
Irwandi secara terbuka mengkritik kinerja Kapolda Aceh, Irjen Iskandar Hasan yang terkesan menutup-nutupi hasil penangkapan dan penemuan-penemuan Densus 88 yang menyebutkan adanya motif kejahatan ekonomi. Akan tetapi tidak berani memberitakan siapa pelakunya, dan Irwandi menduga Kapolda seperti berpihak kepada pelaku.
Selaku kandidat, Irwandi mengaku jiwanya terancam terlebih setelah Densus 88 pada Sabtu 10 Maret 2012 mengamankan tiga orang membawa lima bom rakitan di Lhoong Aceh Besar yang ditargetkan untuk membunuhnya. “Perintah untuk menghabisi saya dan kawan-kawan adalah terstruktur dan setidaknya diketahui kandidat mereka, karena itu semua demi kandidat juga,” kata Irwandi.
Sikap diam pejabat Polri ini juga dikritik analis politik dan keamanan Aceh, Arios Nivana, meski ia menilai rentetan kejadian itu bagian dilema pihak kepolisian dalam menuntaskan kasus teror dan kriminalitas bernuansa politik di Aceh. “Saya menilai Polda Aceh memiliki beban psikologis memposisikan dalam penuntasan kasus-kasus bernuansa politik,” kata Arios Nivana, hari ini.
Desakan agar kepolisian mengungkapkan ke publik karena aksi-aksi Densus 88 di Aceh dengan aksi penangkapan dan penggerebekan, membingungkan publik Aceh, seperti dua peristiwa penggerebekan di Banda Aceh, pada Jum’at 17 Maret 2012 di kediaman Wali Nanggroe Jl Pemancar
Dan Pada Sabtu 18 Maret 2012 malam di
kediaman Mentro Malek. Di duga dalam kejadian tersebut, polisi menyita
sejumlah pucuk senjata api dan amunisi, namun tidak terlihat
penangkapan. Rentetan kejadian yang disaksian warga di dua tempat
kejadian tersebut tidak juga diumumkan ke publik oleh pejabat Polri
Aceh.
Perburuan para pelaku penembakan warga jawa di wilayah sakral milik Partai Aceh itu telah membuat publik resah. Terlebih cara polisi melakukan penangkapan terhadap pelaku yang disebutkan Kepala Divisi Sipil dan Politik, Mardiati dari LBH Banda Aceh sebagai cara-cara brutal dan tidak manusiawi.
Hal tersebut terjadi saat polisi bertindak menangkap Dugok cs Sabtu 10 Maret 2012, tanpa mengunakan asas praduga tidak bersalah. “Kalaupun Dugok cs ditangkap karena diduga sebagai pelaku PT Satya Agung, tetapi penangkapan tidak boleh dilakukan dengan cara melanggar hukum,” papar Mardia dalam pernyataan tertulis.
Pejabat Polri Aceh mengungkapkan Polri saat ini masih memburu sejumlah pelaku teror, setelah sebelumnya Densus 88 menangkap kelompok Dugok cs yang membunuh pekerja kabel optik Telkom asal Jember dan Banyuwangi, Jawa Timur di Kec. Jeumpa, Kab.Bireuren serta penangkapan kelompok Si Mayor cs yang membunuh Saiful Cagee,22 juli 2011.
Mabes Polri saat ini masih terus melakukan pengembangan setelah beberapa kader PA ditangkap karena terlibat pembunuhan pekerja PT Satya Agung di Aceh Utara, Minggu 5 Desember 2011 Polda Aceh telah mengumumkan 6 pelaku yang terlibat dan beberapa nama lain masih disimpan karena polisi harus melakukan pengembangan kasus-kasus kekerasan di Aceh. | AT | Waspada |
Perburuan para pelaku penembakan warga jawa di wilayah sakral milik Partai Aceh itu telah membuat publik resah. Terlebih cara polisi melakukan penangkapan terhadap pelaku yang disebutkan Kepala Divisi Sipil dan Politik, Mardiati dari LBH Banda Aceh sebagai cara-cara brutal dan tidak manusiawi.
Hal tersebut terjadi saat polisi bertindak menangkap Dugok cs Sabtu 10 Maret 2012, tanpa mengunakan asas praduga tidak bersalah. “Kalaupun Dugok cs ditangkap karena diduga sebagai pelaku PT Satya Agung, tetapi penangkapan tidak boleh dilakukan dengan cara melanggar hukum,” papar Mardia dalam pernyataan tertulis.
Pejabat Polri Aceh mengungkapkan Polri saat ini masih memburu sejumlah pelaku teror, setelah sebelumnya Densus 88 menangkap kelompok Dugok cs yang membunuh pekerja kabel optik Telkom asal Jember dan Banyuwangi, Jawa Timur di Kec. Jeumpa, Kab.Bireuren serta penangkapan kelompok Si Mayor cs yang membunuh Saiful Cagee,22 juli 2011.
Mabes Polri saat ini masih terus melakukan pengembangan setelah beberapa kader PA ditangkap karena terlibat pembunuhan pekerja PT Satya Agung di Aceh Utara, Minggu 5 Desember 2011 Polda Aceh telah mengumumkan 6 pelaku yang terlibat dan beberapa nama lain masih disimpan karena polisi harus melakukan pengembangan kasus-kasus kekerasan di Aceh. | AT | Waspada |

0 komentar:
Posting Komentar