Lhokseumawe | Acehtraffic.com - Warga
pesisir desa Hagu Selatan yang menjadi korban keganasan Pemko Lhokseumawe akibat
lambannya pembangunan tanggul pemecah ombak tahun 2009 lalu. Hingga
kini, Selasa, 21 Februari 2012 belum tersentuh bantuan dari pemko Lhokseumawe.
Korban abrasi ini dengan segenap
kemampuannya masih bertahan dirumahnya yang beberapa tahun yang lalu ambruk
akibat abrasi yang ditimbulkan pada saat pembuatan tanggul pemecah ombak sempat
terhenti di Hagu Selatan sehingga desa pesisir ini menjadi pintu masuknya air
laut menghantam puluhan rumah warga.
Tempak tinggal yang tak layak
ini, tidak dilengkapi dengan MCK, atap rumah bocor, tiang-tiang rumah yang
mulai melapuk akibat tergenang air laut dibawahnya meski pun tanggul telah siap
dikerjakan didesa tersebut namun hampir tiap malam ombak laut yang melewati
batu penahan ombak selalu mengorek rumah warga.
Pihak pemerintah seakan
melepaskan tangan ketika reporter acehtraffic.com mencoba menghubungi dengan
melempar tanggung jawab dari satu instansi ke instansi lainnya.
Padahal ketika walikota Lhokseumawe Munir Usman menjenguk korban abraksi ditenda pada tahun 2009 yang lalu, Munir mengatakan “pada hakikatnya ini semua akan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Lhokseumawe.”
Padahal ketika walikota Lhokseumawe Munir Usman menjenguk korban abraksi ditenda pada tahun 2009 yang lalu, Munir mengatakan “pada hakikatnya ini semua akan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Lhokseumawe.”
Kepala dinas sosial dan tenaga
kerja Ridwan Djali mengatakan, “Dinas Sosial menangani korban bencana alam itu
pada saat terjadi bencana. Kalau sesudah itu bukan urusan kami, tanya kepada
yang lebih berkompeten seperti Sekda, Walikota atau Badan Penangulangan
Bencana,” katanya seraya tertawa.
Padahal bantuan yang diberikan
oleh dinas sosial itu pada saat terjadinya abrasi hanya menyumbangkan sekarung
beras dan sembako lainnya yang habis dimakan sehari.
Sedangkan keperluan vital lainnya seperti relokasi ketempat yang baru dengan memberikan tanah atau rumah kepada warga tersebut tidak diberikan.
Malahan untuk membeli tiang-tiang penyangga rumah dan pengobatan akibat cedera tertimpa rumahnya yang ambruk, warga membiayai sendiri pengobatannya dan juga pembelian kayu serta papan bekas untuk mendirikan rumah mereka yang ala kadar.
Sedangkan keperluan vital lainnya seperti relokasi ketempat yang baru dengan memberikan tanah atau rumah kepada warga tersebut tidak diberikan.
Malahan untuk membeli tiang-tiang penyangga rumah dan pengobatan akibat cedera tertimpa rumahnya yang ambruk, warga membiayai sendiri pengobatannya dan juga pembelian kayu serta papan bekas untuk mendirikan rumah mereka yang ala kadar.
Salah seorang janda warga pesisir
Hagu Selatan, Idah [60], Selasa, 21 Februari 2012 menuturkan.
“Berpuluh-puluh tahun tinggal dipinggir laut belum pernah separah ini ombak menghantam rumah kami. Ada pembangunan tanggul malah membuat petaka, setiap malam rumah kami dikorek air,” tuturnya sedih merenungi nasib rumah dan lingkungannya yang kian kotor. | AT | HR |
“Berpuluh-puluh tahun tinggal dipinggir laut belum pernah separah ini ombak menghantam rumah kami. Ada pembangunan tanggul malah membuat petaka, setiap malam rumah kami dikorek air,” tuturnya sedih merenungi nasib rumah dan lingkungannya yang kian kotor. | AT | HR |

0 komentar:
Posting Komentar