News Update :

Diteror & Intimidasi, Calon Ngadu Pada Pemantau Asing "Parlok Ngancam, Lebih Kejam Dari Yahudi"

Minggu, 08 April 2012






Lhokseumawe | Acehtraffic.com - Para kandidat Bupati Aceh Utara melaporkan ke pemantau asing tentang pelaksanaan pilkada di Aceh yang tidak sehat. Mereka menilai teror dan intimidasi terus terjadi menjelang hari pemungutan suara.

Hal ini diungkapkan oleh kandidat Bupati Aceh Utara Umar HN, Ilyas A Hamid alias Ilyas Pase dan Sulaiman Ibrahim saat melaporkan ke pemantau internasional dari Asian Network for Free Elections (ANFREL), Witt Alexander Gatchhell, ketika mendatangi mereka untuk memperoleh masukan terkait pelaksanaan Pemilukada 2012, Sabtu 7 April 2012.

Mulanya, Witt Alexander Gatchhell didampingi penerjemah bahasa Inggris, Azhar, menjumpai Umar HN di posko tim pemenangan kandidat nomor urut 3 ini, di Mongeudong, Lhokseumawe. Sejak jauh hari lalu, juga selama masa kampanye dan sampai sekarang, kata Umar HN, intimidasi masih marak terjadi di Aceh Utara yang dilakukan pihak tertentu.

“Perkiraan saya, intimidasi dan teror akan semakin parah pada malam sampai dinihari 9 April nanti. Pihak keamanan mesti mewaspadai ini, memberi perlindungan untuk masyarakat dengan meningkatkan patroli ke gampong-gampong. Kalau tidak maka kita khawatirkan terjadi kekerasan yang merugikan masyarakat, mencederai Pemilukada Damai,” kata Umar HN.

Pernyataan hampir sama disampaikan Ilyas Pase saat ditemui Witt Alexander Gatchhell di kediaman cabup Aceh Utara nomor urut 4 ini, di Lancang Garam, Lhokseumawe. “Kampanye tidak lancar karena dihambat dan dihadang oleh orang-orang dari salah satu partai politik lokal. Intimidasi cukup banyak, pelaku bilang, kalau kandidat mereka kalah akan terjadi konflik bersenjata lagi. Timses dan pendukung saya juga diancam dan dianiaya,” katanya.

“Ada beberapa saksi saya sudah minta mundur karena merasa terancam. Sebagian timses saya tidak berani pulang ke rumah. Tadi dinihari (Sabtu) juga terjadi teror terhadap timses saya di Baktya Barat, sebelumnya di Simpang Kramat dan Kuta Makmur. Mereka (pelaku) melakukan itu karena takut kalah,” kata Ilyas Pase.

Ketika ditanya oleh pemantau asing dari Thailand itu, apakah sudah melaporkan kasus-kasus tersebut ke Panwaslu, Ilyas Pase menyebutkan, “Sudah. Seharusnya, penyelenggara Pemilu bisa mencegah kekerasan terhadap Timses dan pendukung kandidat, tapi saya lihat penyelenggara pemilu juga ketakutan, sehingga tidak ada tindakan yang konkrit”.

Menurut Ilyas Pase, salah satu cara agar tidak terjadi teror dan intimidasi pada malam hingga dinihari 9 April nanti, polisi harus mengerahkan kekuatan dalam jumlah besar ke tengah masyarakat dan berani menindak tegas para pelaku. “Sebab pelaku menyusup ke masyarakat, menakuti warga agar memilih kandidat mereka. Kalau seperti ini, rakyat tidak bisa memilih sesuai keinginannya,” kata mantan Bupati Aceh Utara ini.

Cabup Aceh Utara nomor urut 9, Sulaiman Ibrahim juga melaporkan ke pemantau asing itu di lapangan terus terjadi bentrok dari sembilan kandidat kontra Timses satu kandidat lainnya yang menjadi pengacau situasi Pemilukada. “Mereka mengancam tembak, bakar rumah Timses dan pendukung kami. Kalau situasi begini, tidak perlu Pemilukada di Aceh,” kata Sulaiman Ibrahim didampingi pasangannya T Syarifuddin di posko pemenangan mereka di Lhokseumawe.

Sulaiman Ibrahim menambahkan, para pelaku teror di Aceh memiliki banyak senjata api ilegal sehingga mereka sudah seperti teroris. Mestinya, kata pengusaha sukses ini, Polri menurunkan tim Densus 88 untuk memburu semua senjata apil ilegal di Aceh, baru kemudian dilaksanakan Pemilukada. “Mereka mengancam tim kami tiap malam, lebih kejam dari Yahudi,” katanya. | AT | HA | Laporan Irmansyah |
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016