 88 Antiteror seperti dikutip thejakartaglobe.com, Selasa 24 April 2012.
Menurut dia, Ayah Banta terlibat dalam penembakan pekerja di Simpang Aneuk Galong, Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar, pada Januari. Penembakan itu menyebabkan seorang meninggal dan dua lainnya luka-luka.
Ia juga terlibat dalam kasus penembakan bekas kombatan GAM lain yang berseberangan politik.
Ayah Banta juga disebut terkait penembakan seorang pekerja di sebuah toko boneka di Banda Aceh dan penembakan pekerja galian kabel perusahaan telekomunikasi di Bireuen pada malam tahun baru. Dua kasus penembakan ini menyebabkan empat tewas dan tujuh luka serius.
Masih menurut keterangan polisi tadi, keduanya juga terlibat dalam penembakan seorang bekas anggota GAM di Bireuen, akhir 2011 lalu.
|||
Adakah dibalik semua ini untuk membunuh Irwandi Yusuf agar melanggengkan kandidat lain untuk meraih kursi emas Gubernur Aceh?
Simak liputan Majalah TEMPO dengan judul “Bom Gagal untuk Tengku Agam” tayangan ini
adalah salinan yang diketik ulang --- Bom
di Aceh Besar diracik pentolan Gerakan Aceh Merdeka. Bermotif politik menjelang
pemilihan gubernur.
|||
DARI
rerimbun semak, Kamaruddin menyaksikan satu demi satu kendaraan melintasi jalur
Pegunungan Geureutee, Aceh Besar, pada Jumat sore empat pekan lalu. Hingga
konvoi belasan mobil itu menghilang, yang dicarinya tak terlihat: jip Wrangler
Rubicon hijau lumut.
Pria
yang biasa dipanggil Mayor itu menyimpulkan, Irwandi Yusuf, si empunya mobil,
tak ikut dalam iring-iringan. Ketika menjabat Gubernur Aceh, Irwandi sendiri
yang kerap menyetir jip itu.
Tak
menemukan Rubicon pada Jumat sore itu, Kamaruddin urung memijit sakelar bom di
tangannya.
“Pak
Irwandi memang tak ada dalam konvoi,” kata Thamren Ananda, anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Aceh yang juga orang dekat Irwandi, Jumat pekan lalu.
(Thamren adalah Tim sukses bukan anggota DPRA sebagaimana ditulis Majalah
TEMPO)
Menurut
Thamren, semula Irwandi berencana menghadiri pemakaman Tengku Abuya Muhibuddin
Waly al-Khalidi di Labuhan Haji, Aceh Selatan. Sang ulama wafat dua hari
sebelumnya.
Irwandi
mendengar bakal ada yang mencelakainya di tengah jalan Meulaboh-Banda Aceh itu.
Kepada orang-orang yang menanyainya, Irwandi bilang tetap akan pergi ke Labuhan
Haji. “Tapi, ketika mau berangkat, Pak Irwandi malah pulang ke rumah,” ujar
Thamren.
Informasi
itu tak sampai ke telinga Mayor. Bersama Mansur alias Mancuk, Rizal Mustaqim,
Usria alias Us, Sulaiman alias Ule Bara, dan Jamaluddin alias Dugok, ia tetap
menunggu Irwandi di jalan itu. Selain menanam empat bom pipa, keenam orang itu
menyiapkan dua AK-47.
“Untuk
menyiram konvoi setelah bom meledak,” kata laki-laki 30 tahun itu ketika
diperiksa polisi, seperti ditirukan penyidik di Kepolisian Daerah Aceh.
Menurut
sumber itu, setelah konvoi lewat, Kamaruddin dan kawan-kawan mendengar kabar
baru: sebetulnya Irwandi ikut dalam rombongan, tapi menunggang mobil lain.
Merutuki kekeliruannya, Kamaruddin berkukuh menjalankan rencana semula.
Bom
akan diledakkan malam itu, ketika rombongan pulang dari Labuhan Haji. Mayor
meminta Mansur dan Rizal Mustaqim menemaninya. Adapun Usria, Sulaiman, dan
Jamaluddin, ia suruh pulang ke Aceh Utara, kampung mereka.
Ditunggu
hingga lewat tengah malam, iring-iringan mobil yang tadi tak terlihat melintas
lagi.
“Rombongan
pulang mengambil jalan lain,” kata polisi. Gagal lagi, Kamaruddin mengubur dua
senapan AK-47 tak jauh dari lokasi bom ditanam. Kamaruddin dan dua anaknya
meluncur ke arah Banda Aceh dengan Daihatsu Terios hitam. Kamis pekan lalu,
senjata itu baru ditemukan polisi.
Malam
itu polisi bergerak cepat. Sekitar pukul 02.00, Sabtu dinihari, Terios hitam
disergap di Desa Meunasah Lhok, Lhoong, Aceh Besar, tak jauh dari titik jalan
yang ditanami bom.
Dengan
kedua tangan tergari ke belakang, Mayor kabur ketika hendak digiring ke mobil.
Ia ditangkap warga Meunasah, yang menyangka ia pencuri yang kabur dari kantor
polisi, tak lama kemudian.
Terpisah
ratusan kilometer, subuh itu polisi juga menangkap Usria, Sulaiman, dan
Jamaluddin, yang baru tiba di Aceh Utara. Dua hari kemudian, mereka berenam
diterbangkan ke Jakarta.
Polisi
belum mau menyimpulkan hubungan bom dengan pemilihan Gubernur Aceh, yang akan
digelar Senin pekan depan. “Masih dalam penyelidikan,” kata juru bicara Markas
Besar Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution.
Setelah
insiden bom gagal itu, teror di Aceh sepanjang Desember-Januari lalu mulai
terurai.
Kepada
polisi, kelompok Kamaruddin mengaku sebagai pelaku penembakan di mes Telkom,
Bireuen, pada 31 Desember tahun lalu. Ketika itu sepuluh penggali kabel
dihujani peluru oleh orang tak dikenal.
Tiga
tewas, sisanya harus menginap di rumah sakit karena luka tembak. Kelompok
Kamaruddin juga mengaku terlibat dalam empat penembakan lainnya.
Menenteng
AK-47, yang belakangan dikubur di Aceh Besar, Kamaruddin dan Jamaluddin menjadi
eksekutor dalam setiap penembakan. Kepada polisi, mereka mengatakan senapan
berasal dari zaman sebelum perjanjian Helsinki.
Dia
merencanakan dan memilih targetnya di sebuah rumah toko di Cot Matahe, Aceh
Utara—lokasi penangkapan Usria, Sulaiman, dan Jamaluddin. Di sana pula
pembunuhan Tengku Agam—panggilan Irwandi—direncanakan.
Dari
sinilah muncul nama Vikram Hasbi alias Ayah Banta. Menurut polisi, Vikram otak
pengeboman yang gagal di Aceh Besar.
Pada
akhir Februari hingga awal Maret, di rumah toko Cot Matahe, Vikram bersama
Kamaruddin, Jamaluddin, Rizal, dan Mansyur meracik empat bom pipa—panjang 50
sentimeter dan berdiameter 15 sentimeter—yang bisa diledakkan dari jarak jauh
dengan sakelar yang dihubungkan kabel. Vikram pula yang menanggung biaya
perakitan bom.
Vikram
bukan orang baru. Ia sudah dipelototi polisi sejak 2003. Tahun itu, ada tiga
bom yang meledak di Jakarta, yang diduga melibatkan Vikram. Bom pertama meletus
di belakang kantor perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 24 April.
Empat
hari kemudian, bom meletus di Terminal II F Bandar Udara Soekarno-Hatta. Bom
juga mengguncang gedung MPR/DPR pada 14 Juli tahun itu. Menilik jeroan bom,
polisi menyimpulkan pelaku adalah kelompok yang sama: Gerakan Aceh Merdeka.
Setelah
peristiwa itu, nama Vikram ”harum” di antara pengikut Gerakan Aceh Merdeka.
Apalagi ia tak ikut terseret masuk pengadilan. Ketika itu bukti-bukti yang
mengaitkan Vikram dengan bom-bom tadi amat tipis. Meski efek ledakan di tiga
tempat tadi tak besar, pria 45 tahun itu dianggap berhasil menembus Ibu Kota.
Di
dalam GAM, Vikram disebut-sebut pernah menjabat komandan pasukan bom wilayah
Pasee. Ilmu meracik bom ia peroleh dari Ahmad Kandang, pentolan Gerakan yang
dikabarkan tewas di Paya Bakong, Aceh Utara, pada 2011. Sepeninggal Ahmad
Kandang, Vikram mewarisi pasukan bom.
Pada
2007, Vikram membangun ratusan hektare kebun di kawasan Geureundong, Aceh
Utara, yang digarap sejumlah bekas anggota pasukan GAM. Belakangan ia menjadi
koordinator tim sukses Partai Aceh di sana.
Irwandi
Yusuf mengatakan rencana pengeboman dan teror belakangan ini dilakukan
musuh-musuh politiknya untuk menyingkirkannya dari pemilihan Gubernur Aceh.
Di
depan pendukungnya di Peusangan, Bireuen, pada Ahad dua pekan lalu, calon
gubernur independen ini menyebut dirinya sebagai sasaran teror. “Mereka
merencanakan pembunuhan terhadap saya,” katanya.
Kini,
setelah Kamaruddin dan kawan-kawan diringkus, Vikram seolah-olah ditelan bumi.
Ia tak pernah terlihat lagi dalam acara-acara partai, termasuk kampanye calon
gubernur Partai Aceh, Zaini Abdullah-Muzakir Manaf.
Polisi
kini memburunya. Sejumlah anak buah Vikram yang dikontak Tempo bungkam
soal keberadaan bosnya. Ketua Partai Aceh Utara Tengku Zulkarnaini Hamzah irit
bicara mengenai keterlibatan Vikram dalam sejumlah teror. “Saya tidak tahu soal
itu,” katanya singkat.
Pengurus
pusat Partai Aceh yang juga wakil ketua fraksi partai itu di Dewan Perwakilan
Rakyat Aceh, Abdullah Saleh, menyangkal keberadaan Vikram di partainya.
“Saya
tak ingat orangnya yang mana,” ujarnya. Ia mengatakan tak ada perintah
partai untuk menakut-nakuti kontestan lain menjelang pemilihan Gubernur Aceh. |
Sumber Majalah TEMPO



0 komentar:
Posting Komentar